Bagi sebagian pekerja, penghasilan bulanan di level UMR adalah sebuah hal yang tak terlalu bisa dibanggakan. Di tengah kondisi ekonomi yang semakin lama semakin tak menentu, gaji dengan nominal imut seperti itu dianggap belum sepenuhnya layak, bahkan masih dirasa kurang untuk memenuhi beragam kebutuhan.
Bukan sebuah hal yang berlebihan sejatinya jika sebagian besar masyarakat kita berpandangan bahwa gaji UMR bukanlah sebuah pencapaian yang perlu dibanggakan. Pasalnya, dengan gaji yang seimut itu, mereka dipaksa untuk bertahan hidup dalam rentang waktu satu bulan lamanya di tengah deraan kondisi ekonomi yang kian hari kian gak ngotak.
Namun pada realitanya, bagi sebagian warga Kabupaten Rembang, terutama kalangan pemudanya, mendapatkan gaji dengan digit UMR adalah sebuah impian dan bahkan menjadi salah satu tujuan kerja yang ingin direalisasikan.
Di balik gaji imut berlabel UMR itu, bagi sebagian warga asli Kabupaten Rembang, hal itu adalah sebuah kebanggaan. Bukan hanya karena mereka bisa flexing gaji dengan nominal "jutaan", namun juga bagi para pemuda asli Kabupaten Rembang, mereka juga berkesempatan untuk bisa menyisihkan penghasilan dengan nominal yang lumayan.
Hal ini sebenarnya tak lepas dari kondisi sosial masyarakat di Kabupaten Penghasil Garam, terutama dalam hal pekerjaan. Di sebagian besar wilayah, terutama yang berada di kecamatan pinggiran, kebanyakan di antara mereka bekerja sebagai petani, pedagang kecil atau bekerja serabutan di sektor-sektor yang tak memiliki range gaji jelas.
Bagi masyarakat asli Rembang yang bekerja seperti ini, kebanyakan gaji yang mereka dapatkan tentu saja tak menyentuh angka jutaan, karena sistem penggajian yang dianut adalah harian.
Sehingga, ketika ada yang bekerja dan berhasil mendapatkan gaji menyentuh angka Rp2,3 juta yang merupakan UMR Rembang, sedikit banyak rasa takjub itu pun timbul. Karena di mata mereka, gaji yang menyentuh angka jutaan adalah nominal yang "wah" dan merepresentasikan kesuksesan meski pada hakikatnya angka tersebut tidaklah sejalan dengan beban kehidupan yang harus ditanggung si pemiliknya.
Pandangan yang Tak Sepenuhnya Salah
Meskipun masih debatable, sejatinya pandangan bahwa gaji UMR adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi sebagian penduduk asli Kabupaten Rembang tidaklah sepenuhnya salah.
Pasalnya, dengan embel-embel gaji UMR yang bagi sebagian orang merupakan titik paling bawah dalam hal penggajian, banyak pemuda asli Rembang yang masih bisa hidup dengan layak bahkan memiliki sisa penghasilan yang cukup lumayan di setiap bulannya.
Namun patut digarisbawahi di sini, terms and conditions ini berlaku bagi para penduduk Rembang asli, yang berstatus sebagai pemuda. Bukan mereka yang berstatus sebagai pekerja perantauan atau yang sudah berumah tangga, karena pasti akan memiliki perhitungan pengeluaran ekstra untuk biaya kos, wira-wiri transportasi dan kebutuhan sehari-hari.
Alasan pertama mengapa gaji UMR bagi penduduk lokal Rembang bisa menjadikan mereka tetap bisa hidup dengan layak dan bahkan lebih mentereng dari kebanyakan orang di sana adalah, karena daerah ini memiliki indeks harga kebutuhan hidup yang relatif murah.
Di beberapa daerah, terutama yang berada di wilayah kecamatan pinggiran, sebungkus sarapan dengan menu sederhana seperti nasi uduk atau nasi pecel dengan gorengan standar, masih bisa ditebus dengan harga hanya Rp3 ribu saja.
Sementara untuk harga satu piring "makanan layak" di warung-warung makan, kebanyakan dimulai di angka Rp7 ribu, yang mana tentu saja masih terbilang sangat murah jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain apalagi kota besar.
Jikapun para pemuda asli Rembang ini memilih untuk menjadi pribadi yang konsumtif dalam hal makan sehari-hari, alokasi yang mereka keluarkan baru berada di kisaran angka Rp600 ribuan saja, atau sepertiga dari alokasi gaji UMR yang mereka dapatkan.
Dengan asumsi harga sepiring makanan yang sedemikian, tentu para penduduk lokal yang memiliki gaji UMR ini sudah bisa berhitung untuk alokasi makan sehari-hari. Belum lagi dengan tradisi kebanyakan penduduk daerah di Rembang yang sering mengadakan slametan atau syukuran.
Bisa dipastikan, beban biaya untuk konsumsi sehari-hari bisa berkurang sangat drastis, terlebih ketika sedang berada di kisaran "bulan-bulan baik" untuk kendurian.
Pun dengan harga-harga kebutuhan hidup lainnya yang relatif sangat jauh berbeda dengan daerah-daerah lain, membuat uang yang kita miliki di Rembang (terutama daerah pinggiran) masih memiliki marwah karena bisa menggeret banyak barang kebutuhan jika dibelanjakan.
Lantas, apakah hanya alasan ini yang membuat gaji UMR menjadi impian bagi sebagian warga Rembang asli? Tentu saja tidak! Hal lain yang membuat gaji UMR masih memiliki pesona di Rembang adalah karena kondisi ekonomi yang terbilang stabil di daerah ini.
