Matchday kedua guliran Piala Dunia 2026 menjadi momen kebangkitan bagi seorang Cristiano Ronaldo. Tak tanggung-tanggung, megabintang sepak bola dunia asal Portugal tersebut langsung menciptakan brace ketika memimpin pasukan Os Navigadores berhadapan dengan wakil benua Asia, Uzbekistan.
Seolah membungkam kritik yang beberapa hari terakhir ini ditujukan kepadanya, Ronaldo yang tampil tak optimal di pertandingan pembuka melawan Kongo lalu, langsung menggetarkan jala gawang Uzbekistan dengan gol pertamanya di menit ke-6.
Setelah diselingi oleh gol tendangan bebas cerdik Nuno Mendes di menit ke-17, eks bintang Real Madrid tersebut kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-39 dan membawa keunggulan tiga gol tanpa balas Portugal atas sang lawan di paruh pertama.
Pesta gol Portugal atas wakil benua Asia tersebut masih berlanjut di babak kedua. Meskipun penampilan Uzbekistan cenderung membaik, namun gempuran intens yang dilakukan oleh Ronaldo dan kolega membuat mereka kebobolan kembali di menit ke-60 melalui Abduvohid Nematov dan pada menit ke-87 melalui gol dari Rafael Leao.
Umpan Rekan Setim Membaik, Ronaldo Bikin Uzbekistan Hancur dan Tercabik
Meningkatnya performa Ronaldo di pertandingan kedua melawan Uzbekistan ini sendiri sejatinya tak lepas dari peningkatan sokongan rekan-rekan setimnya.
Harus kita akui, jika dibandingkan dengan pertandingan pertama melawan Kongo lalu, pelayanan yang diberikan oleh Bruno Fernandes dan pemain lainnya di laga kedua ini dapat dikatakan jauh lebih baik.
Berbeda dengan pertandingan pertama yang seperti dikucilkan, di laga kedua kontra Uzbekistan tersebut Ronaldo terlihat menyatu dengan baik dengan para pemain lain. Bukan hanya mendapatkan distribusi umpan yang lebih banyak secara jumlah, sentuhan-sentuhan yang dilakukan oleh Ronaldo di laga itu pun juga memiliki peningkatan kualitas.
Sehingga tak mengherankan jika pada akhirnya, sentuhan-sentuhan yang dilakukan oleh pemain pemilik lima Ballon d'Or tersebut, berhasil membuat jala gawang Uzbekistan terkoyak, bahkan hingga dua kali.
Peningkatan dukungan para pemain lain terhadap kinerja Ronaldo di lapangan ini sendiri tentunya bukan tanpa dasar. Selain bisa disaksikan secara langsung di arena pertandingan, data statistik yang melingkupi permainan Ronaldo pun menyatakan hal yang serupa.
Menurut data statistik yang saya rangkum dari berbagai sumber, pada pertandingan kedua ini Ronaldo tercatat melakukan 34 sentuhan. Dari 34 sentuhan tersebut, tujuh di antaranya adalah tembakan di mana lima di antaranya sukses mengarah ke gawang dan membuahkan 2 gol.
Uniknya, dari 34 sentuhan tersebut, Ronaldo sepuluh kali melakukannya di area kotak penalti lawan. Sebuah jumlah yang tentunya tak sebanyak ketika dirinya turun di laga pertama melawan Kongo lalu.
Bukan hanya itu, jumlah 34 sentuhan dengan sepuluh di antaranya dilakukan di kotak penalti lawan juga menjadi fakta yang menurut saya tak mengheranka. Pasalnya, seperti yang telah saya singgung di atas, karena memang di pertandingan kedua ini, rekan-rekan setimnya cenderung sudah lebih "insaf" dalam memberikan distribusi bola kepadanya.
Jika kita mau menilai, saat melihat pertandingan antara Portugal melawan Uzbekistan ini, sedari awal pertandingan saja kita sudah bisa menilai meningkatnya dukungan rekan-rekan setim Ronaldo ini. Sejak awal pertandingan berjalan, para pemain sayap Portugal bahkan sudah kedapatan sering melakukan umpan ke area penalti yang menjadi tempat eks Manchester United itu beroperasi.
Hal ini tentunya sangat berbeda dengan apa yang dialami oleh Ronaldo pada pertandingan pertama melawan Kongo lalu. Jangankan dimanjakan dengan umpan silang dari jarak jauh seperti itu, saat berada dalam posisi yang dekat dan menguntungkan saja Ronaldo sangat jarang mendapatkan short pass dari rekan-rekan setimnya.
Buktinya? Tentu saja ada. Berdasarkan statistik yang dirilis oleh FIFA, di sepanjang jalannya pertandingan melawan Kongo, Ronaldo hanya bisa melakukan 25 sentuhan --5 di antaranya dilakukan di petak penalti lawan--, melakukan 3 tembakan di mana 2 di antaranya melenceng dan satu tendangan diblok.
