Pertandingan pertama timnas Indonesia di ajang FIFA Series 2026 melawan Saint Kitts and Nevis pada Jumat (27/03/2026) berakhir dengan manis.
Pada pertarungan di SUGBK melawan tim tamu yang berasal dari zona CONCACAF tersebut—pertandingan yang juga menjadi penanda debut bagi John Herdman sebagai pelatih tersebut—Pasukan Merah Putih berhasil menaklukkan sang lawan dengan skor telak, empat gol tanpa balas.
Bangga? Tentu saja. Sebagai penggemar setia timnas Indonesia yang sudah mulai menaruh atensi terhadap perjuangan Pasukan Garuda di pentas internasional semenjak pertengahan dekade 1990-an, saya sangat bangga dengan hasil tersebut.
Terlebih lagi, kemenangan atas Saint Kitts and Nevis juga membuat optimisme saya yang sempat redup di era kepelatihan Patrick Kluivert kembali menyala seperti ketika timnas Indonesia diasuh oleh Shin Tae-yong.
Namun, mohon maaf, untuk saat ini kebanggaan yang aku miliki masih tertahan dan tidak sepenuhnya membuncah. Bahkan, pascapertandingan melawan Saint Kitts and Nevis kemarin, saya justru sepakat dengan komentar yang disampaikan oleh Tommy Welly alias Bung Towel, yang selama ini dikenal sebagai public enemy nomor satu bagi para pencinta sejati timnas Indonesia.
Sekadar menginformasikan, setelah kemenangan telak timnas Indonesia atas Saint Kitts and Nevis lalu, Bung Towel menyampaikan kepada publik bahwa kemenangan telak tersebut bukanlah tolok ukur yang tepat bagi kualitas Indonesia dan juga John Herdman.
Dalam pandangannya, laga final FIFA Series melawan Bulgaria-lah yang akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Herdman dan tim. Alasannya cukup jelas, karena perbedaan kualitas kedua kesebelasanlah yang menjadikan empat lesakan di laga tersebut tidak berarti apa-apa.
“Harus menang supaya kesan pertama bagus. Tetapi nanti lawan Bulgaria baru kita lihat kualitas sepak bola apa yang mau dia kerjakan,” kata Bung Towel dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya beberapa waktu lalu.
Faktanya, mohon maaf, untuk kali ini saya pribadi berada di pihak yang sama dengan Bung Towel. Karena menurut saya pribadi, apa yang disampaikan oleh Bung Towel pada prinsipnya sesuai dengan kenyataan dan pandangan yang saya miliki.
Bagi saya, kemenangan besar atas Saint Kitts and Nevis bukanlah sebuah hal yang perlu untuk terlalu dibanggakan. Alasannya tentu saja karena secara kualitas, Saint Kitts and Nevis yang berada di peringkat 150-an FIFA tidak sebanding dengan Indonesia yang selain berada di tangga 120-an dunia juga dijubeli dengan para pemain berkualitas yang mentas di berbagai liga benua Eropa.
Jadi, dari kacamata awam sekalipun kita bisa menilai bahwa Indonesia berada di posisi yang cukup "berdilema" kala menghadapi tim asal benua Amerika tersebut.
Ibarat kata, jika Indonesia meraih kemenangan hal itu bukanlah sesuatu yang terlalu mengesankan, namun ketika menelan kekalahan hal itu akan menjadi sebuah bumerang.
Dan seperti apa yang disampaikan oleh Bung Towel dalam komentarnya tersebut, laga melawan Bulgaria pada Senin (30/03/2026) inilah yang akan menjadi tolok ukur kekuatan sebenarnya dari timnas Indonesia, pun kejituan John Herdman dalam meracik taktik dan strategi bagi pasukannya.
Baca Juga
-
Pakar Bisa Jadi Goblok? Menelaah Kebenaran Kalimat Prabowo dari Sudut Pandang Masyarakat Jawa
-
Belajar dari Pemecatan Purbaya, Jadi Abdi Pemerintah Dilarang Keras Punya Hati yang Melankolis
-
Desa Sejahtera Astra Les dan Iklim Pendidikan Mandiri yang Tak Melulu Bertumpu Pemerintah
-
Desa Les, Astra dan Pendidikan: Ngupapira Kearifan Lokal hingga Aksi Nyata yang Selangkah Mendahului
-
Viral! Pendaki Rinjani Bawa Sapi Hidup untuk Logistik, Publik Sebut Tindakan Ini Sudah Keterlaluan
Artikel Terkait
-
Prediksi Timnas Indonesia vs Bulgaria di Final FIFA Series 2026, Senin 30 Maret Hari Ini
-
Tak Anggap Remeh, Bintang Bulgaria Puji Timnas Indonesia: Jelas Lebih Berkelas
-
Adu Kuat Timnas Indonesia vs Bulgaria di FIFA Series 2026
-
John Herdman Puji Kreativitas Ole Romeny Saat Timnas Indonesia Gilas Saint Kitts and Nevis
-
3 Pemain Bulgaria yang Jadi Ancaman Timnas Indonesia di Final FIFA Series 2026
Kolom
-
Ngeri! Puncak Bonus Demografi 2030 Bisa Jadi Bencana Lingkungan Kalau Kita Terus Abai
-
Deindustrialisasi Dini: Industri Tumbuh, tetapi Lapangan Kerja Menyusut
-
Hidup Penuh Drama Demi Validasi? Kenali Beda 'Self-Appreciation' dan Main Character Syndrome
-
Dari Racun OOTD ke Checkout, Apakah Ini Cara Medsos Dorong Budaya Belanja?
-
Jurang Humor Milenial vs Gen Z: Saat Plesetan Cerdas Kalah dari Meme Pisang Tanpa Konteks
Terkini
-
Pengalaman Horor Kang Pentol, Bertemu Dua Perempuan Misterius dekat Makam
-
Senja yang Meminjam Fajar
-
Bedah Makna Lagu 'Stuck' ENHYPEN: Kisah Cinta Egois Sang Vampir yang Berujung Bahaya
-
Kupas Tuntas 'Palu Arit di Ladang Tebu', Bukti Nyata Tragedi 1965 Tak Sekadar Hitam Putih!
-
Hidup Jadi Terasa Seperti Konten: Personal Branding atau Personal Pressure?