Kualitas persepakbolaan benua Asia tampaknya masih belum sepenuhnya mampu bersaing di level global. Sebagian besar negara yang mewakili kawasan ini, pada akhirnya terkonfirmasi harus pulang kampung, seiring dengan usainya fase penyisihan grup turnamen.
Laman FIFA merilis, dari sembilan negara yang menjadi representasi kekuatan sepak bola Benua Kuning pada gelaran kali ini, tujuh di antaranya yakni Qatar, Arab Saudi, Yordania, Irak, Uzbekistan dan dua yang terbaru, Korea Selatan serta Iran akhirnya harus gugur dari persaingan.
Cara negara-negara itu pulang kampung pun cukup variatif. Lima dari tujuh negara tersebut yakni Qatar, Yordania, Arab Saudi, Irak dan Uzbekistan, langsung gugur otomatis karena hanya menjadi tim juru kunci di grupnya masing-masing. Sementara dua negara Asia lainnya --yang notabene menjadi langganan Piala Dunia-- Korea Selatan dan Iran, harus pulang dengan membawa kekecewaan berlebih imbas gagal bersaing dalam delapan tim peringkat ketiga terbaik.
Malunya Qatar, dari Back-to-Back Juara Konfederasi, Menjadi Back-to-Back Tim Juru Kunci
Meskipun sama-sama harus gugur dan pulang cepat dari gelaran, namun sejatinya rasa malu yang paling mendalam harusnya ditanggung oleh Qatar. Bukan karena tendensi apa pun, namun lebih karena alasan modal menuju turnamen yang mereka bawa kali ini. Jika dibandingkan dengan para wakil benua Asia lainnya, mereka datang dengan status yang paling mentereng.
Seperti yang beberapa waktu lalu saya jelaskan, di putaran final Piala Dunia 2026 kali ini, Qatar memiliki dua modal yang dapat dikatakan sangat istimewa. Bagaimana tidak, kedatangan The Maroons ke benua Amerika kali ini berselimutkan label juara Piala Asia dalam dua edisi beruntun (2019 dan 2023), serta tim yang back to back berhasil tampil di Piala Dunia. Sekadar mengingatkan, sebelum tampil di Piala Dunia 2026 ini melalui jalur kualifikasi yang "dimuluskan oleh AFC", sebelumnya Qatar juga tampil di edisi 2022 sebagai tuan rumah gelaran.
Belum lagi dengan status mentereng yang disandang pemainnya. Dalam tubuh Qatar di Piala Dunia ini, bercokol nama seorang Akram Afif, yang dalam catatan AFC dinobatkan sebagai pemain terbaik Asia dua kali pada tahun 2019 dan 2023, serta peraih label pencetak gol terbanyak sekaligus pemain terbaik di Piala Asia 2023.
Namun ternyata, dengan mewahnya modal yang mereka bawa, apa yang Qatar perlihatkan di gelaran, tak ubahnya seperti tim-tim semenjana Asia belaka. Coba bayangkan, dari tiga pertandingan yang dijalani, Qatar hanya mampu meraih satu poin saja di grup yang berisikan tim-tim "berkualitas biasa saja" seperti Kanada, Swiss dan Bosnia-Herzegovina.
Coba kita pikirkan bersama, bagaimana bisa, tim yang berlabel juara konfederasi dua kali berturut-turut, justru secara penampilan malah tak lebih baik dari Jepang dan Australia, atau bahkan dari Iran, Arab Saudi serta Korea Selatan yang secara modal awal tak semewah yang mereka miliki?.
Bahkan, dalam pandangan pribadi saya, yang harusnya membuat mereka lebih malu lagi adalah, modal back to back juara konfederasi yang Qatar sandang, justru hanya berakhir dengan menjadi back to back penghuni dasar klasemen di dua edisi Piala Dunia!
Iya, dalam dua edisi Piala Dunia yang mereka ikuti, ketidaklayakan kualitas yang Qatar sandang, selalu menempatkan mereka di dasar klasemen. Berdasarkan data yang saya temukan di laman history FIFA, sebelum pulang dengan label sebagai tim juru kunci grup B di Piala Dunia 2026 ini, Qatar juga mencatatkan pencapaian serupa ketika tampil di pesta sepak bola paling akbar sejagat raya empat tahun lalu.
Meskipun mereka bertindak sebagai tuan rumah, Qatar saat itu juga kalah bersaing. Kualitas yang mereka bawa ke turnamen level tertinggi kala itu tak bisa membohongi publik pencinta sepak bola dunia. Alih-alih berjaya, empat tahun lalu Qatar justru harus merasakan nestapa dan mengakhiri petualangannya di Piala Dunia dengan posisi juru kunci di bawah Belanda, Senegal serta Ekuador.
