Nabilla Nurul
Nabilla Nurul
Sri Sultan Hamengku Buwono X pada saat dinobatkan pada tanggal 7 Maret 1989. (Kratonjogja.id)

Sejak dinobatkan sebagai Raja Yogyakarta pada 7 Maret 1989 silam, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan “Lima Tekad Dasar” kepemimpinan yang menjadi sebuah komitmen untuk memimpin dan membangun peradaban yang tinggi di wilayah kekuasaannya, Lima tekad tersebut, di antaranya:

  • Tekad pertama adalah tidak mempunyai prasangka, rasa iri dan dengki serta tetap hangrengkuh kepada siapa pun, baik terhadap mereka yang senang maupun yang tidak senang, bahkan juga terhadap yang menaruh rasa benci.
  • Tekad kedua adalah lebih banyak memberi daripada menerima.
  • Tekad ketiga adalah tidak melanggar paugeran Negara.
  • Tekad keempat adalah berani mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.
  • Tekad kelima adalah tidak memiliki ambisi apapun, selain senantiasa berusaha bagi kesejahteraan rakyat.

Kepemimpinan Etis Sri Sultan Hamengku Buwono X

Kelima tekad dasar tersebut menjadi landasan Sri Sultan HB X dalam menjalankan proses kepemimpinannya yang mengalir dan bertumpu pada nilai-nilai etika Sultan sebagai Raja yang mengemban amanat rakyat dengan menghargai dan menjunjung tinggi tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Hal ini sejalan dengan pengertian kepemimpinan etis (ethical leadership) yang disampaikan oleh Rawls (1971) yaitu kepemimpinan etis adalah aktivitas memimpin dengan cara mengetahui dan melakukan apa yang benar (ethical leadership is leading by knowing and doing what is right).

Selanjutya, Brown dan Treviño (2006) menjelaskan bahwasanya pemimpin etis memiliki kecenderungan mengedepankan sisi moralitas sebagai aspek utama dalam memimpin serta menekankan pentingnya faktor moral dalam upaya memimpin dan mempengaruhi orang lain guna mencapai suatu tujuan.

Sri Sultan HB X dikenal sebagai pemimpin yang amat menjunjung moralitas di mana beliau ikhlas mengabdi sebagai Sultan maupun Gubernur DIY dan senantiasa berusaha untuk mencapai kesejahteraan rakyatnya.

Salah satu bentuk kepemimpinan etis menurut Yukl (2013) adalah Kepemimpinan Spiritual (Spiritual Leadership) yaitu kepemimpinan yang memusatkan perhatian pada aspek “makna” dalam kepemimpinannya. Dalam memberikan makna dalam kepemimpinanya Sri Sultan HB X menjelaskan bahwa setiap keputusan yang diambilnya merupakan sebuah ketegasan sikap rohani.

Menurut Paul G. Stoltz (2003) kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk merasa, memahami, dan menemukan bagian yang lebih tinggi dari diri kita, dari orang lain, dan dari dunia sekeliling kita.

Ciri khas kepemimpinan para Sultan di Jogja adalah Visi-misi, kebijakan-kebijakan, dan pengambilan keputusan-keputusan adalah hasil pergumulan rohani yang tidak hanya mengedepankan pemikiran egoistik dan primordialistik, kepentingan politis, dan keuntungan ekonomi semata tapi juga mencari kehendak Tuhan sebelum memutuskan sesuatu demi kebaikan masyarakat banyak.

Kepemimpinan Visioner Sri Sultan Hamengku Buwono X

Menurut Corinne McLaughlin kepemimpinan visioner (visionary leaders) adalah pemimpin yang mampu memandang sesuatu jauh ke depan secara utuh dan strategis dengan menggunakan intuisi dan imajinasi, penghayatan, dan keberanian. Seorang pemimpin yang visioner menganggap tantangan sebagai sebuah pemicu yang terbaik bagi organisasi untuk kemudian mengolahnya menjadi sesuatu yang menggugah para anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.

Pada Sarasehan 32 Tahun Jumenengan Dalem Sri Sultan HB X yang diselenggarakan pada Minggu (7/3/2021) Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY Robby Kusumaharta, menyampaikan bahwa Sri Sultan HB X adalah pemimpin yang visioner ditunjukan dengan beliau yang mampu membangun ekonomi masyarakat Jogja dengan menghadirkan iklim bisnis yang kondusif.

"Meski DIY tidak memiliki banyak sumber daya alam, tapi dengan program-program percepatan ekonomi yang dikeluarkan oleh Sultan, selaku Gubernur DIY, kesejahteraan masyarakat bisa terus meningkat," katanya.

