Hayuning Ratri Hapsari | Desyta Rina Marta Guritno
Pecco Bagnaia (Instagram/@Pecco63)
Desyta Rina Marta Guritno

Pembalap Ducati Lenovo, Pecco Bagnaia, menjalani balapan yang sulit di GP Thailand 2026 kemarin. Bagaimana tidak? Sejak sesi hari Jumat, Pecco gagal lolos ke Q2 dan hanya mampu mengamankan start dari P13 saat sesi kualifikasi

Atas catatan negatif ini, Pecco mengatakan bahwa dirinya tidak bisa beradaptasi dengan kondisi lintasan di hari Sabtu.

"Sulit untuk dijelaskan. Lintasan balapnya sama, motornya juga sama. Kondisi memang sedang berubah dan saya tidak mampu memahaminya, tidak mampu memanfaatkan sebagaimana mestinya, tapi itu kesalahan saya," ujar Pecco, dilansir dari laman Crash.

Dengan start yang buruk, dia hanya mampu finis di P9 pada balapan sprint dan Grand Prix. Performa Pecco Bagnaia ini meneruskan catatan buruknya sejak musim lalu, di mana dia terus bermasalah dengan motor GP25.

Namun, yang perlu diperhatikan lagi adalah kondisi Ducati yang saat ini juga memprihatinkan. Ducati mengalami penurunan performa yang signifikan di awal musim 2026, tepatnya di seri pembuka GP Thailand.

Di balapan Grand Prix, tidak ada satu pun pembalap dari pabrikan ini yang berhasil naik podium. 4 dari 6 pembalap Ducati finis di luar 5 besar, sedangkan 2 lainnya, yakni Marc dan Marquez gagal finis. Fabio Di Giannantonio adalah jagoan Ducati tercepat dengan finis di P6.

Di sesi sprint race juga tak beda jauh, Marc Marquez yang seharusnya naik podium tertinggi harus turun 1 posisi setelah dihukum oleh Stewards, lalu merelakan podium 1 untuk Pedro Acosta yang sejak awal balapan sudah membuntutinya.

Melihat penampilan Ducati sebelumnya, tim yang bermarkas di Borgo Panigale ini telah mendominasi MotoGP setidaknya 4 musim terakhir, tepatnya mulai mereka memenangkan kejuaraan dunia pembalap dan konstruktor bersama Pecco Bagnaia pada tahun 2022.

Selama itu juga, mereka memiliki rekor naik podium dalam 88 balapan beturut-turut, tapi catatan tersebut terhenti di GP Thailand 2026 kemarin. Tentu saja, hal ini menimbulkan tanda tanya besar, kenapa performa mereka merosot secara tiba-tiba?

Secara keseluruhan, KTM dan Aprilia-lah yang berkuasa di Buriram. Pedro Acosta dan Marco Bezzecchi terus memberikan tekanan untuk bisa mendapatkan posisi terdepan. Belum lagi ada Jorge Martin dan Raul Fernandez yang juga berebut posisi 3.

Melansir dari laman MotoGP News, Pecco Bagnaia mengaku pada jurnalis Neil Morisson bahwa Ducati kini bukan lagi yang tercepat di MotoGP, dibuktikan dengan kemajuan yang dibuat oleh Aprilia dan KTM.

"Kami (Ducati) bukan lagi yang tercepat," ujar Pecco.

Hal ini kemudian dikaitkan dengan rumor kepindahannya yang sempat memanas beberapa waktu lalu. Pecco diketahui berada di ujung kontraknya dengan Ducati, kemudian dia dikabarkan dekat dengan Aprilia.

Dengan menurunnya performa Ducati dan melihat kemajuan yang ditunjukkan Aprilia, apakah Pecco benar-benar akan hengkang dari Ducati, tim yang sudah membuatnya meraih 2 gelar juara dunia?

Jawaban yang pasti masih belum diketahui, pasalnya belum ada konfirmasi atau petunjuk apa pun yang diberikan oleh pihak Pecco, Ducati, atau Aprilia.

Namun, ini bukan soal berapa lama mereka bekerja sama, melainkan tentang kecocokan antara motor dan pembalap, setiap pembalap pasti menginginkan tim dan motor terbaik.

Jika bersama Ducati tahun ini Pecco tidak bisa maksimal lagi, bukan tidak mungkin Pecco akan pergi mencari motor yang baru yang lebih sesuai dengan gaya balapnya dan bisa membawanya menjadi penantang gelar lagi.

Apalagi Pecco adalah pembalap dengan talenta yang luar biasa, tentu dia ingin motor yang cepat dan terbaik. Dan mungkin jawabannya bukan lagi Ducati, melainkan Aprilia.