Tumbuh dengan parenting VOC itu kayak hidup di rumah yang setengah asrama, setengah kantor militer. Salah atau ngelawan dikit, langsung dikira kurang ajar. Tapi entah kenapa, di balik semua itu, aku malah tumbuh jadi orang yang lumayan tangguh.
Mungkin karena dari kecil aku sudah terbiasa mendengar nada tinggi khas Sumatera Selatan sebagai bahasa sehari-hari. Bukan karena benci, tapi karena di rumahku volumenya memang selalu keras.
Kadang aku iri lihat teman-temanku yang bisa manggil orang tuanya “bestie” atau curhat tanpa takut salah ucap. Di rumahku, curhat sering kali terdengar seperti laporan yang selalu disangkal.
Tapi anehnya, ketika aku keluar dari rumah dan mulai bertemu dunia yang lebih luas, aku justru sadar: sistem “kolonial” itu meninggalkan bekal yang tak selalu buruk.
Aku jadi terbiasa bertanggung jawab, nggak gampang ngeluh, dan tahu gimana rasanya menahan diri sebelum ngomong. Hal-hal kecil yang dulu kukira beban, ternyata justru bikin aku kuat menghadapi macam-macam jenis manusia dan situasi.
Nyatanya, aku pernah bertemu beberapa teman yang tampak pongah menghadapi dunia dan seisinya, seperti dunia ini tak pernah berani menampar mereka.
Setelah kutahu latar belakangnya, ternyata mereka tumbuh dalam rumah yang serba lembut, di mana setiap kesalahan dimaafkan sebelum sempat disadari.
Tidak untuk menghakimi parenting orang lain, namun kenyataan itu seakan terasa bahwa mereka tumbuh dengan rumah yang terlalu nyaman. Rumah yang menjadi tempat dimana semua masalah diselimuti, bukan dihadapi.
Tentu saja, bukan berarti salah satu dari ribuan jenis parenting itu baik, termasuk parenting VOC yang kuhadapi. Ada kalanya bagian dari dalam diriku yang lama belajar caranya mengekspresikan emosi.
Terkadang aku butuh waktu bertahun-tahun untuk paham bahwa ketegasan bukan satu-satunya bentuk kasih.
Tetapi setelah aku bisa berdamai dengan masa lalu, aku mulai melihat sisi lain dari didikan itu: mereka keras bukan karena tak sayang, tapi karena takut aku gagal.
Benar memang ada pepatah mengatakan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Sekarang aku justru mulai meniru beberapa hal yang dulu kukeluhkan. Misalnya, refleks ngomel kalau ada yang telat lima menit, atau perasaan bersalah kalau bangun kesiangan.
Bedanya, aku sudah belajar menambahkan sesuatu yang dulu jarang kudapat. Tentang kasih, penjelasan, kata maaf, kata terima kasih, bahkan sentuhan hangat yang jarang kurasakan. Serta tentang cinta yang tidak pandai ditunjukkan, tapi selalu berusaha melindungi dengan caranya sendiri.
Di sisi lain, aku menyadari bahwa mungkin memang begitu cara warisan itu bekerja: tidak semua hal dari masa lalu bisa kita pilih, tapi pelan-pelan kita belajar memilah mana yang perlu diteruskan, mana yang sebaiknya berhenti di diri kita.
Aku tidak ingin jadi orang tua yang menakutkan, tapi aku juga tidak ingin kehilangan ketegasan yang dulu membuatku tahan banting.
Di antara dua kutub itu, aku sedang mencari bentuk tentang bagaimana mencintai tanpa harus berteriak, dan menegur tanpa harus melukai.
Lebih jauh lagi, aku tidak menyebut didikan itu sempurna, tapi aku juga tak ingin menolaknya sepenuhnya. Ada bagian dari masa lalu yang keras, tapi justru di situlah aku belajar bagaimana dunia bekerja.
Hingga pada akhirnya, aku menyadari bahwa tumbuh dengan parenting VOC memang berat—tapi tidak seburuk itu.
Baca Juga
-
Merayakan Perempuan, FISTFEST Hadirkan Ruang Ekspresi Lewat Bunga dan Musik
-
Menebar Kebaikan di Bulan Suci, FISTFEST Berkolaborasi dengan Waroeng Steak
-
Tanam Mangrove dan Berkarya, Kolaborasi Seniman dan Penulis di Pantai Baros
-
4 Rekomendasi Social Space di Jogja untuk Nongkrong dan Diskusi Santai
-
Lagu Digunakan Tanpa Izin, Band Wijaya 80 Laporkan Pelanggaran Hak Cipta
Artikel Terkait
-
Bikin Anak Jadi Percaya Diri: Pentingnya Ruang Eksplorasi di Era Digital
-
Peer Parenting: Rahasia Ibu Modern Membangun Generasi Luar Biasa
-
Sabar dan Tetap Senyum, Intip Momen Nikita Willy Hadapi Tingkah Aktif Issa
-
Punya Pengaruh Buruk, Ini 5 Cara Meminimalisir Screen Time pada Balita
-
Anak Percaya Diri, Sukses di Masa Depan! Ini yang Wajib Orang Tua Lakukan!
Kolom
-
Rumah Kinclong Jelang Lebaran: Tradisi Tahunan yang Tak Pernah Absen
-
Aktivis Kontras Diserang, Bukti Nyata Kemunduran Demokrasi?
-
Aktivis HAM Indonesia: Pekerjaan Paling Berbahaya dengan Nyawa Taruhannya
-
Lebaran Bukan Fashion Week: Mending Hati yang Glow Up daripada Pamer Gamis Baru
-
Misi PSDC GKI Gejayan: Ketika Notasi Lagu dan Coretan Partitur Lebih Seram dari Soal UTS
Terkini
-
4 Ide OOTD Outerwear ala Ningning aespa, Dari Chic sampai Bold Look!
-
Angkat Kisah Superhero yang Gagal Jadi Aktor, Wonder Man Adalah Miniseri Marvel Paling Berani!
-
Seni Beretorika di Buku How to Win an Argument Karya Marcus Tullius Cicero
-
Kulit Dehidrasi saat Puasa? Ini 4 Sleeping Mask Hyaluronic Acid Terbaik
-
Musuh Terbesar Atlet Wanita Bukan Lawan di Lapangan, Tapi Stigma dan Body Shaming!