Implementasi Kurikulum Merdeka resmi ditetapkan oleh Kemendikbudristek yang serentak dilaksanakan pada tahun ajaran baru 2022/2023. Melalui Siaran Pers Kemendikbudristek Nomor 413/sipers/A6/VII/2022 Kemendikburistek membantah isu bahwa Implementasi Kurikulum Merdeka batal dilaksanakan.
Implementasi Kurikulum Merdeka memang menjadi bagian dari wujud konkret pelaksanaan Kurikulum Merdeka yang digagas oleh Nadiem Makarim. Kurikulum Merdeka digagas sebagai jalan tengah untuk meningkatkan dan memulihkan kembali kualitas pendidikan kita.
Kurikulum Merdeka menjadi kurikulum baru yang diharapkan mampu mewujudkan pendidikan yang semakin berkualitas dan seiring dengan dinamika zaman terutama generasi milenial. Perubahan yang terjadi pada anak dan remaja kita terutama berhubungan dengan interaksi mereka dengan teknologi digital menuntut tidak hanya guru tetapi secara luas terhadap kurikulum pendidikan yang harus menyesuaikan.
Sebagai kurikulum baru, Kurikulum Merdeka memang sempat mendapatkan banyak respons dan tanggapan dari masyarakat. Pro dan Kontra terhadap kebijakan memang sudah menjadi hal yang wajar serta merupakan dinamika yang terjadi di lingkungan pendidikan.
Nadiem Makarim dituntut untuk meyakinkan kepada publik dan stake holder di dunia pendidikan bahwa Kurikulum Merdeka ini memang cocok dan sesuai dengan perkembangan terkini di dunia pendidikan.
Tantangan di dunia pendidikan terutama perubahan dan perkembangan teknologi digital menuntut guru dan juga pelaku pendidikan bisa beradaptasi dengan cepat. Terutama setelah terjadinya wabah virus Covid-19, dunia termasuk di Indonesia dituntut untuk adaptif bergeser dari pola hubungan yang serba fisik menjadi teknologis. Ini menuntut pula pada pola pergeseran budaya di masyarakat kita termasuk di dunia pendidikan.
Kecakapan Digital
Kurikulum Merdeka adalah salah satu kurikulum yang menuntut para pelaku pendidikan memiliki kecakapan teknologis. Di abad digital seperti sekarang ini, bukan hanya menuntut guru untuk ganti handphone, tetapi juga berlari mengejar anak-anak kita dalam mengikuti perkembangan dunia digital.
Guru dituntut untuk tidak hanya mengenali budaya anak didiknya yang akrab dan lekat dengan dunia digital, tetapi juga beradaptasi dan menyesuaikan serta mendampingi anak-anak kita dalam literasi teknologis.
Pandemi membawa perubahan kultur belajar yang semula berbau fisik dan sentuhan psikologis dengan pembelajaran tatap muka, kini mulai memadukan sistem pembelajaran hybrid (luring dan daring).
Proses pembelajaran di abad digital ini menuntut guru untuk memahami, dan menguasai media dan medium belajar yang serba teknologis. Guru dituntut untuk menguasai segala media yang bisa digunakan sebagai ruang berkreasi dan ruang belajar bersama muridnya.
Implementasi Kurikulum Merdeka pada akhirnya juga menuntut guru untuk menguasai kecakapan digital. Guru harus menguasai dan memanfaatkan internet sebagai ruang untuk berkreasi, bereksplorasi dan juga mengawal anak-anak milenial belajar tanpa rasa bosan.
Hadirnya bimbingan belajar Online tidak boleh mengalahkan peranan guru yang dituntut untuk cakap dan terampil belajar secara teknologis. Apabila guru hanya berada di ruang atau zona nyaman, maka mustahil Kurikulum Merdeka bisa didekatkan dengan lingkungan anak yang sudah serba teknologis.
Tantangan
Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka sebenarnya terletak pada sekolah, dan juga kesiapan guru. Kesiapan dan keberanian sekolah untuk berani bereksplorasi, berinovasi dan berkreasi sesuai dengan kebutuhan sekolah dan siswa membawa Implementasi Kurikulum Merdeka bisa dilaksanakan dengan baik.
Sekolah yang tidak adaptif terhadap perkembangan zaman, tidak responsive dan pasif hanya akan menjadi penonton di kubangan sejarah. Sekolah yang aktif, responsive dan adaptif akan menjadi pemenang di era kurikulum merdeka atau kurikulum digital seperti sekarang.
Aplikasi dan juga medium belajar untuk guru dan murid sudah disediakan oleh Kemendikbudristek, apabila sekolah dan guru tidak menjemput bola dan merespon perkembangan ini, maka sekolah akan terseok-seok mengikuti perkembangan terkini di dunia pendidikan.
Dunia yang semakin cepat perkembangannya ini menuntut guru terus berlari dan responsive terhadap perubahan yang terjadi di dunia siswa maupun di dunia pendidikan pada umumnya.
Sudah bukan eranya lagi guru dan sekolah kaku mempertahankan kultur lama tetapi tidak mau tahu perkembangan terkini. Sekolah dan guru harus terus dinamis dan terus maju dengan tidak meninggalkan nilai-nilai keadaban dan juga kearifan sekolah yang tetap dijaga dalam dunia pendidikan.
Kesungguhan sekolah dan guru itulah yang kini menjadi tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka. Tanpa kesungguhan dan keberanian guru untuk terus belajar dan berinovasi, Implementasi Kurikulum Merdeka hanya akan menjadi pepesan kosong semata.
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Menelisik Kiprah Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan dan Politik Indonesia
-
Generasi Unggul: Warisan Ki Hajar Dewantara, Mimpi Indonesia Emas 2045?
-
Jalan Terjal Politik Ki Hajar Dewantara: Radikal Tanpa Meninggalkan Akal
-
Adab Al Ghazali Jadi Omongan, Buntut Dipakaikan Kaos Kaki oleh Asisten
-
Dari Ruang Kelas ke Panggung Politik: Peran Taman Siswa dalam Membentuk Identitas Bangsa
Kolom
-
AI Ghibli: Inovasi atau Ancaman Para Animator?
-
Menelisik Kiprah Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan dan Politik Indonesia
-
Penurunan Harga BBM: Strategi Pertamina atau Sekadar Pengalihan Isu?
-
Jumbo: Langkah Berani Animasi Lokal di Tengah Dominasi Horor
-
Ketimpangan Ekonomi dan Pembangunan dalam Fenomena Urbanisasi Pasca-Lebaran
Terkini
-
Ulasan Buku Jadilah Pribadi Optimistis, Lebih Semangat Mengarungi Kehidupan
-
MBC Resmi Tunda Penayangan Drama 'Crushology 101', Ternyata Ini Alasannya
-
Lee Shin Young Akan Bergabung dalam Drama 'The Moon Flows Over the River'
-
Tayang Mei, Bae Doo Na Alami Cinta Tak Terkendali dalam Film Korea Virus
-
Tragedi di Pesta Pernikahan dalam Novel Something Read, Something Dead