Berita mahasiswa yang mengakhiri hidup karena mengalami masalah kesehatan mental terjadi di Malang beberapa waktu lalu, bukan sekali dua kali, sebelumnya kita pun sudah beberapa kali mendengar kasus serupa, belum terhitung kasus-kasus yang tidak terendus oleh media.
Kasus ini menjadi pengingat sekaligus peringatan bagi kita bahwa peduli terhadap kesehatan mental itu penting, terlebih untuk remaja yang memasuki quarter life crysis. Selama ini remaja dipandang sebagai masa-masa emas (the golden moment) dalam hidup yang mana jika seseorang bisa memanfaatkannya dengan baik, maka akan berdampak positif bagi masa depan.
Maka, orang menganggap masa remaja harus diisi dengan hal-hal positif seperti prestasi, pengalaman, mencari relasi sebanyak mungkin, dan lain-lain. Pendapat tersebut memang benar adanya, di usia seperti itu tentu remaja masih punya banyak waktu dan tenaga untuk mendapat apa yang mereka mau.
Namun, satu yang masih sering luput dari perhatian kita yakni kesehatan mental mereka. Anggapan bahwa masa remaja harus diisi dengan hal positif tadi secara tidak langsung membuat remaja berlomba-lomba memperoleh pencapaian, dampak negatifnya tak sedikit dari mereka yang merasa tertekan, minder, juga depresi apabila apa yang diperoleh belum sebanding dengan teman sebayanya.
Belakangan ini, beberapa kali kita mendengar berita mahasiswa yang meninggal baik karena sakit maupun mengakhiri nyawanya sendiri. Dibalik status borjuis (terhormat) yang disandang mahasiswa, mereka juga banyak menemui permasalahan dalam dirinya, mulai dari penyesuaian dengan tempat baru, menemukan kehidupan sosial yang kompleks, serta tekanan akademik yang tinggi. Tak heran jika remaja seusia mereka rentan terkena masalah kesehatan, terlebih kesehatan mental.
Jika ditilik dari ulasan di atas, lantas siapa yang bersalah dengan maraknya kasus remaja yang terkena masalah kesehatan mental bahkan sampai bunuh diri? Untuk menjawabnya, tentu tidak adil jika menyalahkan satu pihak saja, yang jelas lingkungan terdekatlah yang berperan penting terhadap kesehatan mental remaja selain remaja itu sendiri.
Dengan adanya kasus seperti ini, pihak orang tua dan lembaga pendidikan sebagai ruang lingkup terdekat sudah seyogyanya mulai mempedulikan kondisi mental dari anak/anak didiknya.
Melakukan hal-hal kecil seperti menjadi pendengar yang baik, meminimalisir tuntutan, membantu memecahkan masalah apabila dibutuhkan, dan mengadakan liburan kecil-kecilan,mungkin akan sedikit meredakan tekanan yang ada dalam diri remaja.
Baca Juga
-
Sprint Race MotoGP Amerika 2025, Pecco Bagnaia Mulai Beri Perlawanan
-
Red Bull Resmi Tukar Liam Lawson dengan Yuki Tsunoda, Keputusan yang Tepat?
-
Bukan Pecco Bagnaia, Marc Marquez Sebut Adiknya Sebagai Pesaing Utama
-
Performa Mentereng Marc Marquez Buat Ducati Kerap Dicurigai Pilih Kasih
-
Lando Norris dan Oscar Piastri Siap Bersaing untuk Gelar Juara Dunia 2025
Artikel Terkait
-
Picu 'Bencana' di Malang, Ini Aturan Penerbangan Balon Udara dan Sanksi Bagi yang Melanggar
-
7 Tempat Wisata di Malang, Liburan Seru Sambil Menikmati Udara Sejuk
-
5 Teknik Psikoterapi untuk Menangani Gangguan Mental, Ciptakan Coping Mechanism Sehat
-
Liburan Anti Bosan di Malang Skyland: Panduan Lengkap Harga Tiket dan Aktivitas
-
Dua Kelompok Remaja di Senen Tawuran Petasan Usai Salat Ied
Kolom
-
Ki Hadjar Dewantara Menangis, Pendidikan yang Dulu Dibela, Kini Dijual
-
AI Ghibli: Inovasi atau Ancaman Para Animator?
-
Menelisik Kiprah Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan dan Politik Indonesia
-
Penurunan Harga BBM: Strategi Pertamina atau Sekadar Pengalihan Isu?
-
Jumbo: Langkah Berani Animasi Lokal di Tengah Dominasi Horor
Terkini
-
Menyelami Isu Gender, Kemanusiaan, dan Sosial Politik dalam Novel Saman
-
Hengkang dari SM Entertainment, Wendy dan Yeri Tetap Jadi Member Red Velvet
-
Ketagihan Drama Medis? 7 Tontonan Netflix Ini Wajib Masuk List!
-
Ulasan Novel Death by Dumpling: Misteri Pembunuhan Pelanggan Setia Restoran
-
Sinopsis Drama China Marry Me Again, Drama Pendek yang Dibintangi Ryan Ren