Sekar Anindyah Lamase | Desyta Rina Marta Guritno
Jorge Martin (Instagram/88jorgemartin)
Desyta Rina Marta Guritno

Juara dunia musim 2024, Jorge Martin, saat ini telah mengubah pola pikirnya menjadi pembalap yang lebih bijak dan dewasa, entah di dalam atau luar lintasan.

Martin diketahui mencapai masa kejayaannya pada tahun 2024 lalu, di mana dia berhasil memenangkan gelar juara dunia dan menjadi pembalap satelit pertama yang sukses keluar sebagai jawara.

Sayangnya, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Sekitar 3 bulan setelahnya, Jorge Martin mengalami kecelakaan di sesi tes pramusim yang membuatnya mengalami cedera dan absen di beberapa seri pertama musim 2025.

Bencana tersebut kembali terjadi usai GP Qatar di mana dia kembali mengalami kecelakaan yang membuat luka lamanya semakin parah. Martin harus absen lagi hingga kembali di GP Hungaria.

Terlepas dari itu semua, kejadian dan luka ini membawa hikmah tersendiri untuk Martin. Dulu, dia dikenal sebagai pembalap yang sangat ambisius dan agresif, tapi sekarang dia menjadi pembalap yang lebih bijak dalam menentukan keputusan di dalam atau luar lintasan.

Jika sebelumnya dia kemenangan di setiap balapan, kini Martin mencoba lebih realistis dengan tidak menjadikan podium 1 sebagai tujuannya, melainkan menampilkan yang terbaik untuk hasil terbaik, entah itu podium atau tidak.

Pada intinya, dia tidak ingin mengambil risiko yang tidak perlu, apalagi sampai membahayakan dirinya sendiri.

"Terkadang posisi keempat adalah yang terbaik yang bisa kita raih, dan itulah yang harus kita bawa pulang. Di hari lain kita bisa menang. Tidak mengambil risiko yang tidak perlu adalah kuncinya," ujar Martin, dilansir dari laman GPOne.

Kendati demikian, di awal musim 2026 ini Jorge Martin berhasil comeback dengan meraih kemenangan sprint pertamanya setelah sekian lama di GP Amerika 2026 lalu. Kemudian, di sesi balap utama dia juga menempati P2.

Pembalap asal Spanyol ini mengaku tidak menyangka bisa memulai musim dengan sebaik ini karena berangkat dari kondisi dan persiapan yang tidak matang.

Saya tidak menyangka akan memulai seperti ini, terutama tanpa pramusim dan tidak dalam kondisi 100%. Ini luar biasa," tambahnya.

Di sisi lain, melihat performa awal musim Jorge Martin yang memukau serta perkembangan Aprilia yang menjanjikan, pertanyaan untuk meraih gelar juara dunia kedua mulai bermunculan.

Namun, Martin enggan terburu-buru, dia merasa terlalu cepat untuk membicarakan soal ini. Selain karena masih awal musim, Martin juga merasa dia baru saja bangkit dari tidur panjangnya.

Alih-alih berambisi untuk kembali bertarung untuk merebut gelar, Martin lebih memilih untuk menjalani balapan demi balapan dan melihat sejauh mana dia bisa melaju saat ini.

"Memikirkan kejuaraan dunia agak terlalu dini. Saya ingin menjalaninya hari demi hari dan melihat di mana kita akan berakhir," katanya.

Kendati demikian, jika ada kesempatan yang terbuka lebar Martin juga tidak akan menutup pintu rapat-rapat. Dia tetap akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal, bahkan jika itu adalah gelar juara dunia.

"Jika kita berjuang untuk kejuaraan dunia dengan dua atau tiga balapan tersisa, kita akan mengerahkan semua kemampuan untuk memenangkannya," ucapnya.

Apa pun yang akan terjadi di masa depan, Jorge Martin ingin melangkah dengan kepala dingin, menikmati setiap proses tanpa terburu-buru soal hasil. Namun, jika waktunya tiba, bukan tidak mungkin dia kembali berdiri di puncak dan menegaskan bahwa dirinya belum selesai.

Kalau menurut kalian, apakah Jorge Martin akan kembali menjadi kontender juara dunia musim ini?