Sekolah mempunyai peran penting dalam menanamkan nilai etika siswa sejak dini. Sentuhan nilai etika tersebut bisa dimulai dari menghormati orang tua dengan tidak menyebut namanya ketika bercanda.
Jangan normalisasi siswa saat bercanda dengan temannya menyebut nama orang tua, karena tindakan itu merupakan bagian dari bentuk bullying. Mari awasi dan arahkan mereka untuk bermain dengan ceria tanpa harus saling menghina!
Patut ditiru gerakan anti-bullying seperti yang telah diterapkan oleh SMA Budya Wacana Yogyakarta. Dua orang dari siswa SMA tersebut mengajak siswa dan masyarakat untuk lebih bijak dalam berinteraksi, khususnya agar tidak menjadikan nama orang tua sebagai bahan candaan.
Ajakan tersebut diunggah ke akun media sosial TikTok milik lembaga, @smabudyawacana. Terlihat dua siswa SMA memegang papan bertuliskan pesan moral.
“Stop normalisasi bercanda dengan memanggil nama orang tua. Ingat, satu kebiasaan kecil yang buruk berdampak besar seumur hidup. Generasi hebat itu cerdas dan cermat, bukan penuh ejekan dan hinaan. itu ceria tanpa harus menghina,” dikutip dari TikTok @smabudyawacana, Jumat (3/10/2025).
Postingan ini pun menuai banyak perhatian dari para pengguna media sosial, terutama para orang tua yang merasa pesan itu sangat relevan dengan fenomena pergaulan anak-anak masa kini.
Pesan “stop normalisasi bercanda dengan memanggil nama orang tua” menjadi refleksi agar anak-anak belajar memahami batasan dalam bercanda, serta menumbuhkan rasa hormat terhadap keluarga dan sesama teman.
Langkah ini pun selaras dengan upaya pemerintah dalam membangun generasi digital yang cerdas, beretika, dan berempati.
Larangan mengejek atau memanggil nama orang tua di sekolah ini dinilai sebagai tindakan preventif untuk dilakukan, dengan tujuan utama untuk membangun lingkungan sekolah yang aman dan inklusif.
Tindakan siswa yang mengolok nama orang tua termasuk dalam kategori bullying verbal yang dapat melukai perasaan siswa lainnya. Perbuatan tersebut akan menimbulkan rasa malu, tidak percaya diri, dan menciptakan lingkungan belajar yang tidak nyaman.
Selain itu, pesan stop normalisasi bercanda dengan memanggil nama orang tua ini dapat mencegah dampak psikologis negatif, sebab ejekan yang menyasar keluarga, terutama orang tua dapat menyebabkan dampak psikologis serius seperti rendah diri, kecemasan, depresi, hingga keinginan untuk balas dendam.
Mari biasakan kita dan siswa kita bercanda secara wajar. Tetap saling menjaga dan menghormati sesama teman. Stop bullying. Stop normalisasi bercanda pakai nama orang tua.
Baca Juga
-
Sastra Sebagai Perlawanan: Membaca Ulang Luka Bangsa dalam Iblis Tidak Pernah Mati
-
Lenovo Yoga Tab Resmi di Indonesia, Tablet AI Native Harga Rp11 Jutaan
-
Adu Kuat Infinix HOT 70 dan Samsung Galaxy A17 LTE, Mana yang Paling Worth It?
-
Sang Pengembara: Jejak Sunyi yang Menuntun Manusia Pulang ke Diri Sendiri
-
Xiaomi Watch S5 46 mm: Jam Tangan Pintar Elegan dengan Layar 2500 Nits dan Baterai 21 Hari
Artikel Terkait
-
Laki-Laki Perlu Safe Space: Saatnya Lawan Bullying dari Beban Maskulinitas
-
Alarm Hari HAM: FSGI Catat Lonjakan Tajam Kekerasan di Sekolah Sepanjang 2025
-
Purbaya Ungkap Rahasia Prabowo: Bangun 40 Sekolah Terintegrasi, Anggaran Rp 12 Triliun
-
Luka yang Tak Terlihat: Mengapa Kata Maaf Belum Cukup untuk Korban Bullying?
-
Permalukan Orang Jadi Hiburan: Fenomena Prank yang Melenceng Jadi Bullying!
Kolom
-
Membangun Indonesia dari Ruang Sidang: Kita Tidak Butuh Banyak Program Baru
-
Dimulai dari Dapur, Less Waste Jadi Jalan Keluar Supaya Hemat Pengeluaran?
-
Di Era Digital, Mengapa Banyak Bisnis Cepat Viral tetapi Cepat Tenggelam?
-
Belanja saat Habis Bukan saat Promo, Cara Sederhana Memulai Less Waste
-
Banyak Diskon, Mindset Less Waste Worth It untuk Jadi Rem saat Kalap?
Terkini
-
Creator Merchant Makin Ramai, Event Jejepangan Ikut Dorong Industri Kreatif
-
Ulasan Film Miss You, Love You: Terkadang Ada Luka yang Nggak Bisa Sembuh
-
Review Film Monster Pabrik Rambut: Horor yang Dipadukan Kritik Sosial
-
Tak Perlu Bingung, Ini Cara Nonton Piala Dunia 2026 secara Resmi dan Legal!
-
Orang Utan Jennifer dan Hayato Dipertemukan, Simbol Persahabatan Indonesia-Jepang dalam Konservasi