Dan patut untuk dicatat, sentuhan yang dilakukan oleh Ronaldo di pertandingan pertama lalu itu kebanyakan diusahakan sendiri olehnya, termasuk ketika harus mengambil jalur permainan Bruno Fernandes imbas minimnya distribusi bola yang mengarah kepadanya.
Sebuah jumlah yang tentunya tak terlalu mengherankan bagi saya, karena memang di laga pertama lalu Ronaldo seperti bermain sendirian, tanpa bantuan yang layak dari rekan-rekan setim seperti halnya di pertandingan kedua ini.
Padahal, jika seandainya saja di laga perdana lalu Ronaldo mendapatkan dukungan penuh dari rekan-rekannya seperti pada pertandingan melawan Uzbekistan ini, bukan tak mungkin dirinya akan mendapatkan lebih banyak peluang yang bisa saja berubah menjadi gol.
Tapi sayangnya, hal itu tak terjadi di laga pertama lalu. Ketika Ronaldo sudah berusaha sedemikian keras untuk membuka area pertahanan Kongo dan mencari ruang, rekan-rekan setimnya justru lebih memilih untuk bermain tanpa melibatkan Ronaldo dan memutar-mutar bola di area sendiri.
Imbasnya, alih-alih bisa kembali menambah gol, keunggulan tipis yang saat itu didapatkan oleh Portugal sejak menit ke-6 melalui Joao Neves, justru terkejar dan berhasil dibuyarkan oleh gol balasan Yoane Wissa di menit ke-45+5.
Padahal, dalam pandangan saya, dengan adanya pemain sekaliber Cristiano Ronaldo dalam tubuh tim, Portugal bisa saja menciptakan banyak peluang dengan cara sering-sering mengirimkan bola kepadanya.
Karena berdasarkan pengalaman yang terbukti nyata pada pertandingan kedua melawan Uzbekistan ini, Ronaldo sendiri bisa jadi pemain yang tak kalah garang ketimbang Messi jika dirinya terus mendapatkan umpan di area kotak penalti lawan, terlebih lagi jika umpan presisi.
Baca Juga
-
Piala Dunia 2026: Messi Makin Menggila, Mengapa CR7 Masih Belum Temukan Performa Terbaiknya?
-
Kompak Jadi Aib, Piala Dunia 2026 Tak Ubahnya Panggung untuk Permalukan Anak Emas AFC
-
Piala Dunia 2026 dan Comeback Turki yang Menodai Sejarah Keikutsertaan Terakhir Mereka
-
Piala Dunia 2026: Blunder Popovic Bikin Australia Harus Bertarung Keras Hingga Laga Pamungkas
-
Piala Dunia 2026: Tanpa Bantuan AFC, Kualitas Qatar Hanyalah Sekelas Tim Semenjana Asia
Artikel Terkait
-
Cristiano Ronaldo Buang Muka Ditanya-tanya Soal Lionel Messi
-
Tragedi Nobar Piala Dunia 2026: Suporter Yordania Tewas Terinjak-injak
-
Ronaldo Pecah Telur di Piala Dunia 2026, Pelatih Portugal Bantah Cristiano Tengah Kejar Rekor Messi
-
Respons Berkelas Cristiano Ronaldo ke Pengkritik: Cetak Brace, Ukir 2 Sejarah!
-
Vinicius Jr Jadi Tumpuan, Brasil Waspadai Kejutan dan Taktik Skotlandia
Hobi
-
Vinicius Jr Jadi Tumpuan, Brasil Waspadai Kejutan dan Taktik Skotlandia
-
18 Gol! Lionel Messi Resmi Jadi Raja Gol Sepanjang Masa Piala Dunia
-
Piala Dunia 2026: Messi Makin Menggila, Mengapa CR7 Masih Belum Temukan Performa Terbaiknya?
-
Analisis Taktik Portugal vs Uzbekistan: Misi Ronaldo CS di Piala Dunia 2026
-
Prediksi Yordania vs Aljazair: Adu Taktik dan Duel Bintang Demi Lolos Fase
Terkini
-
Sinopsis Tokyo Middle 30, Drama Jepang yang Dibintangi Riisa Naka
-
Anime Aksi SAKAMOTO DAYS Season 2 Umumkan Tayang Januari 2027 di Netflix
-
Menelusuri Kehidupan Sosial Batavia di Buku Jean Gelman Taylor
-
Review Supergirl: Petualangan Kosmik yang Lebih Liar dari Semesta DC Baru
-
Drama Baru Kim So Yeon Tunda Syuting Selama Sebulan, JTBC Beri Penjelasan