Melansir laporan dari Child Mind Institute mengenai edukasi finansial pada anak, memberikan pemahaman tentang konsep uang di usia dini—terutama saat mereka menerima rezeki nomplok seperti uang Lebaran—dapat membantu membangun kebiasaan belanja yang bertanggung jawab dan mencegah perilaku konsumtif di masa depan.
Sebagai seorang ibu, momen setelah Lebaran sering kali menjadi waktu "perang batin". Di satu sisi, saya melihat anak-anak begitu bahagia memegang tumpukan amplop berwarna-warni hasil keliling ke rumah saudara. Di sisi lain, ada kekhawatiran jika uang tersebut hanya akan habis dalam sekejap untuk membeli mainan viral yang ujung-ujungnya hanya akan teronggok di pojok gudang.
Bijak berkonsumsi versi saya dimulai dengan tidak menganggap uang tersebut sebagai "hak milik ibu" untuk menambal biaya operasional dapur, melainkan sebagai media pembelajaran nyata bagi anak tentang nilai sebuah kerja keras dan kesabaran.
Saya menerapkan strategi "Tiga Toples" untuk mengelola uang salam tempel ini agar esensinya tidak hilang. Bersama anak-anak, saya membagi uang mereka ke dalam tiga kategori: Tabungan (Saving), Kebutuhan (Spending), dan Berbagi (Sharing).
Saya memberikan kebebasan bagi mereka untuk menggunakan porsi spending untuk membeli barang yang mereka inginkan, namun dengan syarat mereka harus memikirkannya selama tiga hari terlebih dahulu. Ini adalah cara saya mengajarkan mereka untuk menahan diri dari godaan "lapar mata".
Sementara itu, porsi saving langsung kami masukkan ke rekening bank khusus anak atau celengan yang sulit dibuka. Dengan melihat angka di buku tabungan mereka bertambah, anak-anak mulai belajar bahwa ada kepuasan tersendiri saat melihat aset mereka tumbuh, sebuah kepuasan yang lebih bertahan lama daripada sekadar rasa manis permen atau mainan plastik.
Keresahan yang sering saya jumpai di masyarakat adalah orang tua yang diam-diam "mengamankan" uang anak untuk kepentingan pribadi tanpa diskusi. Bagi saya, itu adalah peluang yang hilang untuk mengajarkan integritas.
Saya lebih memilih mengajak anak duduk bersama, menghitung setiap lembar rupiah yang mereka dapatkan, dan mendiskusikan rencana masa depan mereka. Misalnya, jika si sulung ingin membeli sepeda baru, saya akan menjelaskan berapa banyak lagi yang harus ia tabung dari uang Lebarannya tahun ini.
Inilah esensi bijak berkonsumsi yang sesungguhnya; kita tidak hanya mengatur arus keluar-masuk uang, tetapi juga mengatur keinginan agar tetap selaras dengan tujuan jangka panjang. Saya ingin mereka paham bahwa uang yang didapat saat Lebaran adalah amanah, bukan sekadar modal untuk foya-foya di mal.
Selain soal menabung, saya juga menitikberatkan pada porsi sharing. Saya mengajak anak untuk menyisihkan sebagian uang amplop mereka untuk diberikan kepada teman atau saudara yang kurang beruntung. Di bulan yang fitri ini, saya ingin mereka merasakan sendiri bahwa konsumsi yang paling membahagiakan adalah saat kita bisa "mengonsumsi" rasa syukur melalui berbagi.
Ternyata, saat anak diberikan kepercayaan untuk mengelola uangnya sendiri dengan bimbingan, mereka cenderung lebih berhati-hati dan tidak asal beli. Investasi waktu saya untuk berdiskusi tentang uang ini jauh lebih berharga daripada sekadar membelikan mereka baju bermerek.
Kemenangan Ramadan dan Lebaran bagi saya adalah saat anak-anak mulai paham bahwa setiap rupiah yang ada di tangan mereka memiliki tanggung jawab yang menyertainya.
Bijak berkonsumsi bukan berarti kita menjadi pelit dan melarang anak menikmati hasil "salam tempel" mereka, tetapi tentang menyeimbangkan antara keinginan saat ini dan kebutuhan di masa depan. Dengan begitu, uang Lebaran tidak lagi hanya numpang lewat di penjual mainan, tetapi benar-benar menjadi fondasi karakter finansial mereka yang kuat.
Bagaimana dengan Moms di rumah? Apakah amplop Lebaran anak sudah aman masuk rekening, atau diam-diam masih jadi "dana talangan" buat beli stok daging di pasar? Yuk, kita saling berbagi tips kelola uang THR anak agar tetap berkah dan bermanfaat!
Baca Juga
-
Benarkah Sakit Itu Tabu? Fenomena Seorang Ibu yang Tidak Boleh Sakit
-
Seni Menolak Keinginan Anak Tanpa Harus Bikin Dompet Emak Ikut Menangis
-
Nestapa Minyak Jelantah Hitam Pekat demi Menyelamatkan Dompet yang Sekarat
-
Mimpi Buruk Saya sebagai Ibu Rumah Tangga yang Tak Punya Jaminan Hari Tua
-
Berhentilah Menyiksa Rekening Bank demi Validasi Semu Geng Sosialita
Artikel Terkait
-
Waktu Adalah Mata Uang Ramadan: Jangan Habiskan Hanya Untuk Menunggu Magrib!
-
Menyoal Muslim Musiman vs Muslim VIP: Stop Jadi Juri Keimanan Orang Lain
-
Ramadan, Takjil, dan Seni Berkonsumsi Secukupnya
-
Hentikan Gengsi! Begini Cara Kelola Arisan Biar Tetap Cuan di Bulan Suci
-
Puasa dari Algoritma: Cara Bijak Berkonsumsi Media Sosial di Bulan Ramadan
Kolom
-
Krisis Kompetensi BGN: Pertaruhan Gizi Anak di Bawah Bayang-bayang Politik
-
#KaburAjaDulu Ramai Lagi: Pelarian atau Strategi Mencari Masa Depan Aman?
-
Eks Dirut KBS Korupsi Pakan Hewan Rp10,2 Miliar: Saat Manusia Lebih Buas dari Predator
-
Gen Z dan Sertifikat Online: Investasi Skill atau Sekadar Koleksi?
-
Terjebak Pregnancy Beauty Standard: Saat Tubuh Ibu Hamil Dijadikan Komoditas Estetika
Terkini
-
Agent Kim Reactivated: Saat Pertengkaran Remaja Sukses Guncang Dua Negara
-
Review Film Inglourious Basterds: Dilema Moral dan Balas Dendam Nazi
-
Sekali Duduk Tamat! 7 Rekomendasi Drakor yang Bikin Susah Berhenti Nonton
-
Bye Kusam! 4 Micellar Water Licorice untuk Kulit Bersih, Sehat, dan Cerah
-
Ulasan Reborn Rich: Fantasi Kesempatan Kedua dan Harga Sebuah Balas Dendam