Di era media sosial sekarang, rasanya mudah untuk membuat kita ngerasa “kurang” dari segi manapun. Scroll Instagram, lihat teman upload liburan ke luar negeri. Buka TikTok, ada orang seumuran udah sukses berbisnis. Atau bahkan mampir ke LinkedIn, melihat teman SMA udah jadi manajer, sementara kita masih bingung mau ke mana.
Tapi, membandingakan diri sama orang lain itu refleks alami, tapi kalau menjadi kebiasaan, bisa bikin kita kehilangan jati diri. Padahal, nilai diri atau value itu bukan soal seberapa mirip kita dengan orang lain, tapi seberapa berharga kita dengan jadi versi terbaik diri sendiri.
Meningkatkan value diri sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Kuncinya adalah mengenali siapa diri kita. Banyak orang terlalu sibuk mengejar “standar sukses” orang lain, sampai lupa dengan potensi yang dimiliki sendiri.
Padahal, setiap orang itu unik. Ada yang jago ngomong, ada yang detail-oriented, ada yang kreatif, ada juga yang tenang dan bisa jadi pendengar baik. Dengan mengenali diri, kita bisa lebih nyaman dengan keunikan yang kita punya, dan otomatis orang lain pun akan lebih respect.
Selain itu, value diri juga bisa naik dengan upgrade skill, bukan cuma menjaga atau mencari image. Di zaman digital, banyak orang sibuk ngejar “personal branding” tapi lupa fondasi utamanya, yaitu kemampuan nyata. Percuma tampil keren di feed kalau nggak ada skill di balik itu. Justru nilai diri makin kuat kalau kita punya keterampilan yang bisa diandalkan. Kalau suka desain, asah terus kemampuan editing.
Kalau jago ngomong, latih public speaking. Kalau suka nulis, mulailah bikin blog atau ikut lomba artikel. Skill itu investasi jangka panjang, dan orang lain akan menghargai kita karena kapasitas nyata, bukan sekadar penampilan.
Tips Meningkatkan Value Diri
Penting juga untuk punya ‘growth mindset’, berpikir maju ke depan. Banyak orang salah kaprah, ikut tren dianggap keren, padahal tren datang dan pergi. Kalau cuma ngikutin, identitas kita gampang hilang. Yang bikin nilai diri tinggi adalah kemauan untuk selalu belajar, nggak takut salah, dan berani evaluasi diri.
Kalau gagal interview kerja, jangan langsung down. Catat apa yang bisa diperbaiki dan coba lagi. Kalau ditolak lomba, anggap saja latihan. Dengan mindset ini, kita akan terus berkembang, bukan sekadar terlihat keren sesaat.
Karakter juga punya peran besar dalam meningkatkan value. Orang dengan integritas tinggi biasanya lebih dihargai. Mereka yang bisa dipercaya, konsisten, dan menepati janji akan lebih disukai dibanding orang pintar tapi nggak bisa diandalkan. Hal-hal kecil seperti tepat waktu, menyelesaikan tugas sesuai janji, atau jujur dalam pekerjaan bisa membangun reputasi positif. Reputasi ini yang nantinya membuat nilai kita lebih tinggi di mata orang lain.
Selain itu, peduli pada orang lain juga bisa meningkatkan dirimu. Banyak orang lupa kalau kebaikan kecil pun bisa berdampak besar. Misalnya dengan jadi pendengar yang baik, membantu orang yang kesulitan, atau berbagi ilmu di media sosial. Orang mungkin akan lupa apa yang kita katakan, tapi mereka nggak akan lupa bagaimana kita membuat mereka merasa. Semakin tulus kita membantu, semakin tinggi pula nilai kita.
Satu hal yang nggak kalah penting adalah tahu batas. Inspirasi dari orang lain memang bagus, tapi jangan sampai berubah jadi tiruan. Dunia nggak butuh dua versi orang lain, melainkan butuh versi terbaik dari diri kita. Belajar dari mereka boleh, tapi modifikasi dengan gaya dan kepribadian kita sendiri. Dengan begitu, kita tetap punya ciri khas yang membedakan kita dari orang lain.
Pada akhirnya, meningkatkan value diri bukan berarti harus ikut standar orang lain. Justru nilai paling tinggi lahir ketika kita mengenal diri sendiri, terus belajar, menjaga integritas, peduli pada sesama, dan tetap setia dengan keunikan yang kita miliki. Orang lain bisa meniru gaya kita, tapi mereka tak bisa meniru keaslian dan potensi yang ada di dalam diri kita. Maka dari itu, jadilah versi terbaik bagi dirimu, jangan takut melangkah!
Tag
Baca Juga
-
Demokrasi di Ujung Tanduk: Ojol Tewas Dilindas hingga Negara Tanpa Nurani
-
Buktikan Cinta Sejati, Lirik TWS 'Nice to See You Again' Bikin Baper!
-
Netflix Umumkan Alice in Borderland 3: Survival Gila Dimulai 25 September!
-
Konsep Gelap Lagu SEVENTEEN 'Fear': Cinta, Luka, dan Toxic Relationship
-
Sinopsis Film 'Night Always Comes' 2025: Thriller Kriminal Menegangkan
Artikel Terkait
-
Ngevlog Sejak Usia 5 Tahun, Ini Cara Ryu Kintaro Bocah Perintis Bangun Personal Branding Sejak Dini
-
Ulasan Buku Brand Yourself: Tips Personal Branding untuk Memperluas Relasi
-
7 Tips Perjalanan Bisnis yang Bisa Jadi Peluang Personal Branding
-
Seni Merajut Citra Diri Mahasiswa untuk Masa Depan Lewat Personal Branding
-
Nova Now Jakarta Resmi Dibuka, 6 Brand Desainer Asal Singapura Tampilkan Karya Seru
Kolom
-
DPR, Pagar Beton, dan WFH: Ironi di Balik "Gedung Wakil Rakyat"
-
Fenomena Parentification: Saat Anak Pertama Jadi Orang Tua Kedua
-
Dari Jalanan ke Ingatan: Affan Kurniawan, Martir di Tengah Demokrasi yang Timpang
-
Pensiun Dini Bukan Lagi Mitos: Gen Z Ubah Aturan Main Dunia Kerja
-
Ramai Seruan Bubarkan DPR: Ekspresi Marah atau Alarm Bahaya Demokrasi
Terkini
-
Commas oleh GIRLSET: Tak Tergoda Tawaran Paling Menggiurkan dalam Hal Cinta
-
OOTD Goals! 4 Daily Outfit Jeon Somi Buat Mood Tampil Chic atau Edgy
-
Gaya Streetwear ala Roh Yoon Seo: 4 Ide Mix and Match yang Bisa Kamu Tiru!
-
Ulasan Buku The Sacks of Cloud, Kebahagiaan yang Timbul dari Berbagi
-
BRI Super League: Hadapi Dewa United, Persija Jakarta Targetkan Raih Poin Sempurna