Kita semua sebenarnya sudah tahu dan sadar akan bahaya rokok. Mulai dari risiko penyakit jantung, gangguan paru-paru, sampai masalah kesuburan. Sosialisasi tentang bahaya rokok pun sudah sering dilakukan, termasuk kampanye mengenai kawasan tanpa rokok. Namun, di lapangan, kesadaran ini sering kali berhenti sebatas pengetahuan saja.
Masih banyak orang yang menyepelekan aturan tersebut. Ada anggapan bahwa merokok di luar ruangan tidak akan membahayakan orang lain karena asapnya langsung terbawa angin.
Ada pula yang merasa sudah aman hanya karena mencuci tangan, tanpa menyadari bahwa pakaian yang dikenakan tetap menyimpan residu asap rokok yang bisa ikut terhirup orang lain.
Ada satu kasus yang membuat hati saya terasa sakit. Ada seorang bayi, di usia yang masih sangat kecil, sudah harus diberi nebul.
Padahal sang ibu sudah berkali-kali memperingatkan ayahnya untuk tidak merokok. Sayangnya, peringatan itu diabaikan dengan alasan merokok dilakukan di luar rumah. Alasan yang terdengar sepele, tapi dampaknya begitu besar bagi tubuh yang masih rapuh.
Hak Bernapas Tanpa Asap Rokok
Setiap orang berhak untuk dilindungi kesehatannya, termasuk dari paparan asap rokok orang lain. Rokok tidak hanya berbahaya bagi perokok aktif, tetapi juga bagi mereka yang terpapar atau menghirup asapnya. Dari sinilah sebenarnya konsep kawasan tanpa rokok (KTR) hadir, sebagai bentuk perlindungan bersama.
Keberadaan KTR bukan sekadar imbauan biasa. Aturan ini sudah tertuang jelas dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023. Di dalamnya disebutkan bahwa kawasan tanpa rokok mencakup:
- Fasilitas kesehatan
- Sekolah
- Tempat ibadah
- Transportasi umum
- Tempat kerja, serta tempat-tempat lain yang ditetapkan.
Sayangnya, hingga kini masih banyak orang yang belum benar-benar paham atau memilih untuk tidak peduli mana saja area yang termasuk KTR.
Padahal, jika merujuk pada aturan yang berlaku, pelanggaran terhadap kawasan tanpa rokok dapat dikenai denda paling banyak Rp50.000.000,00. Angka yang tidak kecil, namun sering kali kalah oleh kebiasaan dan pemikiran “ah, cuma sebentar”.
Antara Ego Pribadi dan Kepentingan Orang Lain
Undang-undang sudah menegaskan bahwa setiap orang berhak untuk hidup sehat. Namun, dalam praktiknya, masih ada sebagian orang yang abai terhadap hak tersebut dan lebih memilih memuaskan egonya sendiri dibanding memikirkan kepentingan orang lain di sekitarnya.
Memang tidak bisa dimungkiri, berhenti merokok bukan perkara mudah, terutama bagi mereka yang sudah mengalami kecanduan. Prosesnya bisa disertai berbagai gejala, seperti mual, sakit kepala, hingga insomnia. Meski begitu, berhenti merokok bukanlah sesuatu yang mustahil.
Langkah awal yang paling penting adalah membulatkan tekad dan menumbuhkan keinginan kuat dari dalam diri. Alasan sederhana seperti demi orang tercinta atau kesehatan anak bisa menjadi motivasi yang sangat kuat. Jika berhenti secara total terasa terlalu berat, pengurangan secara bertahap bisa menjadi pilihan. Menunda waktu merokok atau mengalihkan perhatian ke aktivitas lain juga bisa membantu.
Manfaat yang dirasakan setelah berhenti merokok pun tidak main-main. Tekanan darah mulai stabil, racun nikotin perlahan keluar dari tubuh, dan risiko penyakit jantung koroner pun dapat ditekan.
Menciptakan Ruang Aman untuk Semua
Oleh karena itu, kita perlu bersama-sama menciptakan ruang yang aman dan nyaman untuk semua orang. Setiap individu berhak untuk bebas dari asap rokok dan berhak untuk hidup sehat tanpa harus mengorbankan dirinya karena kebiasaan orang lain.
Tulisan ini ditujukan sebagai pengingat bahwa di balik kebiasaan yang kerap dianggap biasa, ada dampak yang sering tidak kita sadari, terutama bagi kelompok yang rentan. Semoga tulisan ini bisa menjadi ruang belajar bersama, agar pilihan-pilihan kecil yang kita ambil hari ini tidak berubah menjadi risiko kesehatan bagi anak-anak di masa depan.
Baca Juga
-
Gaya Hidup Minimalis: Solusi Hidup Tenang Sekaligus Menjaga Kelestarian Alam
-
Waspada, 5 Masalah Kesehatan Ini Bisa Muncul Akibat Kurang Berjemur
-
Terlihat Sepele, Efek Menahan Lapar Bisa Serius bagi Tubuh
-
Jejak Karbon Digital Tersembunyi di Balik Setiap Email yang Anda Kirim
-
Hidup Selaras dengan Laut: Nilai Ekologis dalam Tradisi dan Praktik Pesisir
Artikel Terkait
Kolom
-
Merayakan Small Wins: Strategi Bertahan atau Justru Menidurkan Ambisi?
-
Kepercayaan Publik yang Kian Menjauh dari Pemerintahan
-
Kenapa Perempuan yang Berdaya Masih Dianggap Mengancam di Era Ini?
-
Urgensi HAM dalam KUHP: Bukan Aksesoris Kebijakan yang Bisa Dibahas Nanti
-
Gen Z dan Dilema Cari Kerja: Minim Kesempatan atau Terlalu Pilih-Pilih?