Di tengah derasnya konten televisi yang datang silih berganti, drama baru muncul tiap minggu, genre meledak, dan penonton makin sulit puas, jarang sekali ada seri yang klik di hati sinefil.
Dan sekalinya ada yang sampai menyentuh hati, sudah pasti didongkrak jajaran aktor kelas atas dengan departemen naskah yang rapi, penyutradaraan cemerlang, dan tim produksi yang tahu kapan harus tampil dan kapan harus menepi demi memberi ruang pada performa aktor.
Itulah pengalaman yang dibawa ‘The Beast in Me’, series terbaru dari Netflix yang rilis sejak 13 November 2025 buatan Sutradara Antonio Campos.
Drama delapan episode ini adalah perpaduan misteri, tragedi keluarga, dan benturan ego dua manusia yang sama-sama patah. Itulah yang membuatnya begitu mengikat sejak menit pertama.
Penasaran Kisahnya?
Cerita bermuara di kawasan hutan Oyster Bay, New York. Tempat yang tampak damai dari luar, tapi menyimpan banyak suara yang nggak ingin didengar.
Di sinilah tinggal Nile Jarvis (Matthew Rhys), pewaris kerajaan real estate yang pindah bersama istri barunya, Nina (Brittany Snow). Namun sekelilingnya masih menaruh curiga: istri pertamanya, Madison, menghilang tanpa jejak, dan Nile menjadi sosok yang sulit dipercaya nggak terlibat apa pun.
Tetangga barunya adalah Aggie Wiggs (Claire Danes), penulis yang hidup dalam rumah yang pelan-pelan runtuh setelah kehilangan anak dan pernikahannya hancur.
Awal pertemuan mereka bukanlah meet-cute ala romansa, melainkan meet-brute: dua orang dengan luka yang sama dalamnya, tapi cara bertahan hidup yang berbeda. Nile licin, sedang Aggie dibungkus kemarahan.
Dari rasa ingin tahu, ketertarikan gelap, hingga permainan psikologi, hubungan mereka berkembang jadi kolaborasi berbahaya ketika Nile mengusulkan Aggie menulis buku tentang dirinya. Sebuah upaya merombak citra sekaligus membuka kemungkinan bahwa dirinya memang menyimpan monster dalam jiwanya.
Gelap sekali kisahnya, kan? Yang kepo bisa langsung buka Netflix, ya!
Plus Minus Series ‘The Beast in Me’
Aku selalu percaya sebuah drama bisa terlihat mahal, punya musik megah, atau tata cahaya yang menawan, tapi tanpa tulisan yang hidup, semuanya akan terdengar kosong.
Yang memikat bagiku terkait bagaimana semua elemennya tampak bekerja dengan kesadaran penuh. Cukup kuat untuk memperkaya cerita, tapi nggak berlebihan hingga menutupi inti utamanya.
Rhys menghadirkan Nile sebagai sosok yang begitu mudah kita benci sekaligus sulit kita lepaskan. Ada magnetisme toksik yang merayap melalui senyumnya, caranya mencondongkan tubuh, hingga keheningan-keheningan kecil yang dia sengaja biarkan. Aku nggak habis pikir, Rhys bisa terlihat begitu mengancam sekaligus memancing empati dalam satu tarikan napas.
Sementara Danes, seperti biasa, wajahnya seolah-olah memuat seluruh spektrum duka manusia: bibir bergetar, tatapan yang seperti dibakar amarah, hingga senyum aneh yang muncul saat dia terlalu dekat dengan kebenaran yang berbahaya.
Ada satu hal yang aku pribadi rasakan, yakni kurang berani menggali kegelapan moral para karakternya. Premis seri ini sudah jelas, setiap orang punya ‘binatang’ di dalam dirinya. Hanya saja, eksekusinya sedikit menahan diri. Aku berharap lebih banyak momen yang benar-benar mengaburkan garis antara korban dan pelaku, antara kebaikan dan kejahatan, antara cinta dan kehancuran.
Nggak berarti seri ini gagal lho—jauh dari itu. Seandainya sedikit lebih berani melintasi batas moral, aku yakin ‘The Beast in Me’ bisa menjadi thriller fenomenal yang dibicarakan sepanjang tahun.
Meski nggak sempurna, ‘The Beast in Me’ adalah tonton premium yang patut dinikmati tanpa gangguan. Buktikan sendiri deh, Sobat Yoursay! Yuk, buka Netflix sekarang juga dan selamat nonton ya!
Baca Juga
-
Review Why Did I Get Married Again?: Biasa dan Mudah Ditebak
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
-
Simbolisme Angel dan Lucifer, Detective Conan: Fallen Angel of the Highway
-
Review Hope: Ketika Ketidaktahuan Manusia Jadi Kekacauan yang Mematikan
-
Review Chronovisor: Saat Kebenaran dan Teori Konspirasi Sulit Dibedakan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Through the Darkness: Mengurai Criminal Profiling dan Psikologi Kejahatan
-
5 Pesan Moral Bisa Dipelajari dari Karakter Je Moon-jae di Drakor Mousetrap
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?