Hikmawan Firdaus | Athar Farha
Ilustrasi Pelindasan (Instagram/ Luthfihinelo)
Athar Farha

Jakarta mendidih. Di Senayan hingga jantung kota, langkah massa berbaur dengan suara toa, debur kendaraan taktis, dan udara yang menegang. Di tengah riuh itu, Affan Kurniawan terseret ke dalam sejarah yang nggak pernah dia pilih. 

Affan Kurniawan bukan orator di atas mobil komando unjuk rasa, bukan pula pengambil keputusan. Dia pengemudi ojek online yang keluar rumah dengan jaket kerja dan doa. Sayangnya Affan meninggal setelah terlindas Rantis Barracuda, kendaraan taktis lapis baja milik Brimob di kawasan Pejompongan, Jalan Penjernihan I, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis malam, 28 Agustus 2025. Jenazahnya dibawa ke RSCM.

Dari pagi hingga sore hari, aksi ‘HOSTUM’ (Hapus Outsourcing, Tolak Upah Murah) terpusat di kompleks DPR/MPR RI, juga merembet ke Patung Kuda (Merdeka Barat) dan sekitar Balai Kota. Enam tuntutan digaungkan: Hapus outsourcing dan tolak upah murah; stop PHK dengan satgas; reformasi pajak buruh (PTKP Rp7,5 juta/bulan, hapus pajak pesangon/THR/JHT serta diskriminasi pajak ibu bekerja); sahkan RUU Ketenagakerjaan tanpa omnibus; sahkan RUU Perampasan Aset; dan revisi RUU Pemilu untuk redesain 2029. Semua diiklankan sebagai aksi damai.

Namun, malam merapatkan jarak antara nalar dan panik. Bentrokan pecah di sekitar Pejompongan; video amatir memperlihatkan rantis berusaha menerobos kepungan, lalu tubuh berjaket hijau itu jatuh, dan roda besi melanjutkan tugasnya seakan-akan jalanan nggak berpenghuni. Satu nyawa yang hilang jadi cermin betapa mudahnya manusia dipinggirkan. 

Respons resmi pun mengalir cepat. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan permintaan maaf dan memerintahkan Propam mengusut insiden ini. Dari Istana, Mensesneg Prasetyo Hadi meminta aparat menahan diri dan memberi atensi khusus pada kasus tersebut.

Namun, di jalanan, respons yang paling manusiawi datang dari sesama. Komunitas ojek online berbondong-bondong ke RSCM, mengawal jenazah Affan, lalu berkumpul di Mako Brimob Kwitang untuk menuntut jawaban. Puluhan jaket hijau menyala di malam Jakarta, bukan sebagai tanda order masuk, melainkan tanda duka dan solidaritas. Dari konvoi motor hingga doa bersama, mereka memperlihatkan bahwa kehilangan satu orang adalah kehilangan seluruh keluarga besar ojol.

Dan di sinilah duka itu bersarang; di ruang tunggu rumah sakit, di teras rumah yang lampunya sengaja dibiarkan menyala, di helm hijau yang mendadak menjadi relik. Mungkin saja ada seorang ibu yang kehilangan anak; ada pasangan yang kehilangan sandaran; mungkin ada anak kecil yang akan bertanya, “Ayah kok lama?” Dan kita nggak punya jawaban selain jawaban yang menyayat.

Perbedaan pandangan politik memang akan terus ada. Soal upah, outsourcing, pajak buruh, desain pemilu, orang bisa bersilang kata sampai pagi. Sebagian mendukung tuntutan, sebagian meragukan, sebagian lain menolak jalan demonstrasi sama sekali. Perbedaan itu sah, bahkan perlu. Namun, ada batas yang nggak boleh ditembus siapa pun dan kendaraan apa pun, yakni nyawa manusia! Aksi boleh panas, kebijakan bisa diperdebatkan, tapi roda nggak boleh jadi hakim yang memutus hidup.

Kita selalu diberi kata-kata: ‘maaf’, atau mungkin ‘diusut’. Sebenarnya kita ingin percaya. Sayangnya untuk saat ini rasanya sulit untuk percaya. 

Memang santunan bisa meringankan beban biaya, permintaan maaf bisa meredakan amarah, tapi keduanya nggak akan pernah bisa menghidupkan korban.  

Pada akhirnya, bukan hanya Affan Kurniawan yang pergi, melainkan potongan harapan bangsa yang ikut terkubur. Jakarta boleh kembali ramai, order ojol boleh kembali berdenting, tapi di satu rumah ada kursi kosong yang nggak akan pernah terisi lagi. Dan selama roda hukum belum benar-benar berjalan, luka itu akan terus menganga.

Salam waras dariku!