Bulan Ramadan identik dengan berbagai tradisi yang meningkatkan kualitas ibadah umat muslim. Salah satu tradisi yang populer adalah ngabuburit, yaitu kegiatan menunggu waktu berbuka puasa.
Dulu, ngabuburit sering diisi dengan aktivitas seperti tadarus Al-Qur'an, mengikuti kajian di masjid, atau berkumpul bersama keluarga. Namun, zaman sekarang, teknologi berkembang pesat, tradisi ngabuburit terasa berbeda.
Kini, banyak orang, terutama generasi muda, lebih memilih menghabiskan waktu menjelang berbuka dengan scrolling media sosial, khususnya TikTok.
TikTok telah populer sebagai platform berbagi video pendek. Di Indonesia, popularitasnya meroket, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.
Selama Ramadan, konten-konten bertema ngabuburit bermunculan, mulai dari resep masakan untuk berbuka, tips berpuasa, hingga fenomena ‘War Takjil’ yang mencuri perhatian. Masyarakat dapat dengan mudah menemukan berbagai ide dan inspirasi untuk mengisi waktu sebelum magrib.
Fenomena ini menunjukkan perubahan dari aktivitas fisik dan sosial di dunia nyata menuju interaksi di dunia maya. Alih-alih berkumpul di masjid atau ruang keluarga, banyak orang yang justru memilih duduk dengan gadget mereka, menikmati konten yang disajikan oleh para kreator di TikTok.
Perubahan ini tentu membawa dampak positif dan negatif. Di satu sisi, TikTok menyediakan platform untuk edukasi dan dakwah. Banyak pendakwah yang memanfaatkan TikTok sebagai tempat menyebarkan nasihat keagamaan dengan lebih unik dan menarik.
Namun, di sisi lain, ketergantungan pada media sosial dapat mengurangi kualitas ibadah dan interaksi sosial. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk memperdalam ilmu agama atau berinteraksi dengan keluarga justru tersita oleh layar gadget.
Teknologi dan media sosial, termasuk TikTok, pada dasarnya adalah alat yang netral. Positif dan negatifnya tergantung pada cara kita menggunakannya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menemukan keseimbangan dalam memanfaatkan teknologi selama Ramadhan.
Memilih konten yang bermanfaat dan menginspirasi, serta tidak terjebak dalam konsumsi berlebihan, dapat membantu kita menjalani Ramadhan dengan lebih bermanfaat.
Selain itu, penting juga untuk menjaga tradisi Ramadan yang sudah ada. Sesekali, adakan kegiatan bersama, seperti tadarus, diskusi keagamaan, atau sekadar berbuka puasa bersama tanpa gangguan gadget. Kegiatan semacam ini, dapat memperkuat ikatan dan menjaga esensi dari bulan suci Ramadan.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Perry Warjiyo Mundur: Jangan Sampai Bos Baru BI Mudah Disetir Politisi!
-
Rumah Bocor Malah Usir Pemiliknya: Sengkarut Narasi 'Pindah Negara'
-
Anggaran Perpusnas Dipangkas Separuh, Perut Dikenyangkan Otak Dibiarkan
-
Heboh Sensus Ekonomi 2026: Ditanya soal Gaji, Warga Parno Naik Pajak?
-
Dari Pahlawan Teknologi Jadi Terdakwa: Akhir Getir Perjalanan Nadiem
Artikel Terkait
-
4 OOTD Kasual ala Pascal Struijk, Ide Outfit Ngabuburit Bareng Teman!
-
Transformasi Ramadan: Mengalahkan Diri Sendiri untuk Hidup yang Lebih Baik
-
Bukber Zaman Sekarang, Ajang Silaturahmi atau Adu Pencapaian?
-
Rekomendasi 4 Workshop Digital Marketing dan Manfaatnya dalam Meningkatkan Bisnis
-
Hukum Puasa Tanpa Mandi Wajib, Sah atau Tidak?
Kolom
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
-
Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan
-
Modernisasi Keselamatan Kelautan: Dari Analisis Pascatragedi Menuju Pencegahan Dini Berbasis AI
-
Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik Tone Deaf, di Mana Letak Masalahnya?
Terkini
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Pertama! Film Korea Possible Love Bawa Pulang Piala Silver Lion di Venice