Hari Guru baru saja diperingati. Banyak guru, baik di kota maupun pelosok, mendapatkan perhatian dari murid-murid mereka. Entah itu berupa kejutan hadiah kecil, secarik ucapan yang dituliskan pakai kertas warna-warni, atau hanya sekadar ucapan selamat yang terdengar sederhana tapi punya makna besar. Dari raut wajah guru-guru itu, kelihatan sekali jika mereka senang merayakan hari spesial tersebut bersama muridnya.
Namun, di balik senyum yang hangat itu, ada satu hal yang sering muncul di hati banyak guru di seluruh Indonesia. Sebuah pertanyaan yang terdengar sepele tapi sebenarnya berat: apakah pendidikan dan pengajaran yang mereka berikan sudah tersampaikan dengan baik? Dan anehnya, pertanyaan ini hampir selalu muncul setiap kali Hari Guru dirayakan.
Sementara itu, ada suara-suara lain yang mengatakan bahwa kemampuan peserta didik zaman sekarang menurun dibanding generasi sebelumnya. Ironisnya, sosok yang paling sering disalahkan adalah guru. Padahal kalau bicara soal pendidikan, banyak pihak yang ikut terlibat: orang tua, sekolah, masyarakat, dan tentu saja pemerintah. Guru bukan satu-satunya penanggung jawab. Mereka hanya salah satu pilar dari ekosistem yang jauh lebih besar.
Guru sendiri sudah mengerahkan segala kemampuan yang mereka punya. Mulai dari menyusun modul ajar yang berbasis student-centered, menerapkan berbagai metode kreatif di kelas, hingga menggunakan beragam model penilaian untuk memastikan setiap aspek kemampuan peserta didik bisa dinilai dengan adil. Tapi ketika ada peserta didik yang nilainya jelek atau gagal dalam ujian, jari telunjuk langsung tertuju ke siapa? Ya, benar. Gurunya lagi.
Padahal, setiap peserta didik punya karakteristik yang berbeda. Ada yang unggul di akademik, ada yang lebih menonjol di olahraga, seni, atau bahkan ada yang masih mencari jati dirinya dan terlihat “biasa” di mata banyak orang. Sebagai guru, sudah menjadi kewajiban untuk mengajar sesuai karakteristik itu. Pendekatan ini kita kenal dengan diferensiasi pembelajaran. Tapi, apakah beban sebesar itu hanya mungkin ditanggung oleh guru seorang? Tentu tidak. Di sinilah pentingnya peran orang tua, masyarakat, dan juga pemerintah.
Peran Orang Tua sebagai Fondasi Awal Pendidikan Anak
Pendidikan sejatinya tidak hanya terjadi di sekolah. Rumah adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Harapannya, orang tua mampu mengajarkan hal-hal yang mungkin belum sempat disentuh di sekolah, seperti sopan santun, kebersihan diri, kebiasaan membaca, hingga kemampuan mengelola emosi. Semua nilai itu akan berpengaruh besar terhadap karakter anak saat berada di lingkungan sekolah.
Lingkungan dan Masyarakat yang Ikut Membentuk Cara Anak Belajar
Lingkungan masyarakat pun tidak kalah pentingnya. Anak-anak tumbuh dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan setiap hari. Jika lingkungannya mendukung, menghargai proses belajar, dan tidak meremehkan profesi guru, anak-anak akan tumbuh dengan pandangan positif tentang pendidikan. Tapi jika sehari-hari mereka terbiasa mendengar orang dewasa menyalahkan guru atas semua masalah pendidikan, sedikit banyak mereka akan ikut menyerap pola pikir itu.
Peran Pemerintah dalam Menopang Sistem Pendidikan
Dan tentu, peran pemerintah tidak bisa diabaikan. Kebijakan pendidikan, kurikulum, kesejahteraan guru, hingga fasilitas sekolah adalah fondasi penting yang menentukan kualitas pendidikan. Guru bisa bekerja maksimal jika didukung oleh sistem yang kuat, bukan hanya tuntutan yang berat.
Membangun Generasi Tidak Bisa Dilakukan oleh Guru Saja
Maka ketika Hari Guru diperingati, semestinya bukan hanya guru yang dirayakan, tetapi seluruh lingkungan pendidikan perlu kembali merenung. Pendidikan adalah kerja kolaboratif. Guru mungkin menjadi wajah dari proses belajar, tetapi keberhasilan peserta didik adalah hasil dari kerja bersama antara guru, orang tua, masyarakat, hingga negara.
Pada hari peringatan guru, ucapan selamat bukan hanya simbol apresiasi, tapi juga pengingat bahwa mendidik generasi penerus adalah tugas yang memerlukan tangan dari banyak pihak. Guru memanglah pahlawan yang membangun insan cendekia, tapi bukan berarti mereka pahlawan yang harus bekerja sendirian.
Baca Juga
-
Kawasan Tanpa Rokok, Tapi Mengapa Asap Masih Bebas Berkeliaran?
-
Gaya Hidup Minimalis: Solusi Hidup Tenang Sekaligus Menjaga Kelestarian Alam
-
Waspada, 5 Masalah Kesehatan Ini Bisa Muncul Akibat Kurang Berjemur
-
Terlihat Sepele, Efek Menahan Lapar Bisa Serius bagi Tubuh
-
Jejak Karbon Digital Tersembunyi di Balik Setiap Email yang Anda Kirim
Artikel Terkait
-
Serba-serbi Momen Hari Guru: Disentil Netizen sebagai Hari Wali Kelas
-
Gus Yahya Lulusan Pondok Mana? Rekam Jejak Pendidikannya Ternyata Alumni Kampus Mentereng
-
Pemprov DKI Gagas LPDP Jakarta, Siap Biayai Warga Kuliah S2-S3 hingga Luar Negeri
-
DPRD DKI Soroti Gaji Guru Swasta di Jakarta: Jauh di Bawah UMP!
-
5 Karakter Guru di Film Indonesia yang Tak Mudah Dilupakan
Kolom
-
Psikologi Perubahan Iklim: Mengapa Kita Sadar Lingkungan tapi Malas Bertindak?
-
Kepekaan Perempuan Terhadap Bencana, Mengapa Kepedulian Dianggap Ancaman?
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Justru Melestarikan Ketimpangan
-
Menguliti Narasi 'Kuliah Itu Scam': Apa Gelar Masih Menjadi Senjata Utama?
Terkini
-
Penuh Chemistry! 3 Rekomendasi Drama Korea Go Yoon Jung di Netflix yang Bikin Baper
-
Anime Coming-of-age The Ramparts of Ice Siap Tayang April di Netflix
-
Terseret Isu Penelantaran Anak, Denada Unggah Pesan Haru untuk Mendiang Ibu
-
Mata Istri
-
Kulit Kepala Gatal? Ini 5 Sampo Ampuh untuk Dermatitis Seboroik