Keberadaan media sosial membuat siapa pun bisa menjadi orang terkenal. Bukan hanya mereka yang sudah menjadi pesohor, kini orang-orang biasa pun bisa menjadi selebritas melalui media sosial.
Jika mendengar bagaimana sulitnya para pesohor zaman dulu mendapatkan popularitas mereka, keadaannya sungguh berbanding terbalik dengan masa sekarang. Dahulu, untuk menjadi seorang artis atau selebritas, dibutuhkan begitu banyak upaya dan pengorbanan, serta waktu yang panjang untuk membangun ketenaran. Bahkan, orang-orang berbakat sekalipun harus memulai karier mereka dari nol.
Sebelumnya, muncul di televisi menjadi begitu mahal. Hanya orang-orang terpilih yang lolos seleksi alam dan bertahan dalam industri hiburan yang tampil di hadapan seluruh negeri melalui televisi. Karena itu pula, banyak artis-artis legendaris yang namanya tidak lekang oleh waktu. Mereka dikenal oleh generasinya, juga generasi-generasi setelahnya. Tak jarang, nama mereka tetap melekat di hati meski sudah tiada.
Namun, kini segalanya sudah bisa dilakukan dengan instan, tanpa perlu bakat atau berusaha mati-matian. Banyak orang berpikir mereka bisa terkenal dengan cepat. Caranya, mereka hanya tinggal melakukan hal yang kontroversial dan mengunggahnya di media sosial. Lantas, tiba-tiba saja mereka muncul di televisi, diundang wawancara di sana-sini, dan kehidupan pribadinya mendadak jadi konsumsi publik.
Padahal, orang-orang tersebut tidaklah menghasilkan suatu karya atau memiliki bakat yang bisa dibanggakan. Tak sedikit pula dari mereka yang terkenal karena suatu hal yang sebenarnya sia-sia atau bahkan tidak baik untuk dicontoh. Mirisnya, banyak orang pula yang masih menyukai sesuatu seperti ini. Mereka memberikan perhatian pada hal yang sebenarnya membuat mereka sendiri tidak habis pikir.
Meski tentu saja, ketenaran yang didapatkan secara instan akan menghilang dengan cepat pula. Satu selebritas yang namanya naik daun hari ini akan digantikan oleh orang yang tak kalah menuai polemik pada esok hari. Akibatnya, banyak orang yang tak lagi berlomba untuk menghasilkan karya, melainkan bersaing dalam melahirkan hal yang kontroversial.
Oleh karena itu, mari kita menjadi pemakai media sosial yang bijak dan beradab. Apa yang akan kita katakan dan perbuat di media sosial, apa yang kita tonton dan dengar, serta apa yang kita tanggapi pada akhirnya juga akan turut memperlihatkan kualitas diri kita sendiri.
Baca Juga
-
Wajib Tahu! Ini 3 Alasan Pentingnya Riset bagi Penulis
-
Selamat! Go Ayano dan Yui Sakuma Umumkan Pernikahan Mereka
-
Selamat! Keita Machida Resmi Menikah dengan Aktris Korea-Jepang Hyunri
-
4 Manfaat Membuat Kerangka Karangan dalam Kegiatan Menulis
-
NiziU Nyanyikan Lagu Tema Film Animasi 'Doraemon: Nobita's Sky Utopia'
Artikel Terkait
-
Gua Berusia Ratusan Tahun di Bali Dijadikan Restoran, Netizen Cemas: Lagi Makan Kejatuhan Stalakmit
-
5 Cara Memanfaatkan Media Sosial, Tertarik Mencoba?
-
Sempat Suudzon Andhika Pratama Berubah, Ussy Sulistiawaty Syok Tahu Faktanya
-
Dhena Devanka Ngaku Tak Dinafkahi, Jonathan Frizzy: Bulan Ini Aku Kirim Rp10 Juta
Kolom
-
Mengakarnya Budaya Patriarki dan Absennya Peran Ayah di Rumah Tangga
-
Real or AI: Krisis Nalar Kritis Kala Konten AI di Media Sosial Kian Nyata
-
Belajar Berjalan Lebih Pelan: Menemukan Ketenangan di Tengah Dunia yang Berisik
-
Merokok, Pola Asuh Ayah, dan Persepsi Kesehatan Anak Lintas Generasi
-
Digitalisasi Industri dan Ancaman Pengangguran Struktural
Terkini
-
Niat Cari Jajanan Kaki Lima, Turis di Tailan Malah Disuguhi Makanan di Acara Duka
-
Harga Terjun Bebas! 5 Flagship Ini Makin Masuk Akal Dibeli
-
4 Serum Anti-Aging Tanpa Pewangi dan Alkohol yang Gentle untuk Kulit Sensitif
-
Mengenal Legenda Putri Mandalika di Balik Tradisi Bau Nyale 2026 di Lombok Tengah
-
Membaca Lebih Putih Dariku: Perjuangan Identitas di Tengah Rasisme