M. Reza Sulaiman | Nurul Huda
ilustrasi gambar (pexels_Foto oleh Melike B)
Nurul Huda

Beberapa tahun lalu, saya pernah duduk sendirian di kamar indekos setelah pulang kerja. Baju masih sama sejak pagi, tas belum dibuka, dan laptop menyala tanpa benar-benar saya perhatikan. Ponsel di tangan, sementara notifikasi masuk satu per satu.

Anehnya, saya tidak sedang melakukan apa pun yang berat, tetapi rasanya sangat lelah. Bukan lelah fisik, melainkan lebih seperti kepala yang terlalu penuh. Malam itu saya sadar, hidup saya terasa berisik meski sedang sendirian.

Waktu itu, hari-hari saya berjalan cepat. Bangun pagi dengan perasaan harus segera bergerak, mengisi jeda dengan membuka ponsel, lalu tidur sambil memikirkan hal-hal yang belum sempat dilakukan. Saya terbiasa menilai hari dari seberapa sibuk saya terlihat. Jika tidak ada yang dikerjakan, muncul rasa bersalah. Seolah-olah diam berarti malas, dan jeda berarti tertinggal.

Saya ingat satu akhir pekan ketika semua rencana tiba-tiba batal. Tidak ada undangan, tidak ada agenda, tidak ada alasan untuk keluar rumah. Awalnya saya gelisah. Saya bolak-balik membuka ponsel, berharap ada sesuatu yang mengisi hari itu, tetapi tidak ada. Akhirnya saya membuat kopi, duduk di dekat jendela, dan membiarkan waktu berjalan begitu saja. Sunyi, tetapi anehnya tidak sepenuhnya menyiksa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya tidak merasa sedang dikejar sesuatu.

Dari situ, saya mulai sadar bahwa hidup saya terlalu penuh oleh hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu saya nikmati. Bukan hanya soal barang atau aktivitas, melainkan juga kebiasaan untuk selalu merasa harus ada di mana-mana.

Saya sering melakukan sesuatu bukan karena ingin, melainkan karena takut tertinggal (fear of missing out). Takut dianggap tidak produktif atau takut hidup saya terlihat biasa saja.

Perubahan saya tidak besar dan tidak dramatis. Saya tidak tiba-tiba menjadi orang yang selalu tenang. Saya hanya mulai memilih: mengurangi agenda yang sebenarnya membuat saya lelah, tidak selalu membalas pesan dengan cepat, dan membiarkan beberapa hari berjalan biasa tanpa mencoba membuatnya terlihat “berarti”.

Awalnya terasa canggung. Ada rasa bersalah dan ada suara kecil di kepala yang mengatakan bahwa saya sedang menyia-nyiakan waktu.

Suara itu masih ada sampai sekarang, tetapi saya mulai tidak selalu menuruti. Saya mulai percaya bahwa hidup tidak harus selalu diisi agar layak dijalani. Ada hari-hari yang berjalan datar tanpa pencapaian atau cerita menarik, dan itu tidak selalu buruk. Justru di situ saya mulai merasa lebih "hadir".

Bagi saya, hidup sederhana bukan berarti menolak ambisi atau berhenti bermimpi. Ini lebih kepada berhenti menumpuk semuanya sekaligus. Saya masih memiliki tanggung jawab dan keinginan, tetapi saya tidak lagi memaksakan semuanya berjalan cepat. Saya belajar menerima bahwa ritme setiap orang berbeda, dan saya tidak harus mengikuti semuanya.

Mungkin dari luar hidup saya sekarang terlihat lebih sepi, lebih jarang terlihat sibuk, atau lebih jarang muncul di mana-mana. Namun di dalam, saya merasa sedikit lebih utuh. Saya bisa menikmati pagi tanpa terburu-buru dan bisa pulang tanpa merasa hari ini gagal hanya karena tidak ada hal besar yang terjadi.

Saya tidak tahu apakah ini akan selalu berhasil. Ada hari ketika saya kembali merasa sesak, lalu mengingat lagi alasan saya memilih berjalan lebih pelan. Hidup saya tidak menjadi sempurna atau selalu tenang, tetapi rasanya lebih bisa diterima. Lebih jujur. Dan untuk sekarang, itu cukup.