Scroll untuk membaca artikel
Hernawan | Luthfiyatul Muniroh
Buku sorry, my younger self, i can't make you happy karya alvi syahrin (docpribadi/luthfiyatulmuniroh)

Sering kali, kita terjebak dalam pikiran tentang masa lalu dengan penuh penyesalan. Keinginan untuk kembali ke saat-saat itu dan memberi nasihat pada diri sendiri agar tidak mengulangi kesalahan yang sama kerap menghantui kita. Namun, kenyataannya, waktu tak bisa diputar kembali, dan satu-satunya tindakan yang bisa kita lakukan adalah menerima dan belajar dari pengalaman yang telah terjadi. Inilah inti dari buku Sorry, My Younger Self, I Can’t Make You Happy karya Alvi Syahrin, yang mengajak kita untuk berdamai dengan masa lalu dan belajar mencintai diri sendiri dengan lebih baik.

Dalam bukunya, Alvi Syahrin menulis dengan gaya yang sangat personal, menciptakan kedekatan dengan pembaca. Ia mengangkat beragam perasaan yang kerap muncul saat kita mengenang masa lalu mulai dari rasa kecewa, kemarahan pada diri sendiri, hingga ketidakpuasan terhadap pilihan-pilihan yang telah kita ambil. Banyak di antara kita mungkin merasa telah mengecewakan versi muda dari diri kita sendiri, entah karena gagal mewujudkan impian yang dahulu kita idam-idamkan atau memilih jalur hidup yang berbeda dari yang pernah kita bayangkan.

Dengan refleksi yang mendalam, penulis mengajak pembaca untuk memahami bahwa merasakan penyesalan adalah hal yang manusiawi. Namun, terjebak dalam perasaan tersebut justru bisa menghambat kita untuk melangkah maju. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, buku ini menawarkan perspektif yang lebih luas mengenai cara memandang perjalanan hidup kita.

Salah satu pesan kunci dari buku Sorry, My Younger Self adalah pentingnya proses memaafkan diri sendiri. Kita seringkali lebih mudah memberikan maaf kepada kesalahan orang lain ketimbang menerima kesalahan yang kita buat. Padahal, tanpa mengakui dan memaafkan diri kita, kita akan terus terjebak dalam beban masa lalu dan sulit untuk berkembang.

Alvi Syahrin menegaskan bahwa setiap pilihan yang kita ambil di masa lalu didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki saat itu. Tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui apa yang terbaik untuk masa depannya. Maka dari itu, tidak adil jika kita terus-menerus menyalahkan diri sendiri atas tindakan yang mungkin tidak kita pahami sepenuhnya di waktu itu.

Buku ini juga mengajarkan bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang perlu kita cari di masa lampau, melainkan sesuatu yang bisa kita ciptakan di saat sekarang. Daripada terus menyesali keputusan yang telah diambil, lebih baik kita fokus pada langkah-langkah yang dapat diambil saat ini untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Salah satu kelebihan Sorry, My Younger Self adalah cara Alvi Syahrin menyampaikan pesannya dengan bahasa yang ringan, mengalir, dan mudah dipahami. Tanpa kesan menggurui atau memaksa, prose ini terasa seperti percakapan tulus dari hati ke hati. Buku ini juga kaya akan kutipan-kutipan reflektif yang dapat menggugah emosi pembaca. Setiap bab tidak hanya menawarkan perspektif baru, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenung dan memahami diri mereka dengan lebih mendalam.

Sorry, My Younger Self, I Can’t Make You Happy adalah bacaan yang sangat cocok bagi siapa pun yang pernah merasa kecewa dengan diri sendiri. Buku ini mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing dan bahwa penyesalan bukanlah akhir dari segalanya. Dengan memaafkan diri sendiri dan menerima kenyataan, kita dapat melangkah maju tanpa terus-menerus dihantui oleh masa lalu.

Luthfiyatul Muniroh