Malam itu, di sela-sela riuhnya jemaah merapikan saf salat Tarawih, telinga saya menangkap bisikan yang cukup tajam dari barisan belakang: "Halah, Si Z ke masjid pas Ramadan doang. Biasanya boro-boro kelihatan batang hidungnya, eh sekarang mendadak alim." Teman bicaranya terkekeh, seolah mengonfirmasi bahwa sindiran itu adalah sebuah kebenaran yang mutlak.
Saya terdiam. Kalimat "muslim musiman" ini memang sudah lama menjadi label yang akrab di telinga kita. Namun, jika kita melihat lebih luas, fenomena ini sebenarnya punya penjelasan ilmiah yang menarik.
Melansir laporan dari Pew Research Center mengenai Global Religious Futures, lonjakan kehadiran jemaah di rumah ibadah selama bulan suci adalah tren global yang konsisten di berbagai negara mayoritas muslim. Hal ini membuktikan bahwa secara psikologi massa, Ramadan memang memiliki "daya tarik gravitasi" yang menarik kembali orang-orang ke akar spiritualnya, terlepas dari seberapa jarang mereka terlihat di hari biasa.
Namun, yang menarik untuk dibedah bukanlah mengapa mereka datang, melainkan mengapa kita—yang merasa sebagai "penduduk tetap" masjid—mendadak merasa punya hak untuk menjadi hakim bagi niat orang lain?
Dalam sosiologi agama, ada konsep yang diperkenalkan oleh Grace Davie bernama “Believing without Belonging”. Konsep ini menjelaskan tentang individu-individu yang tetap memiliki keyakinan iman yang kuat di hatinya, namun jarang terlibat dalam praktik ritual rutin harian. Mereka baru akan "pulang" ke institusi agama saat momen-momen besar tiba. Jadi, saat kita melihat wajah-wajah baru di saf Tarawih, bisa jadi itu adalah manifestasi dari iman mereka yang sedang merindu, bukan sekadar gaya-gayaan mengikuti musim.
Mari kita jujur pada diri sendiri. Ada semacam rasa bangga yang terselubung saat kita merasa lebih konsisten beribadah dibanding orang lain. Kita merasa punya "kartu anggota VIP" di masjid, sehingga saat melihat "jemaah tiban" muncul, ego kita merasa berhak memberikan tatapan sinis. Padahal, bukankah Ramadan memang didesain sebagai pintu terbuka bagi siapa saja?
Saya jadi teringat, bukankah kita semua adalah manusia yang penuh dengan "musim"?
Ada musim di mana iman kita sedang mekar-mekarnya, tapi ada juga musim kemarau di mana hati kita terasa gersang dan jauh dari Tuhan. Jika seseorang memilih Ramadan sebagai momen untuk kembali mencoba, untuk mengetuk pintu rumah Tuhan setelah sekian lama menjauh, siapa kita yang berani menghalangi jalan mereka dengan komentar julid?
Seharusnya, kehadiran para "muslim musiman" ini adalah pemandangan yang mengharukan. Itu artinya, seberapa pun jauh seseorang pergi, mereka masih tahu ke mana harus pulang saat rindu pada ketenangan itu tiba. Masjid harusnya menjadi tempat yang paling inklusif di bumi, bukan klub eksklusif yang hanya menerima mereka yang punya catatan absen sempurna.
Bagi saya, sindiran "ke masjid kalau Ramadan saja" itu sebenarnya tanda bahwa ego kita sedang merasa lebih tinggi. Kita sibuk menghitung kekurangan orang lain sampai lupa bahwa salat kita pun belum tentu diterima karena hati kita sibuk memperhatikan siapa yang duduk di saf sebelah.
Lagi pula, bukankah lebih baik menjadi "muslim musiman" daripada tidak menjadi muslim sama sekali sepanjang musim?
Ramadan bisa jadi adalah satu-satunya kesempatan bagi seseorang untuk merasakan kembali hangatnya sujud. Siapa tahu, lewat keramahan kita—bukan lewat julidnya kita—mereka justru merasa nyaman dan memutuskan untuk tetap tinggal di masjid meski Ramadan sudah usai.
Kita semua hanyalah tamu di rumah-Nya. Dan sebagai sesama tamu, tugas kita hanyalah saling menyapa dengan baik, bukan sibuk memeriksa siapa yang paling pantas duduk di sana.
Jadi, sebelum kita kembali berkomentar tentang "si muslim musiman", mari kita cek dulu, apakah hati kita juga sedang puasa dari sifat sombong, atau jangan-jangan cuma perut kita saja yang kosong?
Baca Juga
-
Internet Sudah Jadi Kebutuhan Pokok, Kenapa Tata Kelolanya Masih Merugikan Konsumen?
-
BBM Non Subsidi September 2026 Naik: Beban Global atau Momentum Evaluasi?
-
XL Buktikan Diri Jadi Jaringan Terbaik 2026, Saatnya Kamu Coba Sendiri!
-
Gaji Naik Secepat Siput, Harga Rumah Melesat bak Roket Luar Angkasa
-
Iqro', Lagu yang Bikin Saya Mikir Ulang soal Kesombongan Sendiri
Artikel Terkait
-
Intip Tradisi Buka Puasa Pemain hingga Petinggi Klub di Bekas Negara Komunis
-
Bolehkah Menghirup Inhaler saat Puasa? Begini Hukumnya Menurut Syariat
-
Puasa Kurang Berapa Hari Lagi? Hitung Mundur Lebaran Idulfitri 1447 H
-
Niat Sholat Hajat 2 Rakaat di Bulan Ramadan, Amalkan Doa Ini Agar Segera Terkabul
-
Apa Keutamaan Wafat di Bulan Ramadan? Simak Penjelasannya dalam Islam
Kolom
-
Pepatah Lama Kini Dibantah Gen Z, Benarkah Nasihatnya Tak Lagi Relevan?
-
Komodifikasi Paras di Kampus: Ketika Estetika Menggerus Marwah Mahasiswa
-
Anak Krakatau Sudah Siaga Sejak Juli, Lalu Mitigasi Pemerintah ke Mana?
-
Single Life Bukan Kegagalan: Saat Perempuan Tak Lagi Takut Hidup Melajang
-
Hukum Karma Alam: Saat Gunungan Sampah Berubah Menjadi Mesin Pembunuh
Terkini
-
Tingkatkan Kualitas, Bleach TYBW Tunda Dua Episode Terakhir pada Oktober
-
Cari Wangi Vanilla yang Gak Bikin Pusing? Coba 5 Rekomendasi Body Mist Ini!
-
A Wild Last Boss Appeared! Season 2 Ungkap Karakter Baru dan Jadwal Tayang
-
Kembalinya Heiji Hattori dan Kasus Uang Palsu Warnai Spesial 30 Tahun Detective Conan
-
5 Pesan Moral Bisa Dipelajari dari Karakter Je Moon-jae di Drakor Mousetrap