Bagi sebagian orang, ulang tahun merupakan momen sakral atas bertambahnya usia yang wajib dirayakan. Bagi sebagian yang lain, hari ulang tahun tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa karena tidak terbiasa dengan kegiatan seremonial.
Saya adalah tipe orang yang kedua. Meski sempat merayakan ulang tahun beberapa kali, tetapi semakin dewasa, momen ulang tahun tidak lagi terasa spesial. Bedanya adalah banyak teman di Facebook yang tiba-tiba memberikan ucapan.
Mungkin karena tidak relate dengan perayaan ulang tahun yang heboh, saya pun penasaran dengan intensi orang-orang yang membangunkan orang lain tengah malam untuk memberikan kejutan di hari ulang tahunnya.
Saat seseorang berulang tahun, keluarga atau teman-teman akan menyiapkan kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya, kemudian berdiri tepat di depan kamar si empunya hajat, lalu membuat keributan tepat pada pukul 12 malam sambil menyanyikan lagu khas ulang tahun.
Satu hal yang membuat saya tidak habis pikir, mengapa harus dilakukan tengah malam saat seseorang sedang tertidur pulas? Mengapa tidak besok pagi saja?
Budaya membangunkan orang tengah malam untuk memberi kejutan sebaiknya dihapus saja karena tidak ada urgensinya ulang tahun harus dirayakan tepat pada pukul 12 malam. Ada beberapa alasan masuk akal untuk hal itu.
Pertama, ada tipe orang yang kepalanya pusing jika dibangunkan tengah malam. Jika orang yang ulang tahun tersebut harus bekerja keesokan harinya, tentu kejutan seperti ini akan terasa merepotkan. Setelah pesta kejutan selesai, dia harus menyambung tidurnya agar bisa tetap bangun pagi keesokan harinya, pasti melelahkan.
Kedua, penampilan seseorang saat tidur itu jauh dari kata layak untuk didokumentasikan, sedangkan pesta kejutan tanpa foto-foto rasanya mustahil. Pasti ada satu orang yang membawa ponsel untuk sekadar cekrak-cekrek, sementara si empunya hajat masih muka bantal.
Memberi kejutan kepada orang yang berulang tahun memang tidak dilarang. Namun, sebaiknya hal itu dilakukan di waktu-waktu yang masuk akal. Meski tidak dilakukan pada tengah malam, tidak akan mengurangi esensi dari pesta kejutan itu sendiri.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Mati Suri Demokrasi Akar Rumput: Potret Pilu Suara Rakyat yang Dibeli Murah
-
Ulasan Stock Struck: Saat Pemula Nekat Main Saham dan Berujung Kena Mental
-
Budaya Tutup Mulut soal Gaji: Menjaga Privasi atau Celah Eksploitasi?
-
Ketimpangan Relasi: Rakyat Berjuang Tanpa Bantuan, Negara Menarik Pungutan
-
Ulasan Let Me Be Your Knight: Mengurai Burnout dan Sisi Rapuh Idol K-Pop
Artikel Terkait
-
Diduga Kasih Kado ke Fuji, Segini Biaya yang Dikeluarkan Asnawi Mangkualam
-
Meski Absen di Ultah Anaknya, Marissya Icha Tak Bakal Kecewa Jika Fuji Lakukan Hal Ini
-
8 Momen Ashanty Buka Kado Ultah, Agnes Jennifer Diledek Cuma Kasih Pewangi Ruangan
-
Heboh Ria Ricis Dinilai Tak Anggap Ada Sosok Aming Jadi Gunjingan: Benar Kata Bunga Zainal
-
Mengekang Melalui Budaya Ryosai Kenbo di Jepang
Kolom
-
Ramai saat Demo, Sunyi setelahnya: Mengapa Gerakan Rakyat Terjebak Musiman?
-
Aksi Boikot Raffi Ahmad: Menyoal Efektivitas Cancel Culture di Media Sosial
-
Awas Bahaya Logistik Gratisan: Kasus Teh Berbusa Demo HI Jadi Pelajaran
-
Mati Suri Demokrasi Akar Rumput: Potret Pilu Suara Rakyat yang Dibeli Murah
-
Berkaca dari Isu Raffi Ahmad, Kenapa Kita Susah Menegur Orang Baik?
Terkini
-
Merayakan Rindu dan Kegelisahan lewat Puisi di Buku Kidung Para Pencari
-
Proteksi Double! 4 Sunscreen Lokal PDRN Ini Bikin Wajah Awet Muda dan Sehat
-
Sukses Gelar Konser Solo di Seoul, Onew SHINee Umumkan Comeback Album Baru
-
Mary and The Witch's Flower: Kita Tak Butuh Sihir untuk Menjadi Istimewa
-
Mengupas Status Anime Boruto: Cerita Canon atau Sekadar Garapan Ikemoto?