Forza Ferrari menggema lebih kencang setelah hasil tes pramusim Bahrain memberi secercah harapan bagi tifosi. Mobil SF-26 dinilai menunjukkan potensi kompetitif di tengah era regulasi baru Formula 1 2026.
Melansir Motorsport, regulasi 2026 sempat memicu kekhawatiran besar di paddock. Banyak pihak menilai mobil generasi terbaru bakal jauh lebih lambat akibat perubahan radikal pada mesin dan aerodinamika.
Musim ini F1 memasuki salah satu perombakan teknis terbesar dalam sejarahnya. Mobil 2026 mengusung aerodinamika aktif serta pembagian tenaga 50:50 antara energi listrik dan mesin pembakaran internal.
Keraguan muncul karena perubahan regulasi mesin 2014 sebelumnya membuat catatan waktu melambat signifikan. Kekhawatiran terbaru berpusat pada potensi kehabisan energi regeneratif di lintasan lurus panjang.
Namun hasil tes kedua di Bahrain menunjukkan gambaran berbeda. Pembalap Ferrari, Charles Leclerc, mencatatkan waktu 1 menit 31,992 detik dengan ban Pirelli C4, hanya sekitar 2,5 detik lebih lambat dari catatan tercepat tahun lalu.
Team principal Ferrari, Frédéric Vasseur, menilai mobil 2026 justru memberi kejutan positif. Ia menyebut banyak kekhawatiran awal tidak terbukti dalam pengujian.
“Sudah menjadi DNA F1 untuk mengeluh soal segalanya, tetapi saya percaya secara umum semua orang justru terkejut secara positif,” ujarnya kepada Motorsport Italy seperti dikutip Motorsport pada Rabu (4/3/2026).
Ia menambahkan, anggapan bahwa mobil 2026 akan mendekati performa Formula 2 tidak terbukti di lintasan. Menurutnya, Ferrari hanya terpaut dua hingga tiga detik dari catatan waktu mobil 2025.
“Orang-orang bilang kami akan mendekati level F2, padahal kami hanya terpaut dua atau tiga detik dari catatan waktu 2025,” jelasnya.
Menurut Vasseur, selisih tersebut bukan situasi yang mengkhawatirkan di awal siklus regulasi. Ia menilai performa mobil masih sangat mungkin meningkat seiring pengembangan sepanjang musim.
“Yang terpenting adalah persaingan yang ketat, karena yang dihitung adalah lebih cepat sepersepuluh detik dari rival,” tegasnya.
Ferrari juga mencuri perhatian lewat inovasi teknis pada SF-26. Tim asal Maranello menghadirkan desain sayap belakang yang dapat berputar 180 derajat untuk mengurangi hambatan udara tanpa mengorbankan stabilitas.
Selain itu, Ferrari memperkenalkan solusi aerodinamika baru bernama FTM dengan sirip kecil di depan pipa knalpot. Sistem tersebut dirancang untuk memanfaatkan gas buang sekaligus membantu pemulihan energi.
“Anda harus mengeksplorasi regulasi teknis, agresif, dan mendorong hingga batasnya. Hanya dengan cara itu Anda bisa berinovasi,” katanya.
Ia menegaskan Ferrari tetap berkoordinasi dengan FIA untuk memastikan seluruh inovasi sesuai aturan. Bagi tifosi, sinyal dari Bahrain menjadi alasan untuk kembali berharap pada musim 2026.
Baca Juga
-
Tak Sekadar Game Anak, Roblox Jadi Wadah Kompetisi Musik dan Ruang Berkarya
-
Tak Perlu Putus-Sambung Bluetooth, Headphone Vivo Dukung 3 Gadget Sekaligus
-
Melawan Arus Tren: Rahasia Converse Chuck Taylor Tetap Relevan di Era Modern
-
Lebih dari 1.000 Lampion akan Terangi Langit Borobudur saat Waisak 2026
-
Lomba Sihir Meremajakan Melompat Lebih Tinggi dengan Nuansa Indie Pop
Artikel Terkait
-
Jadwal F1 GP Australia 2026: Ada Kejutan Apa di Albert Park?
-
Perang AS-Israel vs Iran Memanas, GP Bahrain dan Arab Saudi Batal Digelar? FIA Buka Suara
-
F1 The Movie: Sang Juara Dunia 7 Kali Lewis Hamilton Jadi Otak Produksi
-
Ferrari Bawa DNA Balap ke Mobil Listrik Pertamanya, Bisa Melesat 309 KM per Jam
-
11 Tim Formula 1 Rilis Tampilan Baru Mobil 2026, Mana yang Paling Keren?
Hobi
-
Dua Lawan Berat Menanti, Ini Target Utama Timnas Indonesia di FIFA Matchday Juni 2026
-
Mengukur Kekuatan Lini Belakang Timnas Indonesia saat Tanpa Nama Jay Idzes
-
Resmi! Cal Crutchlow Gantikan Johann Zarco di GP Mugello 2026
-
Angka 61 yang Ikonik: Menilik Statistik Gila Rivalitas Lewis Hamilton dan Max Verstappen
-
Forza Horizon 6 Belum Lama Rilis, Mobil MBG Sudah Nongol di Jalanan Tokyo
Terkini
-
Dituding Menunggak Pajak, Agensi Ji Chang Wook Buka Suara
-
Murah tapi Nggak Murahan, Ini Smartwatch Terbaik di Harga Rp2 Jutaan
-
Drama The Scarecrow dan Potret Kegagalan Sistem Hukum dalam Kasus Hwaseong
-
Apocalypse Hotel Raih Best Media dan Best Comic di Seiun Awards ke-57
-
Tak Sekadar Game Anak, Roblox Jadi Wadah Kompetisi Musik dan Ruang Berkarya