Aku takut gelap. Rasa itu menempel seperti jelaga, ikut bernapas bersamaku. Sudah seminggu rumah sederhana ini kehilangan listrik. Malam merayap pelan, dan di ruang tengah beralaskan tikar, sebatang lilin berdiri di atas meja, berdekatan dengan dinding kayu yang retaknya menyerupai urat-urat tua.
Aku merebahkan tubuh. Tikar itu mengembuskan bau tanah kering bercampur penguk.
“Ayah, kapan Ibu pulang?” tanyaku, suara sengaja kubuat menggerutu.
Ayah tak menjawab. Tatapannya diam di api lilin, seperti sedang menghitung sesuatu yang tak ingin selesai.
Aku memonyongkan bibir. “Umurku sudah lima belas tahun. Kenapa sampai sekarang ibu belum pulang juga?”
Ayah berdeham. Suara itu berhenti di tenggorokannya sendiri. Aku tak tahu apakah beliau bosan, marah, atau hanya terlalu lelah untuk menjelaskan hal yang sama berulang kali. Ayah bergeser mendekati lilin. Lututnya menyentuh lantai. Punggungnya membungkuk, seperti orang yang hendak berdoa, atau orang yang kehabisan cara.
“Ayah …,” aku mendekat. “Coba minta ke Allah—”
“Minta apa?” potongnya, kening berkerut.
“Aku mau rumah kita diganti jadi mewah.”
Ayah tertawa kecil, suara yang cepat padam. “Dasar bocah.” Tangannya terulur. Dan aku masuk ke dalam dekapan lengannya.
Kami duduk sejajar. Lilin itu kini tak utuh, tingginya tinggal separuh. Lelehan lilin mengeras di meja seperti air mata yang lupa jatuh.
“Masih ada persediaan, kan?” tanyaku.
Ayah tersenyum.
“Ayah, nanti jangan lupa peluk aku,” pintaku.
“Tapi jangan terus-terusan jadi penakut,” katanya pelan. “Kelak kau harus jadi pemberani. Ini cuma soal waktu. Gelap tak mungkin ada selamanya. Anggap hitam itu putih. Beres, kan? Nanti takutnya juga hilang …,’ lalu melirikku lekat-lekat. “Kau laki-laki, kan?”
Aku mendecak dalam hati. Dadaku mengeras, seperti ada sesuatu yang tertahan di sana. Sejak kapan rasa takut punya jenis kelamin? Bukankah gelap masuk lewat mata siapa saja, tanpa bertanya aku ini anak laki-laki atau bukan?
Ayah menyikut lenganku. “Bisa janji apa tidak?”
Aku mengangguk, sekadar agar beliau berhenti bicara.
“Lihat,” katanya. Jempol kanan dan kiri beliau ditautkan, sementara empat jari lainnya mengepak pelan. Api lilin bergetar, dan bayangan dari pantulan itu merambat perlahan di dinding kayu yang tipis dan rapuh.
Aku mendongak, mengikuti gerak tangannya. Dinding yang retak-retak mendadak terasa luas, seolah-olah memberi ruang bagi sesuatu yang ingin terbang.
“Kupu-kupu malam,” kataku pelan, nyaris berbisik.
“Hus.” Jarinya menempel di bibirku. Sentuhannya singkat dan hangat. “Itu kupu-kupu.”
Aku terdiam. Bayangan itu terus mengepak, jatuh bangun mengikuti napas api lilin. Untuk sesaat, aku lupa gelap, lupa listrik yang tak kunjung menyala, lupa pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah dijawab. Di dinding itu, ada kupu-kupu—cukup kupu-kupu—dan Ayah ada di sampingku.
Aku tersenyum kecil, lalu membalas. Tanganku kuangkat perlahan ke arah cahaya. Jemari kutekuk, dua jari kujadikan kaki, ibu jari dan telunjuk kubuka menjorok ke depan. Bayangannya jatuh di dinding, gemuk dan kaku. “Tebak! Kalo ini bentuk apa?”
“Kambing,” jawab Ayah cepat, nadanya datar.
Aku tertawa kecil. Tanganku bergerak lagi. Kali ini telapak kubulatkan, dua jari kupisahkan, sisanya kulipat. Bayangan itu memanjang, seolah-olah mengepak sebentar sebelum diam. “Yang ini?”
“Burung.”
Aku belum puas. Jemariku kembali kuubah. Ini membentuk sayap yang lebih runcing, paruh yang panjang, bayangan yang bergerak lebih cepat dan lebih liar. “Nah, kalau—”
“Sudah gelap,” potongnya. “Tidur, yuk!”
Aku menurut, lantas merebahkan diri di sampingnya. Ayah memelukku. Api lilin masih berdiri, goyah tapi setia.
Kelopak mataku hampir tertutup ketika cahaya jingga itu tiba-tiba berguncang. Teriakan datang dari luar rumah. “Kebakaran! Kebakaran!”
Aku terperanjat. Panas merambat dan lidah-lidah merah liat melompat-lompat di dinding. Ah, tampaknya Tuhan mendengar permintaanku. []
Purbalingga, 2 Januari 2026
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
4 Brightening Moisturizer Symwhite 377 Atasi Dark Spot, Mulai Rp 30 Ribuan
-
Alasan Gen Z Sering Meragukan Ketulusan Orang Lain, Dihantui Trust Issue?
-
Rilis Teaser, Good Partner 2 Tampilkan Duo Baru Jang Na Ra dan Kim Hye Yoon
-
Bukan HP Murahan: 7 Smartphone 1 Jutaan dengan Memori 256 GB
-
Merawat Luka Keluarga dalam Novel 7 Our Family Karya Kusdina Ain