Hayuning Ratri Hapsari | Sherly Azizah
ilustrasi mahasiswa (Pexels/RDNE Stock project)
Sherly Azizah

Beberapa hari terakhir, di media sosial sedang ramai diperbincangkan terkait isu bahwa kuliah itu scam. Narasi ini seolah-olah menjadi api yang cepat menjalar di tengah kekecewaan anak muda terhadap biaya pendidikan yang melonjak dan dunia kerja yang kian kompetitif.

Kita disuguhi konten yang menampilkan sarjana yang bekerja "seadanya" atau kisah sukses orang-orang yang putus sekolah. Namun, mari kita ambil napas sejenak, duduk dengan tenang, dan coba kita kuliti bersama: benarkah kuliah itu sebuah penipuan terstruktur, atau kita saja yang sedang kehilangan arah dalam memaknainya?

Sejujurnya, jika saya ditanya apakah kuliah itu scam, dengan tegas saya akan menjawab: Tidak. Namun, saya memahami mengapa istilah itu muncul. Mari kita telaah lebih dalam dengan logika yang jernih, bukan dengan emosi yang membakar algoritma TikTok.

Menelanjangi "Scam" Secara Logis

Tudingan scam biasanya dihapus dari satu kekeliruan besar: kita menganggap universitas adalah agen penyalur tenaga kerja. Kita membayar biaya kuliah (UKT) yang mahal, lalu berharap setelah lulus ada perusahaan yang menjemput kita dengan karpet merah. Ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi, kita merasa tertipu.

Padahal, secara logistik, kuliah adalah investasi pada kapasitas intelektual, bukan sekadar pembelian sertifikat keanggotaan. Jika Anda kuliah hanya untuk belajar cara mengoperasikan perangkat lunak tertentu, mungkin YouTube jauh lebih murah.

Tetapi, di bangku kuliah, kita mengajarkan "mengapa" sesuatu bekerja, bukan hanya "bagaimana" melakukannya. Kita mengajarkan metodologi, struktur berpikir, dan disiplin mental. Ilmu-ilmu fundamental ini adalah fondasi yang membuat kita tidak mudah roboh saat tren industri berubah.

Kuliah Sebagai "Laboratorium Kedewasaan"

Mari kita kuliti dari sisi pengembangan diri. Di kampus, kita masuk ke dalam sebuah ekosistem yang tidak bisa diduplikasi oleh kursus kilat manapun. Di tempat kita bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, berdebat di ruang organisasi hingga larut malam, menghadapi dosen yang sulit, hingga belajar mengelola waktu di bawah tekanan yang mengakibatkan waktu yang mencekik.

Proses "babak belur" selama empat tahun ini sebenarnya sedang membentuk karakter. Ketangguhan mental (ketabahan) dan kemampuan navigasi sosial yang kita dapatkan di kampus adalah aset yang sangat mahal di dunia kerja. Mereka yang menyebut kuliah itu scam sering kali hanya melihat hasil akhirnya (ijazah), namun mengabaikan proses transformasi yang terjadi di dalam kepala dan mental siswanya.

Melawan Bias Kelangsungan Hidup

Seringkali, narasi scam ini menggunakan contoh "Si A tidak kuliah tapi sukses besar." Secara statistik, ini adalah bias survivorship. Kita hanya melihat segelintir orang yang berhasil tanpa gelar, tapi kita menutup mata terhadap jutaan orang yang hidupnya jauh lebih sulit karena tidak memiliki akses pendidikan.

Ijazah memang bukan penentu nasib, tapi ia adalah tiket peluang. Di dunia yang sangat kompetitif ini, memiliki sarjana ijazah memberikan kita tawaran posisi yang lebih baik. Ia menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah orang yang mampu menyelesaikan sesuatu yang sulit, memiliki komitmen jangka panjang, dan telah melewati standarisasi akademik tertentu.

Pendidikan di Tengah Gempuran AI

Di era kecerdasan buatan (AI) saat ini, banyak yang beranggapan bahwa ilmu di kampus akan cepat. Justru menurut saya, kuliah menjadi semakin relevan. Saat informasi bisa diperoleh secara instan, yang paling berharga bukan lagi informasinya, melainkan kemampuan untuk menganalisis dan menyaringnya.

Pendidikan tinggi mengasah kemampuan berpikir kritis yang tidak dimiliki oleh mesin. Kemampuan untuk menghubungkan berbagai disiplin ilmu, memahami konteks etika, dan berinovasi secara kreatif adalah hasil dari tempaan akademik yang mendalam. Kuliah memberikan kita "pisau bedah" intelektual untuk membedah kompleksitas dunia masa depan.

Mengubah Cara Pandang

Jadi, apakah kuliah itu scam? Tentu saja tidak. Yang menjadi masalah adalah ketika kita menjadikan kuliah sebagai satu-satunya tumpuan hidup tanpa mau berusaha mengembangkan diri di luar akademik.

Kuliah bukan penipuan, ia adalah sebuah alat. Dan seperti alat apa pun, kegunaannya sangat bergantung pada siapa yang memegangnya. Jika kita hanya datang, duduk, lalu pulang demi selembar kertas, maka jangan salahkan sistem jika kita merasa tidak mendapatkan apa-apa.

Namun, jika kita menggunakan setiap detik di kampus untuk membangun hubungan, mengembangkan logika, dan memperluas wawasan, maka kuliah akan menjadi investasi terbaik yang pernah kita lakukan.

Jangan biarkan suara-suara sinis di media sosial tetap semangatmu. Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia, dan kuliah adalah tempat di mana senjata itu ditempa.