Salah satu program percepatan ekonomi yang dicanangkan Sri Sultan HB X adalah program pengembangan desa wisata, yang saat ini sudah bermunculan sejumlah desa wisata di DIY. Konsep desa wisata ini telah mampu menimbulkan dampak yang positif bagi ekonomi dan kesejahteraan warga masyarakat Yogyakarta. Selain itu, Robby juga menambahkan dengan terciptanya iklim bisnis yang kondusif maka dapat menarik investor untuk berinvestasi di Jogja.

“Termasuk soal investasi karena bijaknya seorang pemimpin, jadi investor tidak khawatir ketika akan berinvenstasi di DIY karena merasa di Jogja paling konsisten, jelas, kalau daerah lain begitu kacau karena peraturannya berubah-ubah,” Kata Robby menambahkan.

Selanjutnya, Profesor Edy Suandi Hamid menyampaikan sebagai pemimpin yang visioner Sri Sultan HB X memiliki kepedulian yang besar terhadap pendidikan. Sebagai orang yang memperoleh enam gelar Doctor Honoris Causa dari kampus dalam dan luar negeri Sri Sultan HB X seringkali memaparkan kritik membangun dan menawarkan solusi perbaikan untuk generasi muda lewat pendidikan karakter.

“Apa yang disampaikan beliau sebagai bentuk kepedulian yang besar terhadap pendidikan, memberi catatan kritis pendidikan karakter yang belum menghasilkan apa yang kita harapkan dalam outputnya memang masih banyak masalah. Tetapi Sri Sultan saat itu memberikan solusi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, budaya,” kata Edy

"Ngarsa Dalem jugalah yang mendorong kurikulum berbasis kearifan lokal dimasukkan dalam pembelajaran. Ya, demi mencetak generasi muda yang unggul sekaligus memiliki karakter yang baik dan berintegritas," cetusnya menambahkan.

Kemudian Koordinator Sekber Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putra dalam kesempatan yang sama mengaku pernah mengalami perjumpaan dengan Sri Sultan HB X pada saat era reformasi 1998 dimana situasi ekonomi dan politik bangsa saat itu sedang sulit dan Sri Sultan HB X sedang memperjuangkan keistimewaan DIY, menurutnya di kondisi sulit sekalipun Sri Sultan HB X tetap mampu menunjukkan kapabilitasnya sebagai pemimpin yang bijak dan berintegritas.

“Karena saat orde baru DIY ini saat itu digantung kondisinya oleh pusat, ini situasi yang sulit, tetapi Ngarso Dalem [HB X] sangat arif ketika itu,” kata Widihasto yang juga merupakan mantan Aktivis 98.

Tiga puluh dua tahun menjabat sebagai Raja dan Sultan DIY, Sri Sultan HB X senantiasa berupaya membawa perubahan pada Jogja untuk mencapai cita-cita pembangunan yang ditujukan dengan program-program visioner yang dicetuskan demi untuk semata-mata kesejahteraan masyarakat, namun ditengah perubahan yang ada Sri Sultan HB X tetap melandaskan kepemimpinannya pada nilai-nilai dan moral adat istiadat jawa dan memegang teguh lima tekad dasar kepemimpinannya sehingga Sri Sultan HB X dapat membawa DIY mewujudkan tujuan pembangunan dengan tidak menghilangkan nilai, moral, dan tradisi lokal didalamnya.


Referensi:

  • Brown, Michael E., & Linda K. Treviño. (2006). Ethical Leadership: A Review and Future Directions. The Leadership Quarterly, (7), 595-616.
  • Masrurroh, W. A. (2013). Gaya Komunikasi dalam Kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono Xsebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. https://www.academia.edu/5482348/GAYA_KOMUNIKASI_DALAM_KEPEMIMPINAN_SRI_SULTAN_HAMENGKU_BUWONO_X_SEBAGAI_GUBERNUR_DIY
  • Mastiyanto, A. (2021, Mei 23). Hidup Mukti, Jalan Hidup Raja Jawa HB X. Retizen. Retrieved 6 8, 2021, from https://retizen.republika.co.id/posts/11110/hidup-mukti-jalan-hidup-raja-jawa-hb-x
  • Rawls, J. (1971). A Theory of Justice. Belknap Press of Harvard University Press.
  • Tribun. (2021, 3 8). Selama 32 Tahun Bertahta, Ini Apresiasi Sepak Terjang Kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tribun Jogja. Retrieved 6 8, 2021, from https://jogja.tribunnews.com/2021/03/08/selama-32-tahun-bertahta-ini-apresiasi-sepak-terjang-kepemimpinan-sri-sultan-hamengku-buwono-x
  • Yukl, Gary. (2013). Leadership in Organizations (8th Edition). New Jersey: Pearson Education, Inc.