Dari waktu ke waktu, kenaikan harga barang di kabupaten yang terletak paling timur di Provinsi Jawa Tengah ini selalu terkendali dan tak pernah menyusahkan. Terakhir, berdasarkan data BPS Kabupaten Rembang, inflasi month to month pada Desember 2025 berada di kisaran 0,26 persen, sementara dalam satu tahun hanya berada di angka 2,47 persen saja.
Itu artinya, dalam setiap barang yang memiliki harga seribu rupiah, dalam satu tahun hanya ada kenaikan harga sekitar Rp247 rupiah. Sebuah nominal yang tentunya relatif tak terasa, apalagi jika dibandingkan dengan penghasilan UMR Rembang yang sudah menyentuh angka lebih dari dua juta itu.
Cara Hidup Komunal yang Membuat Gaji UMR Bisa Tersisa Ekstra
Tapi pada kenyataannya, bukan perhitungan statistik lapangan seperti di atas yang membuat gaji UMR menjadi impian bagi para pemuda di Rembang. Namun lebih kepada cara hidup komunal mereka yang membuat gaji sebesar Rp2,3 juta itu menjadi jauh lebih banyak sisa dalam setiap bulannya.
Dalam tradisi kehidupan masyarakat Kabupaten Rembang kebanyakan, mereka masih mengedepankan hidup dengan prinsip kebersamaan. Dalam satu rumah, terkadang berisi beberapa kepala keluarga, meskipun secara hukum negara sudah terpisah KK karena menikah.
Jika yang sudah menikah saja masih hidup secara komunal dengan orang tuanya, tentu hal itu menjadi sebuah hal yang lumrah bagi para pemudanya bukan? Dan hal ini pula yang membuat para pemuda asli Rembang masih bertahan untuk hidup dalam satu rumah dengan orang tuanya, meskipun mereka sudah bekerja dan memiliki penghasilan.
Cara hidup komunal seperti ini tentu saja membuat pos-pos pengeluaran dengan nominal besar seperti biaya tempat tinggal atau makan sehari-hari menjadi jauh terpangkas. Sehingga pada akhirnya membuat gaji seimut UMR Rembang yang sejatinya nilainya tak besar-besar amat itu masih banyak tersisa dan membuat mereka bisa flexing dan hidup dengan cukup gaya.
"Mungkin yang jadi pengeluaran rutin hanya bensin ya, Mas. Dengan jarak tempuh pergi-pulang 60km, sehari butuh sekitar 2 liter bensin," terang Niam, salah satu pemuda asal Kecamatan Sedan ketika bertemu dengan saya beberapa waktu lalu.
"Kalikan saja dengan 6 hari kerja, berarti sebulan pengeluaran untuk bensin sekitar Rp500 ribu. Untuk makan dan tidur, masih bersama dengan emak dan bapak," lanjut pemuda 20an tahun yang sudah bekerja di salah satu pabrik sepatu di wilayah Rembang selama tiga tahun belakangan ini.
Dengan asumsi demikian, dengan hitungan kasar, setidaknya Niam masih memiliki sisa gaji antara satu hingga satu setengah juta setiap bulannya, yang mana jumlah tersebut sudah lebih dari cukup untuk merubah penampilannya menjadi lebih rapi atau mengambil kredit untuk mengganti motor.
Dalam penjelasannya, Niam menyampaikan bahwa tak hanya dirinya saja yang menerapkan gaya hidup demikian. Banyak rekan kerjanya dari kecamatan lain yang juga melakukan hal sama, karena permintaan dari orang tua yang tak rela ditinggalkan oleh anaknya untuk hidup terpisah.
Maka tak mengherankan, dengan kultur budaya di Kabupaten Rembang yang masih mengedepankan hidup komunal seperti itu membuat gaji dengan nominal UMR masih menjadi salah satu tujuan, impian atau bahkan capaian prestasi tersendiri bagi para pemuda asli.
Baca Juga
-
Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota
-
Penerapan UU Transfer Daerah dan Nasib Remang Masa Depan PPPK: Efisiensi Berujung Eliminasi?
-
April Mop: Selain Bukan Budaya, Juga Tak Cocok dengan Rakyat Indonesia yang Nanggung Literasinya
-
Maaf Pendukung Timnas Indonesia! Kali Ini Saya Sepakat dengan Komentar Bung Towel
-
Tak Perlu Branding Berlebihan, Kualitas Herdman Terbukti Lebih Baik Ketimbang Kluivert
Artikel Terkait
Hobi
-
Final ASEAN Futsal: Suoto Jamin Timnas Indonesia Tak Minder Hadapi Thailand
-
3 Motor Touring Segala Medan Paling Canggih, Siap Taklukkan Jalan Apa Pun
-
Usai 4 Kali Juara bersama Verstappen, Gianpiero Tinggalkan Red Bull ke McLaren
-
Geser Status Calon Juara ke Marco Bezzecchi, Marc Marquez Atur Strategi?
-
Mengapa Toyota Supra MK4 dan Nissan GT-R R34 Jadi Mobil Favorit Banyak Orang?
Terkini
-
UMK Jember Tembus 3 Juta, Sudahkah Memenuhi Realitas Hidup Buruh?
-
Travel Look Goals! 4 OOTD ala Hwang Min Hyun yang Simpel dan Stylish
-
Peran Terbaik Laura Basuki! Menguak Sisi Gelap Sumba di Balik Film Yohanna
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Makna Belajar yang Hilang di Balik Sistem Pendidikan Indonesia