Malah, ketika itu, mereka tak mampu meraih barang satu poin pun di gelaran. Dari tiga laga yang dijalani, Qatar selalu menelan kekalahan dan menjadi bulan-bulanan tiga lawannya di fase grup.
Tapi, bukankah di Piala Dunia 2026 ini juga ada Irak, Yordania dan Uzbekistan yang harus pulang cepat bahkan tanpa membawa sebiji poin pun? Tentu saja kasus ini berbeda. Patut untuk digarisbawahi, tiga negara tersebut datang ke gelaran tanpa membawa bendera sebagai tim terbaik di konfederasi.
Sehingga ketika mereka harus pulang cepat tanpa membawa poin, atau bahkan penampilan mereka hancur lebur sekalipun, hal itu tidaklah menjadi sebuah masalah yang besar. Karena sudah pasti publik sepak bola dunia akan jauh lebih menyoroti kiprah Qatar yang datang dengan status Raja Asia dan begitu menguasai persepakbolan benua.
Jadi, sehancur apa pun tim lainnya, para penggemar sepak bola dunia akan menganggapnya sebagai sebuah hal yang wajar. Mereka justru akan merasa sangat aneh ketika melihat Qatar yang menjadi tim nomor satu di benua Asia justru tampil selayak tim gurem di turnamen. Apalagi mereka juga kembali menuliskan capaian back to back posisi juru kunci.
Bahkan, gegara kedatangan Qatar di turnamen yang awalnya back-to-back juara Asia menjadi back-to-back tim juru kunci klasemen Piala Dunia, saya yakin di belahan dunia lain sana ada yang bergumam: "Ah, masak tim terbaik benua Asia hanya segitu kualitasnya? Kok bisa?"
Entahlah...
Baca Juga
-
Desa Les, Astra dan Pendidikan: Ngupapira Kearifan Lokal hingga Aksi Nyata yang Selangkah Mendahului
-
Viral! Pendaki Rinjani Bawa Sapi Hidup untuk Logistik, Publik Sebut Tindakan Ini Sudah Keterlaluan
-
Dua Sisi Kebijakan Prabowo: Antara Ambisi Ekonomi dan Matinya Perhatian pada Pendidikan
-
Bongkar Tuntas Final Piala Dunia 2026: Kenapa Tudingan Konspirasi Argentina Mengalah Itu Konyol?
-
Surat Terbuka untuk Ketua DPR: Jangankan Ngopi, ASN Guru Mau Liburan Saja Serba Salah!
Artikel Terkait
-
17 Daftar Pemain Muslim yang Bersinar di Piala Dunia 2026, Ada Yamal!
-
Harry Kane Sah Jadi Raja Gol Inggris di Piala Dunia, Rekor Legendaris Ini Tumbang
-
Inggris Hadapi Kongo di 32 Besar, Thomas Tuchel Tengil: Semua Orang Menikmatinya
-
Tampang Kapten Tanjung Verde yang Dituduh Pemerkosa Begini Kata FIFA
-
Gagal di Piala Dunia 2026, Arab Saudi Inginkan Jesus sebagai Juru Selamat
Hobi
-
Bali United Bertekad Dominasi Laga Kandang di BRI Super League 2026/2027
-
Jakarta Mulai Bersiap, 2 Lapangan Disiapkan untuk FIFA ASEAN Cup 2026
-
Pimpin Klasemen, Jorge Martin Tak Mau Ambisi jadi Juara Dunia Lagi?
-
Indonesia Hadapi Peserta Piala Dunia 2026, Cape Verde Jadi Kandidat Kuat?
-
Erick Thohir Tegaskan Komitmen terhadap Sepak Bola Putri, Ada Buktinya?
Terkini
-
Bosan Lari Gitu-Gitu Aja? Coba 5 Spot Jogging di Jogja Ini, Suasananya Asri Banget!
-
Viral Gegara Natalius Pigai, Ini 5 Buku Tipis Wajib Baca untuk Anak Muda yang Malas Baca Buku Tebal
-
4 Rekomendasi Buku dari Hyunjin Stray Kids, Ada 'Vegetarian' hingga 'Almond'!
-
Bye Kulit Kering! 4 Hydrogel Mask Korea Panthenol Kunci Skin Barrier Kuat
-
Dampak Domino AI di Depan Mata: Panduan Cerdas Beli Gadget Sebelum Harga Makin 'Gila'