Di tengah para bocah yang berlarian ke pinggir laut sambil bermain bola, Pak Subhan duduk termenung sembari mengisap rokok kretek. Pikirannya mengawang, entah ke mana. Yang jelas, Pak Subhan tidak sedang mencari inspirasi sebuah tulisan.
Di saat para nelayan berangkat menuju tengah laut dengan perahu mesin, Pak Subhan masih bergulat dengan pikirannya. Ia mencari peluang untuk tetap bisa bertahan hidup dan mampu menghidupi anak-anak dan istrinya.
"Istriku sedang sakit. Sudah dua tahun ia terbaring di atas kasur," jelasnya kepadaku di depan pintu 2 Sidomuncul, Pantai Pasir Putih Situbondo, Sabtu (6/12/2025).
"Sementara anak sulungku kuliah di Jawa Tengah. Sudah semester akhir, butuh bayar UKT," imbuhnya sambil mengelap lehernya.
Dalam kisahnya, laki-laki berusia 58 tahun itu tidak ingin bekerja dengan meniru profesi kebanyakan masyarakat pesisir lainnya. Ia tak ingin menangkap ikan, sewa-menyewa ban dalam untuk para perenang di pantai, berjualan pernak-pernik oleh-oleh khas pesisir, dan lain sebagainya. Ia ingin beda dari yang lain.
"Rumahku sebenarnya sangat dekat dari pantai ini, jadi sangat bisa jika saya mendayung perahu untuk menjaring atau memancing ikan, tapi tetanggaku sudah banyak yang bekerja sebagai nelayan. Maka, aku cari yang lain saja," ungkapnya.
Pak Subhan berangkat pukul 05.00 WIB pagi dari rumahnya dengan berjalan kaki sambil memikul alat-alat dan bahan lontong sate ayam. Ia bawa pemanggangan sate, tiga puluhan piring seng, sendok, sekarung arang, kipas bambu, tujuh kursi plastik, dan plastik hitam berisi lontong yang dibalut daun pisang.
Ia berjualan sate ayam di Pesisir Pasir Putih Situbondo. Satu porsi berisi 17 tusuk dan dua lontong. Ia jual dengan harga Rp30.000. Mayoritas pembelinya adalah pengunjung pantai. Seringkali dalam sehari Pak Subhan mengantongi uang Rp1.500.000 hingga Rp2.000.000 dari hasil penjualannya.
Ia pulang dari Pesisir Pasir Putih pukul 16.00 WIB, usai mendirikan salat Asar di musala dekat pintu masuk 2. Sampai di rumah, dengan dibantu anak bungsunya yang menempuh pendidikan kelas 5 SD, Pak Subhan memotong daging ayam yang ia ambil dari dalam kulkas, lalu menusukkan lidi yang ujungnya sudah ia tajamkan ke potongan-potongan daging kecil itu.
Begitulah rutinitas keseharian Pak Subhan dalam mengais rezeki untuk menafkahi keluarga. Ia tak pernah patah semangat untuk terus melanjutkan hidup. Ia juga selalu tegar untuk mencari sesuap nasi meski sudah tidak didampingi istri tercintanya.
Cinta dan kasih sayang Pak Subhan kepada keluarganya, teramat kokoh. Sekokoh batu karang yang tak mundur barang selangkah meski dihantam ombak.
Tag
Baca Juga
-
Buku Keajaiban Sebuah Ciuman: Cerita Fantasi Kontemporer yang Menggugah
-
Review Novel Here We Are: Kisah Persahabatan yang Diuji oleh Luka Kehidupan
-
Jalani Hari dengan Tenang dalam Buku Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan
-
Motorola Razr Fold Cetak Rekor Kamera HP Lipat Terbaik di DXOMARK dengan Skor 164
-
Honor MagicBook Pro 14 (2026) Resmi Rilis: Laptop Tipis dengan Baterai 92Wh
Artikel Terkait
-
Suara Pesisir yang Padam: Hak Perempuan Nelayan yang Masih Terabaikan
-
Banjir Rob Meluas di Jakarta Utara, Genangan Capai 40 Sentimeter
-
Di Bawah Bayang Cerobong: Kisah Warga Cilacap Mempertahankan Ruang Hidup yang Kian Menyempit
-
Blue Carbon: Harta Karun Tersembunyi di Pesisir Indonesia
-
Benteng Alami Senilai Ribuan Triliun: Peran Mangrove dalam Melindungi Kota Pesisir
Kolom
-
THR Anak Bukan "Dana Hibah" Buat Emak: Siasat Bijak Kelola Amplop Lebaran si Kecil
-
Waktu Adalah Mata Uang Ramadan: Jangan Habiskan Hanya Untuk Menunggu Magrib!
-
Apa Jadinya Ketika Anak Padus Jadi Zombi? Kisah di Balik Konser ORPHIC 2024
-
Menyoal Muslim Musiman vs Muslim VIP: Stop Jadi Juri Keimanan Orang Lain
-
BBM Aman 20 Hari ke Depan, Yakin Nggak Panik saat Mudik Nanti?
Terkini
-
5 Pilihan Sheet Mask untuk Kulit Berjerawat, Menenangkan dan Melembapkan!
-
Target Hanya 5 Besar, Raul Fernandez Raih Podium Ganda di GP Thailand 2026
-
Yura Yunita Ungkap Pesan Terakhir untuk Vidi Aldiano dari Tanah Suci
-
Cantik Sih, tapi Kok Jarinya Ada Enam? Jurus Jitu Kenali Foto "Glow Up" Jalur AI
-
Minimarket yang Merepotkan: Menemukan Kehangatan di Balik Etalase Kota