Di tengah ramainya wisata edukasi Taman Pintar Yogyakarta, ada satu sudut yang kini mulai terlupakan: deretan kios buku yang berdiri di samping Taman Pintar.
Banyak pengunjung datang untuk bermain, berfoto, atau mencoba wahana interaktif, tapi tak sedikit yang bahkan tidak tahu kalau di sana masih ada kios buku yang menjual berbagai bacaan anak dan pelajaran sekolah.
Sudut yang Terlupakan di Tengah Ramainya Wisata
Padahal, kios buku itu bukan pendatang baru. Salah satu penjual buku yang enggan disebutkan namanya mengaku sudah berjualan di tempat itu sejak tahun 1996.
“Saya sudah berjualan di sini sudah dari sekitar tahun 1996. Dulu ramai banget, apalagi waktu hari libur. Sekarang sudah beda, minggu aja sepi, apalagi hari biasa, tambah sepi,” ujarnya pada Minggu (5/10/2025)
Kios yang ia jaga kini jarang disambangi pembeli. Menurutnya, sebagian besar pengunjung Taman Pintar datang hanya untuk bermain atau sekadar jalan-jalan, bukan untuk membeli buku.
“Sekarang paling yang beli cuma anak-anak atau orang-orang yang piknik dari Taman Pintar. Ya ada satu dua pembeli, tapi nggak kayak dulu pokoknya,” tambahnya.
Ia mengaku jenis buku yang paling sering dicari adalah buku cerita anak-anak bergambar atau buku pelajaran ringan.
“Kadang yang laku buku ringkasan pelajaran, tapi ya jarang. Orang-orang sekarang kan lebih banyak pakai HP, dari situ udah bisa baca atau beli buku online,” katanya sambil tersenyum kecil.
Anak Muda Tak Lagi Mencari Buku di Sana
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana perubahan zaman menggeser cara orang mencari bacaan. Internet dan e-commerce memang memudahkan siapa pun untuk membeli buku tanpa harus keluar rumah. Namun, di sisi lain, kios-kios buku kecil seperti yang ada di Taman Pintar perlahan kehilangan pengunjung.
Sementara itu, Fiza (12), salah satu pengunjung Taman Pintar, mengaku baru tahu kalau di dalam kawasan wisata tersebut ada kios buku.
“Kurang tahu sih kak, aku biasanya beli buku online, soalnya lebih gampang nyarinya di online, kalau di sini kan rame dan harus tanya satu-satu gitu. Jadi aku lebih suka beli online aja.” jelasnya.
Jawaban Fiza mungkin mewakili banyak anak muda sekarang yang tumbuh di era digital. Bagi mereka, membeli buku online terasa lebih praktis dan cepat. Tak heran jika keberadaan kios buku di tempat wisata seperti Taman Pintar jadi kurang dikenal.
Kios Buku, Saksi Perubahan Zaman
Kios buku yang berdiri sejak puluhan tahun lalu itu kini seolah menjadi bagian dari sejarah yang terlupakan. Meski begitu, penjualnya tetap bertahan dengan harapan sederhana: masih ada orang-orang yang mau datang langsung, menyentuh buku, dan membalik halamannya.
Kios-kios buku seperti ini bukan sekadar tempat jual beli, tapi juga saksi perubahan minat baca masyarakat. Dari masa ketika orang rela berjalan ke toko untuk mencari buku, hingga masa kini ketika semua bisa diakses lewat ponsel.
Meski semakin jarang dilirik, kios buku Taman Pintar tetap ada, berdiri tenang di tengah hiruk-pikuk kota wisata, menunggu pembaca baru yang mungkin datang bukan hanya untuk bermain, tapi juga menemukan kembali kehangatan membaca dari buku yang nyata.
Baca Juga
-
Campaign Anti-Bullying, Suara.com dan BLP UNISA Kunjungi SMA Mutiara Persada
-
100 Perempuan Muda Siap Raih Mimpi Bersama Glow & Lovely Bintang Beasiswa 2025
-
Spesial Hari Guru! Suara.com Dampingi Guru Ngaglik Pelatihan Menulis
-
Rayakan Natal dan Tahun Baru 2026 Penuh Warna di Satoria Hotel Yogyakarta
-
Segera Tayang! Intip 4 Fakta Menarik di Balik Film 'Belum Ada Judul'
Artikel Terkait
-
Rumah Tangga: Mengintip Kehangatan dan Kejujuran di Balik Pintu Keluarga
-
The Principles Of Power: Rahasia Memanipulasi Orang Lain di Segala Situasi
-
Dulu Ramai, Kini Sepi: Kisah Redupnya Pusat Buku Taman Pintar Yogyakarta
-
Les Temptes de la Vie: Ketika Musik, Paris, dan Badai Hidup Menyatu
-
Matahari Mata Hati: Mimpi yang Tumbuh dari Pesantren dan Persahabatan
Kolom
-
Anatomy of Curiosity: Saat Kemalangan Orang Lain Menjadi Kepuasan Otak Kita
-
Seteguk Kopi di Tengah Peluh, Jeda Singkat Seorang Pekerja
-
Analisis Film Dirty Vote II O3: Antara Pasal KUHP dan Krisis Demokrasi
-
Diplomasi vs Realitas: Menakar Nyali Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB
-
Wacana Pilkada oleh DPRD, Kedaulatan Rakyat di Persimpangan Pilihan?
Terkini
-
Hangat dan Menyentuh, I Lost My Adventurer's License Dapat Adaptasi Anime
-
4 Sunscreen Lokal Green Tea untuk Kulit Sehat Bebas Sunburn dan Jerawat
-
Stray Kids dan G-Dragon Kembali Meriahkan Gala des Pieces Jaunes 2026
-
Transformasi Akting Jung Ji-so, Si Aktris Serbabisa di Drama Who Is She!
-
Bincang Manis