Mewujudkan Indonesia Emas 2045 dapat dilakukan melalui salah satu cara dengan meningkatkan sistem dan kinerja di bidang pendidikan. Mimpi suatu bangsa yang besar di masa depan harus melibatkan generasi muda agar mereka berpikir kritis dan dapat melihat sebuah gambaran untuk bertindak di masa yang akan datang.
Pendidikan selalu menjadi sorotan oleh media dan masyarakat umum, karena negara kita hanya mendapatkan peringkat 54 dari total 77 negara di dunia jika melihat dari sistem pendidikan saat ini. Tentu, hal ini tidak lagi membuat terkejut publik dan terkadang menimbulkan perhatian bila sedang ada permasalahan yang signifikan.
Sebenarnya banyak sekali masalah yang terjadi di bidang pendidikan, tak hanya dari soal berganti kurikulum. Peningkatan kualitas mutu guru dalam mendidik perlu dilakukan melalui cara seperti mengikuti pelatihan yang memiliki keterkaitan mendukung kegiatan belajar mengajar.
Selain itu, rendahnya siswa berprestasi akibat menurunnya semangat dalam belajar untuk menggali potensi diri di setiap individu, baik dari segi minat dan bakat yang dimiliki. Oleh karena itu, perlu adanya membenahi permasalahan tersebut untuk meningkatkan mutu di bidang pendidikan.
Budi pekerti yang dimiliki oleh siswa juga menjadi perhatian besar bagi para pendidik dan pemerintah. Hal itu disebabkan banyaknya pelaku degradasi moral, seperti berkata kasar, melakukan ujaran kebencian, perundungan, dan melakukan kekerasan.
Berdasarkan data yang dirilis oleh survei Programme for International Student Assessment (PISA) dijelaskan bahwa adanya siswa yang mengulang kelas dan ketidakhadiran yang tinggi. Dalam menyelesaikan masalah ini seharusnya tidak melihat dari siswa saja dan harus dipikirkan juga guru yang mengajar.
Faktor yang dapat menyebabkan sebuah problematika tersebut adalah kurangnya motivasi siswa untuk belajar di sekolah, lingkungan belajar dan pertemanan yang buruk, dan tidak menyukai pembelajaran akibat guru yang mengajar di kelas. Solusi yang dapat dilakukan adalah melakukan komunikasi orang tua, guru, dan anak.
Harapan yang dapat dilakukan untuk pemerintah masa depan di era presiden terpilih yaitu meningkatkan kualitas guru dalam mengajar. Tak hanya dari segi mengajar, seharusnya guru pun bisa mengemas pembelajaran dengan kreatif dan inovatif agar dapat dipahami lebih cepat oleh siswa.
Praktik tersebut dilakukan oleh guru yang masih berusia muda, sebaiknya guru yang sudah menempati usia tua tak perlu mengajar lagi siswa. Profesionalisme seorang guru dan kemampuan fisik yang dimiliki tentu saja menurun seiring bertambahnya usia mereka.
Selain melihat dari sumber daya pengajar, sarana dan prasarana menjadi perhatian utama dalam performa belajar siswa di sekolah. Bangunan yang sudah tua dan tidak terawat mampu menurunkan pemerataan pembangunan dan semangat siswa dalam menuntut ilmu serta ketidaknyamanan guru dalam memberikan pengajaran.
Kehadiran siswa selama pembelajaran juga harus ikut diperhatikan melalui monitoring untuk menjalin kerjasama antar pendidik dan orang tua siswa. Dengan adanya komunikasi dua arah tersebut mampu memperhatikan presensi siswa selama pembelajaran.
Harapan rakyat kepada pemerintah dapat mewujudkan sebuah pendidikan yang telah berjalan ini dirubah demi keunggulan dan kemajuan sistem pendidikan di Indonesia sehingga dapat mencetak generasi yang berprestasi untuk Indonesia Emas 2045.
Teknologi untuk mendukung minat siswa dalam pembelajaran seperti adanya perangkat dan internet yang difasilitasi oleh pemerintah akan memberikan kemudahan.
Perkembangan teknologi yang semakin canggih hingga saat ini diharapkan generasi muda sudah seharusnya mulai diperkenalkan dengan kemajuan era digital untuk memimpin masa depan yang akan datang.
Oleh karena itu, pentingnya untuk meningkatkan sumber daya manusia khususnya kepada pendidik dalam berkolaborasi mewujudkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif bagi seluruh pelajar di Indonesia yang cerdas dan berkarakter budi pekerti.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Fakta Hukum Mengejutkan: Mengapa Menteri Korupsi, Presiden Tetap 'Kebal Hukum'?
-
Nasihat Bahlil Soal Matikan Kompor: Ketika Urusan Dapur Naik Kelas Jadi Isu Energi Nasional
-
Aplikasi GPS vs Realita: Ketika Google Maps Anggap Jalur Sapi sebagai Jalan Tol
-
Diskon Tol Pilih Kasih: Ketika PNS Senyum, Anak Swasta Gigit Jari
-
Kritik Dibungkam atas Nama HAM: Salahkah Rakyat Menentang MBG?
Artikel Terkait
-
Surat untuk Presiden: Seutas Keluh dan Kesah tentang Pendidikan
-
Anak 22 Tahun Tolak Kerja dan Kuliah, Ibu Gugat ke Pengadilan
-
Jadi Calon Menteri Prabowo, Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro Bicara Soal Pendidikan, Apa Katanya?
-
Surat Cinta buat Prabowo, Politik Akomodasi Tak Selamanya Baik bagi Negeri
-
Mimpi Besar, Tantangan Besar: Kisah Kepemimpinan Jokowi
Kolom
-
Di Era e-Book, Mengapa Buku Fisik Tidak Pernah Tergantikan?
-
Menghidupkan Kembali Pasar Tradisional di Tengah Gemerlapnya Belanja Online
-
Sering Jajan sampai Harus 'Tirakat': Pelajaran Finansial di Semester Akhir
-
Ketika Capung Pergi, Kita Kehilangan Lebih dari Sekadar Serangga
-
Styrofoam Jadi Sahabat UMKM, tapi Musuh Besar Buat Bumi dan Lingkungan
Terkini
-
Inspirasi Ekonomi Kreatif Lokal: Saat Barista Kampung Punya Skill Ibu Kota di Hijrah Kopi
-
Perempuan yang Dihancurkan: Ketika Hidup Tak Lagi Sepenuhnya Milik Sendiri
-
Bittersweet oleh Baby DONT Cry: Momen Manis Pahit Hidup yang Tak Terlupakan
-
Jangan Asal Cuci! Ini 6 Cara Merawat Pashmina Rayon agar Tetap Flowing
-
Ulat-Ulat yang Bersarang di Kepala Nunito