Hayuning Ratri Hapsari | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi AI (pixabay.com/koshinuke_mcfly)
Yayang Nanda Budiman

Media sosial tak lagi sekadar ruang berbagi kabar dan cerita personal. Ia telah menjelma menjadi arena produksi realitas. Di ruang digital ini, apa yang tampak kerap dianggap benar, dan apa yang viral sering kali disamakan dengan fakta.

Ketika teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk ke dalam ekosistem tersebut, batas antara kenyataan dan rekayasa semakin kabur. Realitas tidak lagi sekadar dipelintir, melainkan direkayasa dengan presisi tinggi.

Dalam beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial dipenuhi video manipulasi berbasis AI. Tokoh publik seolah mengucapkan pernyataan tertentu yang tak pernah mereka sampaikan. Peristiwa tampak nyata, padahal tak pernah terjadi.

Adegan dramatis diproduksi bukan oleh kamera jurnalistik, melainkan oleh algoritma. Persoalannya bukan hanya pada kecanggihan teknologi ini, tetapi pada daya rusaknya terhadap nalar kritis publik.

Kelompok yang paling rentan adalah generasi orang tua. Bagi banyak dari mereka, visual masih dianggap sebagai bukti paling sahih. Logika “kalau sudah ada videonya, berarti benar” bekerja nyaris tanpa filter. Asumsi ini kini runtuh.

Teknologi deepfake dan generative AI mampu meniru ekspresi wajah, intonasi suara, dan gerak tubuh dengan tingkat kemiripan yang sulit dibedakan dari kenyataan. Video tak lagi menjamin kebenaran, tetapi justru menjadi medium paling efektif untuk menipu.

Masalah ini diperparah oleh budaya konsumsi informasi yang serba cepat dan emosional. Informasi dikonsumsi tanpa jeda untuk berpikir, apalagi memverifikasi. Banyak pengguna media sosial menerima konten secara mentah, lalu menyebarkannya kembali karena dorongan marah, takut, atau iba. Dalam situasi semacam ini, konten manipulatif berbasis AI dapat menyebar ratusan kali hanya dalam hitungan jam, lengkap dengan komentar yang saling menguatkan kebohongan sebagai kebenaran bersama.

Hoaks berbasis AI jauh lebih berbahaya dibanding hoaks konvensional. Jika hoaks teks masih menyisakan ruang skeptisisme, hoaks visual bekerja langsung pada persepsi. Ia memotong proses berpikir rasional dan langsung menyasar emosi.

Ketika generasi orang tua mempercayai video palsu tentang isu politik, kesehatan, atau keamanan sosial, dampaknya tak berhenti pada kesalahpahaman personal. Ia bisa memicu kepanikan, konflik sosial, bahkan keputusan keliru dalam kehidupan nyata.

Persoalan ini sejatinya bukan semata soal teknologi, melainkan soal kesiapan sosial. Negara dan platform digital tampak selalu selangkah di belakang inovasi. Regulasi berjalan tertatih, sementara edukasi publik tak kunjung menjadi prioritas.

Literasi digital masih dipersempit sebagai kemampuan menggunakan gawai, bukan kecakapan kritis untuk menilai informasi. Padahal, di era AI, kemampuan membedakan realitas dan rekayasa adalah keterampilan dasar warga digital.

Di tengah kelambanan struktural itu, peran keluarga dan komunitas menjadi krusial. Generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi memiliki tanggung jawab etis untuk mendampingi orang tua. Bukan dengan nada menggurui, apalagi merendahkan, melainkan dengan membangun kebiasaan skeptis yang sehat.

Mengajarkan langkah sederhana seperti memeriksa sumber akun, membandingkan dengan media kredibel, atau mengenali ciri visual konten AI dapat menjadi benteng awal menghadapi manipulasi digital.

Sementara itu, platform media sosial tak bisa terus berlindung di balik dalih netralitas teknologi. Algoritma yang memprioritaskan keterlibatan dan viralitas tanpa mempertimbangkan kebenaran telah ikut menyuburkan konten manipulatif. Penandaan konten hasil AI, transparansi algoritma, serta mekanisme pelaporan yang efektif seharusnya menjadi standar operasional, bukan sekadar jargon etika.

Jika situasi ini dibiarkan, kepercayaan publik berada di ujung tanduk. Ketika segala sesuatu bisa direkayasa, masyarakat kehilangan pegangan bersama tentang apa yang nyata. Dalam kondisi seperti itu, publik mudah terpecah, saling curiga, dan kehilangan orientasi. Demokrasi, solidaritas sosial, bahkan relasi dalam keluarga bisa ikut menjadi korban.

Teknologi AI pada dasarnya netral. Ia adalah alat, dan seperti alat lain, bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Tantangan terbesar hari ini adalah memastikan bahwa laju kecanggihan tidak melampaui kebijaksanaan kolektif.

Tanpa penguatan nalar kritis dan literasi digital, terutama bagi generasi orang tua yang rentan, media sosial akan terus menjadi ladang ilusi, sementara realitas perlahan tersingkir dari ruang publik.