Sekar Anindyah Lamase | M. Fuad S.T.
Nova Arianto saat menangani Timnas Indonesia U-17 (pssi.org)
M. Fuad S.T.

Pasukan Garuda Muda Timnas Indonesia U-17 akan mengarungi turnamen level benua di pertengahan tahun 2026 ini.

Berdasarkan jadwal dari AFC, Pasukan Muda Merah Putih akan mentas di turnamen besar bertajuk Piala Asia U-17 di Arab Saudi yang mana akan dimulai pada tanggal 7 hingga 24 Mei 2026.

Sebelum fase pembagian grup dilakukan, Konfederasi Sepak Bola Benua Asia, AFC telah melakukan proses pembagian pot unggulan.

Dari informasi yang didapatkan, Timnas Indonesia U-17 ditempatkan oleh AFC di pot unggulan kedua, bersama dengan tim-tim mapan sekelas Tajikistan, Australia dan Yaman.

Sementara pot unggulan pertama, ditempati oleh tim kuat daratan Asia dan langganan juara turnamen sekelas Korea Selatan, Jepang, Uzbekistan dan tentu saja Arab Saudi selaku tuan rumah.

Seperti yang telah diketahui bersama, menempati pot unggulan kedua jelang proses pembagian grup, tentunya membawa keuntungan yang cukup besar bagi Timnas Indonesia.

Setidaknya, mereka dipastikan akan terhindar dari tim liat sekelas Tajikistan, Yaman dan Australia, serta "hanya" akan bertemu dengan salah satu tim favorit penghuni grup A. 

Sementara dua pesaing lainnya dalam grup, akan berasal dari tim yang berada di pot ketiga dan keempat, yang mana secara kualitas tentu saja tak seberat negara-negara yang berada di pot pertama dan kedua.

Namun sayangnya, segala keuntungan yang didapatkan oleh Skuat Garuda Muda ini justru menimbulkan beban berat bagi pelatih yang menjadi penerus Nova Arianto di kursi kepelatihan Timnas Indonesia U-17.

Pasalnya, posisi Indonesia yang kini berada di pot unggulan kedua ini sendiri tak lepas dari kerja keras pelatih-pelatih sebelumnya. Karena berdasarkan penjelasan dari AFC sendiri, penempatan pot unggulan bagi para kontestan Piala Asia U-17 ini didasarkan pada pencapaian tim di tiga edisi terakhir.

Dengan absennya Timnas Indonesia di gelaran edisi tahun 2023 lalu, maka poin penghitungan yang dipakai oleh AFC tentunya hanya didasarkan pada capaian Indonesia pada gelaran tahun 2018 ketika Indonesia dilatih oleh Fakhri Husaini dan pada edisi 2025 lalu ketika dilatih oleh Nova Arianto.

Namun, dari dua pelatih tersebut, pencapaian Timnas Indonesia di tahun 2025 lalu bersama Nova Arianto menjadi penyumbang poin terbesar yang mana membuat Pasukan Garuda Muda melesat dan masuk dalam jajaran tim unggulan di pot kedua.

Benang merahnya adalah, pencapaian inilah yang akan menjadi beban bagi pelatih selanjutnya, yang mana menurut kabar beredar, akan diserahkan kepada Kurniawan Dwi Yulianto.

Pasalnya, jika Timnas Indonesia U-17 nantinya tak bisa memanfaatkan segala keuntungan yang didapatkannya kali ini,, seperti misal tersingkir secara dini dari turnamen, mereka akans angat mungkin tak akan masuk di pot unggulan pada gelaran edisi selanjutnya.

Imbasnya adalah, Pasukan Garuda Muda akan berada di pot nonunggulan, yang pada akhirnya akan membuat mereka berada satu grup dengan tim-tim kuat daratan Asia dan memperkecil langkahnya untuk terus berprestasi di guliran turnamen.

Karena apa? Tentu karena kita tahu dengan menempati pot unggulan ketiga atau keempat, Indonesia akan berada dengan tim-tim kuat Asia yang masuk dalam kelompok unggulan pertama dan kedua di drawing pembagian grup edisi mendatang.

Mau tak mau, sang suksesor Nova Arianto di kursi kepelatihan Timnas Indonesia U-17, setidaknya harus mampu menyamai prestasi sang pendahulu dengan lolos ke fase gugur turnamen untuk tetap menjaga koefisien poin tetap tinggi sehingga tetap masuk ke pot unggulan pertama atau kedua.

Jadi, pada intinya, pergantian pelatih dari Nova Arianto kepada Kurniawan Dwi Yulianto meninggalkan sebuah beban tersendiri, di mana sang pelatih anyar dituntut untuk setidaknya menyamai capaian coach Nova, setidaknya untuk menghindarkan Indonesia dari lawan-lawan berat di fase grup pada gelaran selanjutnya.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS