Ada beberapa tradisi yang biasanya dilakukan masyarakat Indonesia saat Ramadhan dan Lebaran. Di antaranya buber (buka puasa bersama), beli baju lebaran, memberi hampers, dan THR (Tunjangan Hari Raya).
Meski tidak semua orang melakukannya, tapi rutinitas tahunan ini masih banyak dilakukan orang, bahkan dari agama apa pun, saat puasa dan lebaran. Walau tidak turut merayakan atau menjalankan ibadah umat muslim ini, tapi semua orang ikut merasakan semangat untuk melakukan tradisi-tradisi ini.
Bahkan yang paling baru, tradisi berburu takjil jelang berbuka juga dilakukan oleh semua agama karena tertarik dengan jajanan yang dijual.
Namun seiring waktu, tradisi-tradisi ini memiliki pergeseran nilai. Sesuatu yang awalnya bertujuan untuk mengeratkan silaturahmi dan persaudaraan, tapi lambat laun berubah menjadi tekanan yang seolah harus dilakukan semua orang.
Karena seperti yang diketahui, untuk ikut buber, beli baju lebaran, memberi hampers, hingga THR tentu butuh dana lebih. Sehingga ini sedikit banyak terasa memberatkan bagi kaum pas-pasan.
Belum lagi kalau diiringi dengan ajang adu nasib hingga pamer, sehingga tradisi puasa dan lebaran ini semakin menjadi beban bagi mereka yang tidak mampu mengikuti arus.
Sehingga beberapa orang mulai menyuarakan untuk menormalisasi tidak ikut buber, beli baju lebaran, memberi hampers, dan THR. Selain karena adanya pergeseran nilai dan masalah ekonomi seperti yang disebutkan di atas, sebagian orang menganggap waktu yang dimiliki juga tak kalah penting.
Karena alih-alih ikut buber, mereka merasa lebih nyaman untuk menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah, mumpung anggota keluarga masih ada.
Namun di sisi lain, gerakan normalisasi untuk tidak ikut buber, beli baju lebaran, memberi hampers, dan THR ini ternyata membawa dampak bagi orang lain, dalam hal ini adalah pelaku usaha.
Karena di zaman yang serba susah ini, banyak pedagang yang mengalami penurunan pendapatan. Sehingga satu-satunya momen agar mereka bisa menyambung hidup adalah dengan tradisi yang kerap dilakukan banyak orang saat puasa dan lebaran ini.
Dengan berbekal pendapatan yang diperoleh di momen ini, mereka tidak hanya bisa bertahan hidup di momen ini, tapi juga mungkin di beberapa bulan kedepannya.
Sehingga bila ada sebagian orang yang merasa tidak sanggup untuk ikut buber, beli baju lebaran, memberi hampers, dan THR, itu sama sekali tidak masalah. Karena hukumnya tidak wajib untuk dilakukan. Masing-masing orang tentu punya prioritas dibanding tradisi-tradisi ini.
Namun di sisi lain, jangan mengajak orang lain untuk ikut meninggalkan tradisi ini karena ekonomi harus tetap berputar. Karena dari rutinitas tahunan ini lah sebagian orang menggantungkan rezekinya, yang mungkin tidak ia dapatkan di bulan yang lain.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Budaya Pungli THR Ormas: Kesenjangan Ekonomi Hingga Lemahnya Penegakan Hukum
-
Jangan Terjebak Macet! Menhub Imbau Mudik Lebih Awal dengan WFA, Ini Alasannya
-
Klaim Arus Mudik Lebaran 2025 Alami Peningkatan, Kakorlantas: WFA Sangat Tepat
-
Viral Surat Mengaku dari Polisi Minta 'Jatah Lebaran' ke Warga, Polri Langsung Selidiki
-
Cek Jadwal dan Lokasi Ganjil Genap Mudik Lebaran Tol Trans Sumatera 2025
Kolom
-
Fenomena "Buku Jelek": Mengapa Kita Terobsesi Jadi Polisi Literasi?
-
Apatisme Sebagai Bentuk Protes Baru: Mengapa Diamnya Warga Adalah Alarm Bahaya?
-
Ketika Lembaga Keuangan Ikut-ikutan Baper
-
Festival Musik dan Komodifikasi Ruang Publik: Mengapa Harga Tiket Kian Mahal?
-
Mengapa Kenaikan Upah Tak Selalu Berarti Kesejahteraan?
Terkini
-
5 Film Romantis di Bioskop untuk Sambut Valentine, Siap Bikin Baper!
-
Hadapi Iblis Revolte, Frieren Season 2 Episode 6 Masuki Arc Divine Revolte
-
Novel Kamar Nomor 7, Teror yang Mengintai di Maitra Boarding School
-
Layar Redup dan Mimpi yang Belum Padam
-
Helldivers Diangkat Jadi Film Layar Lebar, Jason Momoa Masuk Jajaran Pemain