Rasanya tuh takjub banget ketika ada kisah kecil dari negeri tropis bisa sampai ke Los Angeles, kota yang selama ini jadi mimpi bagi banyak pembuat film di seluruh dunia. Itulah yang baru saja terjadi pada Film Sore: Istri dari Masa Depan besutan Sutradara Yandy Laurens yang akhirnya melangsungkan pemutaran perdananya di Los Angeles.
Kabar bahagia itu diumumkan langsung lewat akun resmi Cerita Films, rumah produksi yang menggandeng Studio Antelope dalam mewujudkan proyek ini. Dalam unggahannya, mereka menulis dengan penuh rasa syukur dan mengucapkan terima kasih kepada para penonton Tanah Air yang telah mendukung perjalanan film ini, yang awalnya hanya berupa web series sederhana, hingga akhirnya menjelma menjadi film layar lebar. Kini, Sore: Istri dari Masa Depan resmi diajukan mewakili Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di Academy Awards ke-98 (Oscar 2026).
Dan siapa sangka, film yang awalnya terasa intim dan personal ini, kini jadi salah satu wakil dari Indonesia di panggung global. Gila banget sih!
Film ini nggak akan hidup tanpa Sheila Dara Aisha serta Dion Wiyoko deh, selain kisahnya yang begitu unik, menggabungkan dua hal yang jarang kita temui dalam sinema Indonesia, yakni romantika hangat dan sentuhan fiksi ilmiah yang lembut.
Dan seperti film-film Yandy Laurens sebelumnya (Keluarga Cemara, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film), film ini terasa jujur. Nggak memaksa air mata, tapi diam-diam membuat dada sesak.
Maka dari itu, pemutaran di Los Angeles menjadi tonggak penting, bukan hanya bagi film ini, tapi juga bagi perjalanan panjang sinema Indonesia yang mulai berani keluar dari zona amannya. Ya, selama ini, perfilman kita cenderung nyaman bermain di ranah yang sudah pasti digemari penonton lokal, misalnya drama keluarga yang mengharu biru atau horor mistis yang jadi primadona. Sekarang beda ya! Kita punya film romantis-sci-fi, genre yang jarang sekali disentuh sineas tanah air, dan kini berhasil menembus panggung internasional.
Momen ini seperti bukti nyata bahwa perfilman Indonesia sedang berevolusi. Ada keberanian baru, ada rasa percaya diri untuk menantang batas dan memperkenalkan kisah cinta yang dibalut dengan konsep waktu, takdir, dan sains ke mata dunia.
Dan di balik semua itu, ada semangat yang nggak bisa disepelekan. Semangat untuk bercerita. Untuk menunjukkan bahwa cinta, harapan, dan rasa kehilangan punya bahasa universal. Nggak peduli dari mana asalnya. Film ini jadi bukti bahwa sinema Indonesia nggak cuma mampu bikin takut atau bikin nangis, tapi juga bisa bikin kagum dan mikir. Kalau langkah ini diteruskan, bukan mustahil suatu hari nanti film-film kita bakal go international.
Sungguh, melihat Film Sore: Istri dari Masa Depan tayang di lolos seleksi itu rasanya seperti melihat teman sendiri sukses, alias ikutan bangga.
Yandy Laurens dan timnya sekali lagi membuktikan bahwa film yang lahir dari hati dan kejujuran selalu ada tempat di hati siapa pun (sinefil), nggak peduli di negara mana film itu diputar. Dan mungkin, di tengah derasnya tren horor, drama murahan, dan komedi, film seperti SORE adalah pengingat bahwa kita masih butuh cerita tentang manusia, tentang rasa, dan tentang cinta yang nggak kenal waktu.
Selamat dan semangat terus untuk semua orang yang terlibat dalam pembuatan Film Sore: Istri dari Masa Depan ya. Kalian keren banget!
Baca Juga
-
Sekat Rasa dan Hati yang Terhentak
-
Review Kung Fu Soccer: Terlalu Absurd Disebut Film Tentang Sepak Bola, Apakah Layak Ditonton?
-
Lockbox Terasa Seperti Dua Film yang Dipaksa Menjadi Satu
-
The End of Oak Street Pamer Dinosaurus Sampai Misterinya Lupa Dikupas
-
Upon Entry: Ketika Orang yang Kita Cintai Mendadak Jadi Orang Asing
Artikel Terkait
-
Sinopsis Film Janur Ireng, Teror Santet Paling Mematikan di Rumah Paman Sendiri
-
Mengapa Maharani 4 Wajib Tonton? Kombinasi Akting Memukau dan Cerita Politik yang Sangat Relevan
-
Film Terbaru Ernest Prakasa Lupa Daratan Singgung Kehidupan Artis Papan Atas
-
Susul Lola Tung, Nicole Kidman Dikonfirmasi Main Film The Young People
-
Trailer Film Michael Jackson Meledak Ditonton Banyak Orang, Sosok Keponakannya Bikin Merinding!
Kolom
-
Bukan Sekadar Wisata, Ini Cara Kang Edai Menggerakan Kemiren
-
Birokrasi di Era Digital: Saat Keruwetan Administrasi Pindah ke Layar
-
Bukan Sekadar Nyanyi dan Tepuk Tangan: Sisi Lain Perjuangan Menjadi Guru TK
-
Gaji Istri Lebih Besar, Apakah Adil Kendali Finansial Tetap di Suami?
-
Desa Les Buleleng Bali Menanam Masa Depan Lewat Konservasi Terumbu Karang
Terkini
-
The Judge from Hell: Jika Hukum Gagal, Haruskah Keadilan Dicari di Neraka?
-
Game Over: Menemukan Titik Temu Antara Seadanya dan Seandainya
-
Review Drama Kill It, Terbongkarnya Rahasia Panti Asuhan Hansol yang Kelam
-
How to Make Millions Before Grandma Dies: Ketika Warisan Bukan Lagi Tujuan Utama
-
ASUS ExpertBook P5 G2: Laptop Tipis yang Mengubah AI Menjadi Teman Bisnis