Perjuangan Timnas Qatar di pentas Piala Dunia 2026 harus berakhir cepat. Alih-alih menghidupkan persaingan dan melaju ke babak berikutnya, The Maroons justru harus menerima kenyataan pahit dengan menjadi tim juru kunci Grup B.
Bahkan, meskipun mereka mampu mengoleksi satu poin di akhir persaingan, namun label sebagai "Badut Asia" sejatinya tak berlebihan jika kita sematkan kepada mereka.
Perjalanan Qatar pada turnamen yang digelar di benua Amerika ini sendiri diawali dengan sebuah kejutan. Nyaris kalah ketika berhadapan dengan Swiss pada pertarungan pertama (13/6), mereka sukses mengakhiri pertarungan dengan skor sama kuat, 1-1 melalui gol telat penyama kedudukan jelang berakhirnya guliran laga.
Hasil imbang yang sempat membuat Qatar merasa bangga dan menarik napas lega, ternyata hanya bertahan di satu laga saja. Memasuki matchday kedua melawan Kanada (19/6) Qatar sudah harus menelan kekalahan yang sangat telak, mencapai setengah lusin gol tanpa balas.
Pun demikian halnya di pertarungan penentuan melawan Bosnia dan Herzegovia. Alih-alih bangkit dari keterpurukan, tim yang selama ini dikenal luas sebagai anak emas AFC itu justru kembali tersungkur setelah dihantam tiga gol berbalas satu dari negara yang terletak di semenanjung Balkan tersebut.
Banyak Alasan untuk Melabeli Qatar sebagai Badut Asia
Sejatinya, jika kita melihat capaian poin dari para wakil Asia di pentas Piala Dunia 2026 ini, satu poin yang mereka miliki bukanlah yang paling buruk.
Berdasarkan data match center di laman FIFA, ada negara Asia lainnya yang harus pulang cepat dengan potensi tanpa raihan satu poin pun seperti Yordania, Irak dan juga Uzbekistan.
Namun, hal itu tetap saja tak menyurutkan pemberian label Badut Asia kepada Qatar di turnamen kali ini. Bukan karena apa-apa, namun jika dibandingkan dengan tiga negara tersebut, Qatar tentunya memiliki modal yang jauh lebih mantap dalam menyongsong turnamen. Sebuah bekal yang mana seharusnya membuat mereka bisa menyajikan persaingan yang lebih sengit daripada apa yang telah mereka perlihatkan.
Seperti misal, jika dibandingkan dengan Uzbekistan dan Yordania yang berstatus sebagai tim debutan di turnamen, Qatar tentu memiliki catatan pengalaman yang terbilang lebih baik. Di Piala Dunia 2026 ini, tim asal Timur Tengah itu tercatat memainkan turnamen keduanya, setelah di edisi 2022 lalu mereka juga sudah berpartisipasi melalui jalur tuan rumah.
Pun demikian halnya jika dibandingkan dengan Irak. Status Qatar yang lolos di ronde keempat babak kualifikasi, tentunya secara logika bisa diasumsikan "lebih berkualitas" ketimbang Tim Singa Mesopotamia yang harus tertatih hingga ronde kelima bahkan intercontinental playoff untuk bisa mendapatkan satu tempat di turnamen.
Dan lagi, tim-tim yang dihadapi oleh Qatar yang "hanya" sekelas Kanada, Swiss serta Bosnia and Herzegovina, tentunya tak bisa disepadankan dengan tim yang menjadi lawan Irak di fase grup yang harus berhadapan dengan Prancis, Senegal dan Norwegia yang tengah pesat perkembangan sepak bolanya.
Lawan-lawan yang dihadapi oleh Uzbekistan pun tak kalah kaleng-kaleng. Selain Kongo, di grup yang dihuni oleh Uzbekistan ada tim liat asal Amerika Latin sekelas Kolombia, dan tentu saja salah satu unggulan teratas untuk memenangi kejuaraan, Portugal.
Sehingga, ketika Qatar akhirnya harus pulang cepat dengan kualitas lawan-lawannya yang "hanya sekelas itu", tentunya mereka tak bisa mangkir jika ada yang mengatakan bahwa tim ini adalah Badut Asia imbas penampilan mereka di pentas Piala Dunia 2026 ini yang terbilang buruk.
Lantas, apakah cuma itu saja yang membuat mereka layak untuk dilabeli demikian? Tentu saja tidak. Ada hal lain yang menurut saya bakal membuat julukan ini semakin layak diberikan kepada mereka. Patut untuk diingat, Timnas Qatar sendiri datang ke turnamen dengan label yang sangat menyilaukan.
