Jika seseorang pernah mengalami perundungan, baik saat kecil maupun remaja, ingatan itu tidak akan hilang begitu saja. Ada perasaan tidak aman, dan bahkan rasa rendah diri bisa terbawa hingga dewasa.
Mereka berkata waktu akan menyembuhkan segalanya, tetapi nyatanya luka yang tertanam lama akan menetap dan menolak dilupakan. Hal ini terjadi karena ejekan dan tindakan yang merendahkan bukan hanya menyakiti di permukaan, tetapi juga perlahan membentuk pikiran negatif yang terus menyalahkan diri sendiri.
Ketika kalimat-kalimat negatif diulang terus-menerus, tubuh dan pikiran mulai menganggapnya sebagai kebenaran. Akibatnya, banyak orang tumbuh dengan kecemasan, rasa takut akan penolakan, dan kebiasaan meragukan diri sendiri, tanpa menyadari bahwa semua itu merupakan hasil dari pengalaman bullying di masa lalu.
Meski begitu, masih ada jalan untuk pulih dari semua itu. Bukan dengan melupakan masa lalu, melainkan dengan perlahan membangun kembali harga diri atau kepercayaan diri yang sempat runtuh.
Apa Itu Self-esteem Recovery dan Mengapa Kita Harus Belajar Menerima Diri?
Self-esteem recovery adalah proses pelan-pelan membangun kembali rasa berharga yang pernah terkikis karena pengalaman direndahkan, dihakimi, atau disakiti. Proses ini bukan berarti harus menjadi pribadi yang baru, melainkan mengingat kembali siapa diri kita sebelum semua luka itu membuat kita ragu.
Banyak orang tumbuh dengan pemikiran bahwa diri mereka “aneh”, “berbeda”, atau “kurang berharga” karena terlalu sering menerima ucapan kasar dan perlakuan buruk dari orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman bullying erat kaitannya dengan rendahnya harga diri dan kemampuan bertahan secara emosional. Artinya, luka itu bukan sesuatu yang sementara, tetapi bisa membentuk cara kita memandang diri sendiri dalam jangka panjang.
Menerima diri sendiri bukan berarti membenarkan luka yang pernah diterima, melainkan berhenti memusuhi diri sendiri atas hal-hal yang bukan kesalahan kita. Saat kita mulai belajar menerima diri apa adanya, kita perlahan memutus suara-suara negatif yang dulu diucapkan orang lain. Penerimaan ini penting karena tanpa itu, proses pemulihan menjadi jauh lebih sulit.
Cara memulihkan diri: Langkah Pelan untuk Menyusun Kembali Harga Diri
Memulihkan diri dari luka akibat perundungan memang tidak segampang yang dikira. Tidak bisa dalam waktu semalam luka batin itu akan langsung sembuh dan korban beraktivitas lagi seperti sedia kala.
Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan agar perasaan sakit hati karena bullying bisa tersembuhkan. Dengan cara yang perlahan namun tepat kita bisa membangun kembali harga diri maupun kepercayaan diri yang sempat rapuh.
- Sadari luka yang pernah dialami dan pahami bahwa rasa sakit akibat perundungan itu nyata dan tidak dibuat-buat.
- Coba bicara baik-baik pada diri sendiri dengan mengganti pikiran negatif menjadi kata-kata yang lebih lembut.
- Lakukan hal kecil untuk merawat diri, seperti menulis perasaan, istirahat saat lelah, dan penting juga menjaga batasan diri. Menjaga batasan diri berarti memastikan kita tidak melakukan hal yang membuat diri merasa tidak nyaman dan berani mengatakan “tidak” pada sesuatu yang sudah melampaui kemampuan kita.
- Pilih lingkungan yang aman dengan mencari tempat dan orang yang membuat kita merasa nyaman dan tidak dihakimi.
- Dapatkan dukungan dari teman, komunitas, atau tenaga profesional untuk membantu melalui proses pemulihan.
- Bangun kembali rasa percaya diri secara perlahan agar harga diri bisa tumbuh kembali dan membuat kita menjadi versi pribadi yang lebih tenang.
Penutup: Sembuh Bukan Berarti Harus Sempurna, Tapi Saat Kita Bangga Menjadi Diri Sendiri
Sembuh bukan berarti menghapus semua memori tentang luka di masa lalu atau menjadi sosok yang kuat dan tegar. Sembuh adalah ketika kita bisa berhenti memaksa diri menjadi versi diri yang disukai semua orang. Jika rasa ragu datang kembali, itu tidak apa-apa. Yang penting, kita tidak lagi membiarkan luka lama menentukan seberapa besar nilai diri kita.
Bangga menjadi diri sendiri tidak perlu langsung tercapai, tapi dibangun sedikit demi sedikit setiap hari. Kita belajar untuk menghargai diri, berhenti membandingkan dengan orang lain, dan memberi ruang bagi diri untuk berkembang. Tidak perlu terburu-buru karena ini bukan perlombaan. Yang terpenting adalah kita bisa menerima diri sendiri, baik kekurangan maupun kelebihan yang dimiliki.
Baca Juga
-
'Tamu Bulanan' Bukan Musuh: Saatnya Normalisasi Obrolan Menstruasi
-
Warisan Himmel: Ketika Karakter Anime Mengubah Cara Kita Berbuat Baik
-
Imajinasi Saja Tidak Cukup, Menulis Fiksi Juga Butuh Riset
-
Maaf-maafan Cuma Formalitas, Banding-bandingin Itu Prioritas: Sisi Gelap Crab Mentality
-
Wajib Tahu! Bedanya Parfum Siang dan Malam yang Bikin Wangimu Makin Sempurna
Artikel Terkait
-
Generasi Muda dalam Ancaman menjadi Pelaku dan Korban Bullying
-
Bahasa Kita Membentuk Dunia: Ubah Cara Bicara, Ubah Lingkungan
-
Mengulik Defender, Pembela yang Kadang Menjadi Target Serta Dampaknya
-
Ternyata, Pelaku Bullying Itu Bukan Selalu Orang Jahat: Kenapa Orang Baik Ikut Terlibat?
-
Budaya Diam di Sekitar Kita: Mengapa Perilaku Bullying Terus Terjadi?
Kolom
-
Kenapa Indonesia Butuh Susu Ibu Hamil, tapi Negara Lain Tidak?
-
Dilema Generasi Muda Masa Kini: Antara Gaya Hidup dan Kecemasan Finansial
-
Santai Saja! Nilai Rupiah Menyentuh Rp17.000 per Dolar AS, Bukan Alasan untuk Panik
-
Kriminalisasi Kreativitas: Saat 'Editing' Video Dianggap Gratis oleh Jaksa
-
'Tamu Bulanan' Bukan Musuh: Saatnya Normalisasi Obrolan Menstruasi
Terkini
-
Tak Kenal Maka Taaruf: Film Religi Buat Kamu yang Punya Trauma Jatuh Cinta!
-
Kim Se Jeong Berpeluang Jadi Pemeran Utama di Drama Korea High School Queen
-
Bertabur Visual, Review Lagu BTS '2.0': Manifesto dan Transformasi Diri
-
Infinix XPAD 20 Pro: Tablet Rp 2 Jutaan Rasa Laptop Mini, Nyaman untuk Kerja dan Hiburan
-
Belajar Memaknai Kamis Putih lewat Lagu Membasuh dari Hindia