Lintang Siltya Utami | Harsa Permata
Trofi Piala Dunia di Tengah Bendera-Bendera Peserta Piala Dunia (tribunademexico.com)
Harsa Permata

Saya memang sudah beberapa kali menulis tentang Messi, Maradona, dan Argentina. Akan tetapi, secara jujur, hati saya bukan hanya untuk Argentina.

Dalam Piala Dunia, hati saya untuk semua tim Amerika Latin, tim mana pun itu. Jadi kalau ada pertandingan Argentina vs Brasil, seperti babak 16 besar Piala Dunia 1990 di Italia—yang terkenal karena assist Maradona yang luar biasa terhadap Claudio Caniggia itu—terus terang, saya dukung dua-duanya. Jantung pun tidak terlalu berdebar jika dalam kompetisi Piala Dunia, dua tim Amerika Latin bertemu dalam fase gugur, atau knockout stage.

Untuk Eropa, saya hanya mendukung beberapa tim. Pertama itu Italia, yang tahun ini tidak lolos Piala Dunia. Kedua, Inggris, yang sepertinya butuh merenungkan kembali mental juara mereka. Ketiga, untuk tiga Piala Dunia terakhir saya juga dukung Kroasia, karena ada Luka Modric, pemain legenda yang mungkin saat ini bisa meneruskan julukan Gheorghe Hagi, yaitu sang Maradona dari Balkan.

Ayah saya almarhum, beliau selalu mendukung tim-tim yang menjalankan filosofi sepak bola menyerang dan bermain indah, seperti Brasil dan Belanda. Beliau kurang suka dengan tim Italia, karena mengedepankan strategi bertahan dalam pertandingan. Beliau lebih memilih mendukung timnas Belanda, karena filosofi total football mereka yang menyerang total. Selain itu, faktor Johan Cruyff—salah satu pemain sepak bola yang sangat dikagumi beliau, yang tahun wafatnya sama dengan tahun wafatnya ayah saya, yaitu tahun 2016—adalah hal yang membuat beliau menaruh hati pada tim Belanda.

Saya sebenarnya tidak terlalu fanatik dengan sepak bola menyerang atau bertahan. Sebagai mantan bek kiri semasa SMA, bagi saya, menjaga agar gawang tidak kebobolan juga tidak kalah pentingnya dengan aksi membobol gawang lawan. Karena pentingnya pertahanan inilah mungkin, pada perhelatan Piala Dunia kali ini, Brasil dibimbing oleh Pelatih sekaligus Manajer tim, Carlo Ancelotti dari Italia.

Untuk tim-tim Afrika, saya juga dukung, tapi tidak semua. Maroko, Senegal, Pantai Gading, Kamerun, Cape Verde, dan Nigeria adalah beberapa di antara tim Afrika yang saya dukung. Bagi saya, tim Afrika adalah tim yang dipenuhi oleh para pemain dengan bakat alam dan skill individu yang tinggi. Bahkan, pemain Brasil sekelas Vinicius Junior adalah salah seorang pemain yang leluhurnya berasal dari Kamerun.

Timnas Prancis bahkan adalah tim Eropa yang sebagian besar pemainnya adalah keturunan Afrika. Kylian Mbappe leluhurnya berasal dari Kamerun/Aljazair, Ousmane Dembélé dari Mali/Mauritania/Senegal, Aurélien Tchouaméni dari Kamerun, serta William Saliba yang leluhurnya juga dari Kamerun.

Bagaimana dengan tim Asia? Jelas saya dukung semua, khususnya Indonesia, jika nanti suatu saat berhasil lolos Piala Dunia. Masalahnya, pencapaian tim Asia paling jauh baru Semifinal pada tahun 2002. Saat itu Korea Selatan berhasil sampai fase tersebut, entah karena faktor tuan rumah atau lainnya.

Namun, peta sepak bola terus bergerak. Asia bukan lagi sekadar pelengkap yang mudah digulung oleh raksasa Eropa atau Amerika Latin. Kejutan-kejutan di turnamen belakangan ini, hingga semakin sengitnya babak kualifikasi menuju Piala Dunia 2026 saat ini, membuktikan bahwa jurang kualitas itu perlahan mulai terkikis.

Kita bisa lihat bagaimana tim-tim Eropa dibikin malu oleh timnas Jepang baru-baru ini. Jerman dikalahkan oleh mereka di laga friendly, sementara Belanda mereka tahan imbang di babak penyisihan Piala Dunia 2026.

Bagi saya, mendukung semua tim Amerika Latin adalah salah satu wujud solidaritas antara negara-negara Dunia Ketiga. Brasil, Argentina, Uruguay, Kolombia, Paraguay, dan seluruh tim Amerika Latin lainnya yang tahun ini belum lolos Piala Dunia, adalah negara-negara yang pemain sepak bolanya melimpah dan mewarnai kompetisi sepak bola di Eropa. Maradona, Romario, Ronaldo (R9), Messi, Neymar, dan lainnya adalah para pemain yang menemukan kejayaan dan memberi warna bagi sepak bola Eropa.

Maradona banyak memengaruhi para pemain Eropa, seperti Gianfranco Zola, Davor Suker, dan lain-lain. Romario, Ronaldo, dan Neymar adalah contoh pemain Brasil yang memenangkan berbagai trofi di Eropa untuk klub tempat mereka bermain dan menginspirasi para pemain di sana—Ronaldo Brasil misalnya, sangat dikagumi dan menginspirasi Zlatan Ibrahimovic. Messi juga banyak dikagumi dan menginspirasi para pemain Eropa.

Sementara itu, mendukung tim Asia bukan lagi soal solidaritas regional yang dipaksakan, melainkan sebuah harapan akan lahirnya sejarah baru. Dan tentu saja, di puncak harapan itu, ada nama Indonesia yang selalu kita semua doakan agar suatu saat—dalam waktu dekat—tidak hanya menjadi penonton di layar kaca.

Pada akhirnya, bagi saya, menikmati Piala Dunia adalah merayakan keberagaman isi kepala dan isi hati. Saya bisa melompat kegirangan menyaksikan magis warisan Maradona di Amerika Latin, takjub pada sihir Luka Modric di Eropa—baik ketika menyarangkan gol ke gawang lawan, maupun memanjakan para pencetak gol timnya dengan umpan-umpan matang—sekaligus berdebar penuh harap menanti fajar kebangkitan sepak bola Asia. Sepak bola, dengan segala romantisismenya, memang terlalu indah jika hanya dinikmati lewat satu warna bendera saja.