Mereka adalah tim yang datang ke turnamen dengan label sebagai juara Asia dalam dua edisi terakhir. Setelah menggapai gelar juara di tahun 2019, Qatar kemudian melanjutkan kejayaannya dengan mencatat back to back juara di edisi 2023 kemarin.
Bukan hanya itu, di dalam tim Qatar yang bertarung di gelaran, juga ada seorang Akram Afif, yang dalam beberapa tahun terakhir namanya selalu disebut dan menghiasi daftar pemain terbaik persepakbolaan Asia.
Dalam catatan saya, Akram Afif ini merupakan pemain terbaik Asia di tahun 2019 dan 2023. Bahkan, di Piala Asia edisi terakhir, pemain bernomor punggung sebelas ini juga memborong beragam penghargaan individu, mulai dari pencetak gol terbanyak di turnamen hingga label pemain terbaik gelaran.
Lantas, bagaimana bisa, tim yang berlabel juara dunia, yang di dalamnya ada pemain yang berpredikat sebagai pemain terbaik benua, justru tampil awur-awuran dan menghasilkan pencapaian yang jauh lebih buruk ketimbang tim-tim lain yang tak memiliki label itu?
Padahal, secara logika, Timnas Qatar yang berlabel sebagai tim terbaik di benua Asia, kemudian diperkuat dengan pemain sekelas Akram Afif, seharusnya bisa memberikan perlawanan yang jauh lebih berarti ketimbang Jepang, Korea Selatan, Iran maupun Australia bukan?
Namun yang terjadi di lapangan justru malah sebaliknya. Meskipun mereka berangkat ke turnamen sepak bola paling akbar sejagat raya itu dengan selimutan gelar mentereng yang melabeli tim maupun pemainnya, kualitas yang mereka tunjukkan justru di bawah tim yang di atas kertas kualitasnya seharusnya di bawah mereka.
Alih-alih menghidupkan persaingan dan memberikan keharuman bagi persepakbolaan benua, Qatar justru malah jadi bulan-bulanan, dan pulang dengan tempelan gelar baru bertuliskan "Badut Asia".
Baca Juga
-
Belajar Menelaah Kejamnya Realita Dunia Kerja melalui Perpisahan CR7 dengan Timnas Portugal
-
Mindset Kelas Atas, New BIONS by BNI Sekuritas Siap Dampingi Penggunanya Sampai Menetas Tuntas
-
Nasib Bahasa Indonesia di Akar Rumput: Bersandar Enam Jam Sepekan, Tergerus Masifnya Konten Tayangan
-
Pakar Bisa Jadi Goblok? Menelaah Kebenaran Kalimat Prabowo dari Sudut Pandang Masyarakat Jawa
-
Belajar dari Pemecatan Purbaya, Jadi Abdi Pemerintah Dilarang Keras Punya Hati yang Melankolis
Artikel Terkait
-
Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026, Jepang Hadapi Brasil, Belanda Tantang Maroko
-
Bukan Sekadar Nama! Ini 8 Julukan Unik Timnas Peserta Piala Dunia 2026
-
Lolos dari Lubang Jarum, Ekuador Tebas Jerman dan Melaju ke Babak 32 Besar
-
Bukan Sekadar Taktik Pochettino! AI Kunci Sukses Timnas AS di Piala Dunia 2026
-
Socceroos Hadapi Paraguay Tanpa Bek Kanan Murni, Jacob Italiano Cedera
Hobi
-
Kisah Heroik HMS Ark Royal: Sang 'Lucky Ship' Penentu Kemenangan di Teater Atlantik
-
Ambisi Besar PSSI di Piala Asia 2027: 10 Pemain Naturalisasi Jadi Senjata Rahasia?
-
Membelot dari Hongkong, Adik Mitchell Baker Segera Bela Timnas Indonesia?
-
Jadwal MotoGP Qatar 2026: Balapan di Tengah Isu Perang, Tim Yamaha Mundur
-
Piala Asia 2027 Resmi Diundur, Untung atau Buntung bagi Timnas Indonesia?
Terkini
-
Mengenal Investasi dari Layar Ponsel Bersama New BIONS
-
Menggugat Empati Sineas Lewat Film Putri, Jangan Gentayangan Lagi: Menghibur atau Mengeksploitasi?
-
Fakta Unik Daun Salam: Bumbu Masakan Rumahan yang Jadi Simbol Berbagi di Pedesaan
-
489 Hektare Hutan Malang Selatan Hilang, Kini 63 Hektare Kembali Terancam
-
PIH dan Kusam Auto Hempas! 4 Pelembap Pencerah Kemasan Tube Lebih Higienis