Saya masih mengingat pengalaman hangat ini dengan jelas. Momen sederhana itu terpatri di hati saya sebagai pengingat bahwa manusia dapat saling menghargai dan menunjukkan kepedulian, bahkan ketika berbeda keyakinan. Toleransi kadang hadir lewat tindakan kecil yang tulus.
Pada tahun 2024, saya dan beberapa teman mendapat kesempatan magang di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat di Pematangsiantar. Selama empat bulan di sana, kami tinggal di rumah salah seorang pegawai bernama Bu Anna. Rumahnya sederhana dengan tiga kamar yang kemudian kami tempati bersama.
Dua kamar diisi oleh kami, para mahasiswi magang yang tinggal bertiga dalam setiap kamar. Kehidupan di rumah itu berjalan sederhana, tetapi terasa hangat. Bu Anna memperlakukan kami seperti anak sendiri selama tinggal di sana.
Ada satu kebiasaan pribadi yang tetap saya lakukan selama tinggal di Marihat, yaitu berpuasa. Walaupun saya seorang kristen, saya sering berpuasa sebagai bentuk latihan menahan diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Kebiasaan ini akhirnya tetap saya jalani selama masa magang.
Karena kesibukan magang, tentu saya tidak bisa melakukannya setiap minggu. Biasanya, saya berpuasa ketika sedang menghadapi persoalan tertentu yang terasa berat. Saat itu ada masalah keluarga yang membuat saya memutuskan untuk berpuasa.
Sebagai orang yang setiap pagi menyiapkan sarapan dan bekal kami, Bu Anna tentu perlu mengetahui hal itu. Pada suatu malam sebelum tidur, saya berkata kepadanya, “Bu, besok tidak usah dibuatkan bekal, ya. Saya puasa.” Bu Anna hanya menjawab singkat, “Oh, puasa ya, oke, Kak.”
Seiring waktu, hal seperti itu menjadi kebiasaan kecil di rumah tersebut. Setiap kali saya berpuasa, Bu Anna sudah memahami bahwa saya tidak membutuhkan bekal makan siang. Saya sendiri biasanya berbuka dengan sederhana, kadang hanya secangkir teh sebelum makan malam.
Suatu sore pukul empat, setelah berpuasa sejak jam 10 malam sebelumnya, saya terbangun dan duduk di ruang tamu. Bu Anna telah mengetahui jam berbuka saya, beliau sempat bertanya, “Kak, nanti buka pakai apa?” Karena tidak ingin merepotkan, saya menjawab bahwa saya akan langsung makan malam saja.
Beberapa waktu kemudian, Bu Anna dan suaminya pergi keluar, mungkin untuk berbelanja. Saat mereka kembali, Bu Anna mulai menyiapkan makanan di dapur untuk makan malam. Ketika melewati ruang tamu, ia kembali bertanya apakah saya sudah berbuka.
Saya menjawab bahwa waktu berbuka tinggal sebentar lagi. Bu Anna lalu berkata agar saya menunggu sebentar karena ia ingin merebus air terlebih dahulu. Tidak lama kemudian, ia datang membawa secangkir teh hangat dan sepotong roti untuk saya.
Saya sempat berkata bahwa beliau tidak perlu repot-repot menyiapkannya. Namun, Bu Anna hanya tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa. Ia bahkan menyarankan agar saya langsung makan jika lapar tanpa harus menunggu teman-teman yang lain.
Peristiwa sederhana itu masih melekat jelas di ingatan saya hingga sekarang. Kehangatan secangkir teh dan sepotong roti dari seorang ibu kos terasa begitu tulus. Sore itu, buka puasa saya terasa hangat—bukan hanya karena teh yang saya minum, tetapi juga karena kebaikan hati yang saya terima.
Baca Juga
-
Punya Mama yang Jadi Tulang Punggung Keluarga, Bukan Hal yang Memalukan!
-
Lupakan Megapiksel! Mari Rayakan Lebaran dengan 3 Kamera Analog 600 Ribuan
-
Stoikisme di Bulan Puasa: Mengatur Hasrat, Menjaga Akal Sehat
-
Bursa Kerja atau Seremonial? Menyoal Job Fair yang Tidak Fair
-
Implikasi Psikologis People Pleasing dalam Buku Berani Tidak Disukai
Artikel Terkait
-
Buka Puasa Bersama Lansia? Ini Cara Membuat Momennya Lebih Hangat
-
5 Rekomendasi Takjil Warna Biru yang Unik untuk Buka Puasa, Cantik dan Instagramable
-
Kronologis Lengkap Penumpang Muslim Ditangkap SWAT Gegara Timer Buka Puasa di Kabin Pesawat
-
Puasa Seharusnya Sederhana, Kenapa Konsumsi Justru Meningkat?
-
4 Brightening Sheet Mask yang Cocok Dipakai saat Puasa, Bikin Wajah Glowing
Kolom
-
Generasi Overthinking di Era Over-Information
-
Di Balik Target Khatam: Bicara Jujur tentang Ramadan dan Privilege Ibadah
-
Prabowo Bilang 'Siap-Siap Sulit', Rakyat Menjawab: 'Pak, Kami Sudah Sulit!'
-
Kala Media Sosial sebagai Medan Perang Baru Propaganda Global
-
Perut Kenyang tapi Tas Kosong: Ketika Nasi Gratis Tak Bisa Gantikan Buku Tulis
Terkini
-
Anti-Ngelag di 2026! 5 HP OPPO RAM 8/256GB Terbaik untuk Penggunaan Jangka Panjang
-
Anti-Mokel! Cara Bijak Atur Nutrisi agar Tetap Menyala di Ruang Kuliah
-
Disebut Diminati Klub Juventus, ke Mana Karier Emil Audero akan Berlanjut?
-
4 Brightening Sheet Mask yang Cocok Dipakai saat Puasa, Bikin Wajah Glowing
-
Stop Tambah Limbah Tekstil! Cara Cerdas Sulap Gamis Lama Jadi Outfit Baru