Ada ekspektasi yang otomatis muncul ketika aktris Kate Winslet tertera bukan hanya sebagai pemeran, tapi juga sutradara. Tentu, banyak dari sinefil nonton film Goodbye June dengan harapan menyaksikan sesuatu yang personal, berani, atau setidaknya emosional. Terutama karena ini adalah debut penyutradaraannya.
Dengan skenario yang ditulis Joe Anders, ‘Goodbye June’, drama berdurasi 114 menit yang dirilis Netflix pada 24 Desember 2025 semakin meriah berkat kehadiran deretan aktor papan atas: Helen Mirren, Kate Winslet, Toni Collette, Andrea Riseborough, Johnny Flynn, dan Timothy Spall.
Melihat komposisi pemainnya saja, film ini seharusnya punya daya ledak emosional yang besar. Sayangnya, potensi itu hanya sesekali muncul dan tak pernah benar-benar membekas.
Masa Sih? Kulik Kisahnya Dulu, Yuk!
Ceritanya, June (Helen Mirren) sedang sekarat. Natal tinggal menghitung hari, dan dokter ngasih isyarat waktu June mungkin nggak akan sampai sejauh itu. Kabar tersebut menjadi pemicu berkumpulnya kembali anggota keluarga yang telah lama terpecah akibat konflik, ego, dan luka lama yang nggak pernah sembuh.
June ditemani suaminya, Bernard (Timothy Spall), sosok dengan humor kering yang seolah-olah menjadi tameng menghadapi kenyataan pahit itu.
Anak-anak mereka datang satu per satu: Julia (Kate Winslet), si perfeksionis pekerja keras yang selalu merasa harus membereskan segalanya; Molly (Andrea Riseborough), yang diliputi amarah dan kepahitan; Helen (Toni Collette) si spiritualis eksentrik dengan energi hippie yang nyaris karikatural; serta Connor (Johnny Flynn), bungsu yang paling pendiam dan tampak paling jujur pada kesedihannya.
Mereka semua dipaksa menghadapi kenyataan: perpisahan yang nggak bisa ditunda, dan hubungan keluarga yang terlalu lama dihindari.
Kisahnya memang sekompleks itu.
Namun, Benarkah Kurang Membekas di Benak Sinefil?
Sejak menit-menit awal, aku memang merasa kayak lagi nonton sesuatu yang sudah sering aku lihat. Keluarga disfungsional, ibu yang sekarat, momen liburan yang seharusnya hangat tapi malah dipenuhi konflik. Semua elemen itu bukan hal baru. Bahkan, kemiripannya dengan ‘Blackbird’ (2019), film lain yang juga dibintangi Winslet, terlalu mencolok buat diabaikan.
Ini ibarat drama keluarga yang terasa terlalu aman, terlalu rapi, dan sayangnya mudah terlupakan.
Masalah ‘Goodbye June’ bukan pada premisnya sih, melainkan pada ketidakmampuannya memberi sudut pandang yang fresh. Film ini berjalan mengikuti jalur yang sudah bisa ditebak, jadi wajar bila kubilang film ini takut mengambil risiko emosional yang lebih liar atau jujur.
Dan sebagai debut penyutradaraan Kate Winslet, ‘Goodbye June’ terasa sangat tertarik memberi ruang bagi para pemainnya ketimbang membangun bahasa visual atau ritme penceritaan yang kuat. Kamera seringkali netral, aman, dan nyaris textbook.
Nah, sekarang masuk masalah terbesar film Goodbye June. Kecenderungannya terlalu memaksa perasaan. Film ini berjalan di garis tipis antara tulus dan manipulatif, dan sayangnya lebih sering jatuh ke sisi yang kedua. Banyak momen emosional terasa disusun terlalu rapi, terlalu ‘siap dengan air mata’, hingga kehilangan kejujurannya.
Ada satu adegan percakapan di lorong rumah sakit antara Julia dan Molly yang benar-benar menarik sih. Di sana, film ini berhenti berusaha menjadi drama keluarga besar dan fokus pada relasi personal. Sayangnya, momen seperti itu terlalu jarang.
Bagiku, ‘Goodbye June’ bukan film yang buruk. Film ini dibuat dengan niat baik kok, juga diperankan dengan serius, dan sesekali menyentuh. Namun sebagai film, plotnya terlalu berhati-hati, terlalu sentimental, dan banyak bergantung pada formula yang sudah usang.
Yang jelas, aku menghargai keberanian Kate Winslet untuk melangkah ke kursi sutradara, tapi debut ini terasa seperti latihan awal, bukan pernyataan artistik yang kuat.
Buat Sobat Yoursay yang mau nonton, cek Netflix ya. Siapa tahu kamu punya pendapat dan menemukan hal positif lain dari film ini. Selamat nonton, ya!
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Agak Laen: Menyala Pantiku Jadi Film Indonesia Terlaris, Posisi Avengers Endgame Terancam
-
Sukses Besar! Agak Laen 2 Jadi Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa
-
7 Rilisan Terbaru Disney+ Januari 2026, Ada Tron: Ares dan Wonder Man
-
Review Film Moon The Panda: Kisah Inspiratif tentang Pelestarian Satwa
-
Sinopsis Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Ketika Dendam Berujung Teror
Ulasan
-
Ulasan Novel Earthshine: Beban Skripsi, Luka Mental, dan Dilema Hubungan
-
Analisis Cerpen Robohnya Surau Kami: Kritik A.A. Navis tentang Ibadah Tanpa Amal
-
Merayakan Hidup Orang Biasa dalam Novel Kios Pasar Sore
-
Merawat Luka Keluarga dalam Novel 7 Our Family Karya Kusdina Ain
-
Review Film Moon The Panda: Kisah Inspiratif tentang Pelestarian Satwa
Terkini
-
Kabar Gembira untuk ARMY: BTS Konfirmasi Jadwal Comeback Full Team dan Tur Dunia
-
Dewi Persik Isyaratkan Punya Kekasih Baru, Ungkap Reaksi sang Putra
-
4 Ide Daily OOTD ala Hongjoong ATEEZ, Mulai Casual hingga Formal Look!
-
Jangan Dianggap Sepele! 5 Kebiasaan yang Bikin Mood Rusak dan Berantakan
-
Warisan Wedhus Gembel