Demokrasi adalah sistem yang menjanjikan kesetaraan dan suara bagi seluruh warga negara, namun dalam kehidupan nyata hal tersebut terkesan ironis.
Di tengah gejolak politik, masyarakat miskin seakan dilupakan dan dibungkam dalam kebisingan. Suara mereka diredam dan keinginan mereka diabaikan, seolah tidak relevan lagi dengan peta politik yang didominasi kekuasaan dan uang.
Mengapa masyarakat miskin tidak mempunyai suara dalam politik? Jawabannya terletak pada sistem politik yang berpihak pada masyarakat kaya.
Politik telah menjadi arena perebutan modal, uang menjadi alat utama untuk meraih kekuasaan. Partai politik yang seharusnya menjadi wadah pemenuhan keinginan masyarakat, justru terjebak dalam lingkaran setan kebijakan moneter.
Mereka lebih fokus pada kepentingan donor kaya dibandingkan kepentingan masyarakat miskin. Selain itu, budaya politik yang pragmatis dan individualistis juga memperburuk keadaan.
Masyarakat cenderung apatis terhadap politik dan menganggapnya sebagai persoalan elite yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan sehari-hari.
Kurangnya rasa percaya diri dan kesadaran politik membuat masyarakat miskin enggan menyerah dan berpartisipasi dalam proses politik. Hal ini menjebak masyarakat miskin dalam lingkaran setan kemiskinan.
Suara mereka tidak didengarkan, tuntutan mereka tidak dipenuhi, dan mereka terus dikucilkan dari pembangunan arus utama. Namun bukan berarti semua harapan hilang. Masih ada secercah cahaya di kegelapan.
Pertama, kita harus mereformasi sistem politik kita agar lebih adil dan demokratis. Pendanaan politik perlu ditingkatkan agar partai politik tidak lagi bergantung pada pendanaan korporasi.
Kedua, kita perlu membangun budaya politik yang partisipatif dan inklusif. Masyarakat harus didorong untuk berpartisipasi aktif dalam politik, termasuk melalui pemilu, organisasi masyarakat, dan gerakan sosial.
Ketiga, upaya harus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri masyarakat miskin. Mereka harus diberikan akses terhadap pendidikan kewarganegaraan untuk memahami hak dan tanggung jawab mereka sebagai warga negara.
Membangun demokrasi sejati memerlukan peran aktif seluruh partai politik. Baik masyarakat miskin maupun kaya harus mempunyai suara yang sama kuatnya dalam menentukan arah negara.
Sistem politik harus direformasi menjadi lebih adil dan demokratis. Pendanaan politik perlu ditingkatkan agar partai politik tidak lagi bergantung pada pendanaan korporasi.
Masyarakat juga perlu didorong untuk berpartisipasi aktif dalam politik, termasuk melalui pemilu, organisasi masyarakat, dan gerakan sosial.
Semoga bersama-sama kita bisa membangun sistem politik yang adil dan demokratis, suara masyarakat miskin tidak lagi ditindas dan keinginan mereka tidak lagi diabaikan.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ulasan Novel Pasta Kacang Merah: Narasi tentang Diterima dan Memaafkan
-
Tragedi Pedang Keadilan: Sebuah Pembelajaran tentang Luka dan Pengampunan
-
Narasi Kehidupan yang Mengajarkan Empati: Sisi Tergelap Surga
-
Perjalanan Menerima Diri dan Luka di Masa Lalu: Ulasan Buku Alvi Syahrin
-
Malice: Ketika Kejahatan Tak Sekadar Soal Siapa Pelakunya
Artikel Terkait
-
Sosok Iwan Sumule, Punya Rekam Jejak Mentereng Sebelum Masuk Pemerintahan Prabowo-Gibran
-
Bukan Cuma Bansos! Budiman Ungkap Kunci Atasi Kemiskinan Ada di Tangan Kelas Menengah
-
Disebut Jadi Pengangguran, Kesibukan Ahok Kini dari Rapat Hingga Main Game
-
Begini Loh Debat Pilkada 2024 di Mata Gen Z, Membosankan Tidak Ya?
-
Menyetrika Jas Suami, Arumi Bachsin Mohon Jangan Dihujat Emak-Emak karena Hasilnya
Kolom
-
Honor Power 2 Rilis Awal Januari 2026: Dibekali Baterai Jumbo 10.080 mAh
-
Tren Silent Rebellion di Dunia Kerja: Cara Gen Z Melawan Tanpa Ribut
-
Potret Kemunduran Demokrasi dan Menguatnya Corak Otoritarian di Indonesia
-
Harapan di Penghujung 2025: Kekecewaan Kolektif dan Ruang Refleksi Pribadi
-
Tahun Baru dan Identitas Diri: Kenapa Banyak Orang Ingin Jadi 'Versi Baru'?
Terkini
-
Tecno Camon 50 Lolos Sertifikasi, Diprediksi Rilis di Indonesia Awal 2026
-
CERPEN: Di Kala Terompet Tahun Baru Berkumandang
-
4 Pelembab Gel Panthenol Rp50 Ribuan, Perbaiki Skin Barrier Kulit Berminyak
-
Bocoran Harga Poco M8 dan M8 Pro Terungkap, Spesifikasinya Menggiurkan
-
Review Film Lilim: Teror Sunyi tentang Dosa, Trauma, dan Iman yang Retak