Presiden Jokowi belum lama ini mendapatkan predikat sebagai ‘Alumni UGM Paling Memalukan’ yang dinobatkan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM pada Jumat (8/12/2023).
Para mahasiswa UGM saat itu berkumpul dan salah satu orang tampak memakai topeng wajah Jokowi yang sedang menerima sertifikat.
Alih-alih menerima sertifikat karena prestasi, Jokowi malah menerima sertifikat ‘Alumni UGM Paling Memalukan' yang diinisiasi mahasiswa UGM tersebut.
Aksi pemberian julukan baru yang disematkan pada Presiden Jokowi itu sempat viral di media sosial. Suara pun terpecah antara yang setuju dan tidak setuju dengan predikat yang diberikan BEM UGM pada Presiden Jokowi itu.
Bukan rahasia lagi jika politik dinasti sangat santer digaungkan pada kepemimpinan Jokowi selama 2 periode ini, namun tentunya tidak hanya masalah dinasti politik yang di-highlight oleh BEM UGM tersebut hingga menjadi alasan mereka menobatkan Jokowi sebagai 'Alumni UGM Paling Memalukan’.
Kecewa? Wajar. Namun apakah benar Jokowi seburuk itu hingga pantas mendapatkan julukan yang bisa dikatakan cukup membuat institusi terbesar di negara ini merasa terhina?
Jika memang demikian, mari kita simak salah satu komentar dari mantan ketua BEM Trisakti 2019 yang menjawab tudingan ketua BEM UGM yang menyebut Jokowi gagal dalam memimpin negara.
"Saya selaku Presiden mahasiswa Trisakti 2019 justru malah merasakan apa yang dilakukan Pak Jokowi ini dampaknya terasa langsung kok di diri kita," kata Dinno Ardiansyah mantan BEM Trisakti 2019 dikutip dari unggahan akun X @kurawa, Minggu (10/12/2023).
Singkatnya mantan BEM Trisakti tersebut membeberkan beberapa prestasi pada pemerintahan Jokowi, di antaranya pembangunan infrastruktur, kampanye produk lokal, mendukung ekonomi kreatif, aktif dalam kegiatan luar negeri dan sebagainya.
Jadi walau mungkin Jokowi pantas dianggap "gagal" tapi sebenarnya masih banyak juga hal positif yang berhasil ditorehkannya.
Saya sangat setuju dengan kritik yang ditujukan untuk membangun seseorang ke arah lebih baik dengan membawa fakta-fakta serta gagasan yang mencerahkan. Namun tentu saja adab etika atau kesopanan harus dikedepankan di negara yang masih menjunjung adab-adab ketimuran ini.
Negara Indonesia juga mengatur hak-hak untuk warga negaranya yang termaktub dalam Pasal 28I ayat (4) UUD 1945. Akan tetapi, walaupun setiap warga negara memiliki hak tersebut, namun itu bukanlah hak yang bersifat mutlak.
Selain itu, ada juga delik penghinaan kepada Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut KUHP yaitu pada Pasal 310 dan Pasal 321 KUHPidana, jika penghinaan ditujukan dalam kualitas pribadinya. Lalu Pasal 207 KUHPidana dalam hal penghinaan ditujukan kepada Presiden dan/atau Wakil Presiden selaku pejabat.
Jadi walaupun hak kebebasan berpendapat telah diatur, namun penggunaan hak tersebut tidak bisa digunakan semena-mena apalagi hingga menyerang kehormatan atau nama baik seseorang.
Lalu bagaimana cara menyampaikan kritik yang baik? Berikut beberapa tips yang bisa dicoba:
- Metode "sandwich" yaitu memberikan kritik dengan tiga lapis, pujian-kritik-komentar positif
- Kritik situasi, bukan orangnya
- Pilih waktu yang tepat
- Berikan saran spesifik
Kritik dengan cerdas dan santun boleh, menghina jangan. Apa kamu setuju?
Baca Juga
-
Jigsaw Kembali di Saw 11! Permainan Mengerikan Kembali Dimulai
-
Sinopsis Ray Gunn, Detektif Swasta Bongkar Konspirasi Besar Kota Futuristik
-
Teaser 5 cm: Revolusi Hati Dirilis, Ungkap Kisah Zafran saat SMP
-
Ghost in The Cell Menang Best Picture di Fantastic Fest 2026, Siap Tayang di Bioskop Amerika Serikat
-
Teaser Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Dirilis, Kisah Ale Ingin Akhiri Hidup
Artikel Terkait
-
Flexing jadi Fenomena Baru, Ketua KPK Minta Jokowi Tegur Pejabat Ogah Laporkan Harta Kekayaan
-
Desak DPR, Jokowi di Hari Antikorupsi: RUU Perampasan Aset Harus Segera Disahkan!
-
Menelaah Democratic Backsliding Pemerintah Presiden Jokowi dan Donald Trump
-
Peringati Hakordia 2023, Jokowi: Terlalu Banyak Pejabat Indonesia Dipenjara Karena Korupsi
-
Blak-blakan di Hakordia 2023, Jokowi: Terlalu Banyak Pejabat Kita Dipenjara karena Korupsi, Jangan Ditepuk Tangan!
Kolom
-
Ketika Data PISA Berbicara, Narasi Keberhasilan Pendidikan Dipertanyakan
-
Koneksi vs Kualifikasi: Apa yang Sebenarnya Menentukan Peluang Kerja?
-
Ketangguhan UMKM dan Negara yang Terlalu Nyaman dengan Krisis
-
Ombudsman Sidak Mendadak, Lapas Cibinong Bikin Publik Terbelalak
-
Career Break bagi Perempuan: Jeda Karier atau Tanda Kehilangan Arah?
Terkini
-
Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi
-
Resmi di Indonesia! Redmi Note 17 Pro Max Bawa Baterai Jumbo 10.000 mAh
-
4 Pore Tightening Toner Atasi Tekstur Kasar dan Bruntusan Kulit Berminyak
-
Buku All The Bright Places, Meruntuhkan Stigma Negatif Isu Mental Health
-
Sinopsis Between Steps: Cinta di Tengah Dunia Robotika, Tayang 5 Oktober