Sebagai juara 2 Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016, Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie mengangkat isu yang cukup sensitif dan unik. Kekerasan dalam rumah tangga dari sudut pandang anak.
Dengan gaya bahasa yang sederhana dan tajam, Ziggy menghadirkan cerita yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus menyentuh sisi emosional pembaca.
Sinopsis Novel
Cerita dalam novel ini dimulai dengan tokoh utama seorang anak perempuan berusia enam tahun bernama Salva, yang lebih sering dipanggil Ava. Ia hidup bersama kedua orang tuanya yang memiliki sifat sangat bertolak belakang.
Sang ibu digambarkan seperti malaikat. Lembut, penyayang, dan selalu berusaha melindungi Ava dari kerasnya dunia. Sebaliknya, ayah Ava adalah sosok yang kasar dan tampak membenci keberadaan anaknya sendiri.
Dalam kesehariannya, Ava memiliki satu benda yang selalu ia bawa ke mana pun: sebuah kamus hadiah dari kakeknya, Kakek Kia. Kakek Kia adalah figur yang penuh kasih sayang dalam hidup Ava. Kamus itu bukan sekadar buku, tetapi menjadi alat bagi Ava untuk memahami dunia di sekitarnya.
Ketika ia mendengar kata-kata yang tidak dimengerti, ia akan membuka kamus tersebut untuk mencari maknanya. Kebiasaan ini mencerminkan kepolosan sekaligus rasa ingin tahu seorang anak yang berusaha memahami realitas yang sering kali terlalu rumit untuk usianya.
Kehidupan Ava berubah drastis setelah Kakek Kia meninggal dunia. Ayahnya yang kecanduan judi memutuskan menjual rumah keluarga mereka setelah menerima warisan. Alih-alih memperbaiki kehidupan, ia memilih pindah ke sebuah rumah susun kumuh bernama Rusun Nero, yang lokasinya lebih dekat dengan kasino tempat ia berjudi.
Rusun Nero digambarkan sebagai lingkungan yang keras dan jauh dari pusat kota. Di tempat inilah Ava bertemu seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang dikenal hanya dengan inisial P. P sering terlihat membawa gitar kecil dan menghabiskan waktunya bermain musik.
Pertemuan Ava dan P menjadi titik penting dalam cerita. Perlahan mereka mulai berbincang dan saling berbagi cerita. Dari percakapan-percakapan sederhana itu, terungkap bahwa kehidupan P ternyata tidak jauh berbeda dari Ava. Ia juga mengalami kekerasan dalam keluarganya. Kesamaan nasib itulah yang membuat keduanya menjalin persahabatan yang kuat.
Salah satu kekuatan novel ini terletak pada dialog antara Ava dan P. Percakapan mereka ditulis dengan gaya bahasa anak-anak. Polos, kadang lucu, namun juga penuh kejujuran. Melalui dialog-dialog tersebut, pembaca dapat memahami bagaimana kedua tokoh ini memandang dunia dengan cara yang khas: sederhana tetapi sering kali menyentuh.
Kelebihan dan Kekurangan
Karakter Ava dan P juga dikembangkan dengan cukup baik. Latar belakang kehidupan mereka dijelaskan secara bertahap sehingga pembaca dapat memahami alasan di balik tindakan-tindakan yang mereka lakukan. Hingga sekitar dua pertiga cerita, perkembangan karakter keduanya terasa konsisten dan membuat pembaca semakin terikat secara emosional.
Namun Ava dan P, yang secara eksplisit disebut berusia enam dan sepuluh tahun. Kadang terlihat berpikir terlalu dewasa. Meskipun dialog mereka tetap bernuansa kekanak-kanakan, beberapa keputusan dan pemikiran mereka terasa cukup kompleks untuk usia tersebut.
Selain itu, pengembangan karakter lain dalam cerita terasa kurang mendalam. Misalnya, kedua ayah dari Ava dan P digambarkan sebagai sosok yang kasar, agresif, bahkan penuh kebencian terhadap anak mereka.
Namun novel ini tidak banyak menjelaskan latar belakang mengapa mereka bisa menjadi seperti itu. Akibatnya, karakter mereka terasa lebih sebagai simbol kekerasan daripada manusia dengan konflik psikologis yang kompleks.
Setelah melalui berbagai kesulitan dan penderitaan, pembaca mungkin berharap Ava dan P mendapatkan akhir yang lebih hangat atau setidaknya memberi harapan.
Namun Ziggy memilih menghadirkan penutup yang kelam dan terasa mendadak, seolah membawa pembaca jatuh ke dalam jurang setelah perjalanan panjang yang melelahkan.
Meski demikian, secara keseluruhan Di Tanah Lada tetap mengingatkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga, khususnya terhadap anak, adalah realitas yang sering tersembunyi di balik dinding rumah.
Melalui sudut pandang Ava, pembaca diajak melihat bagaimana kekerasan tidak hanya melukai tubuh, tetapi juga meninggalkan bekas mendalam pada psikologi anak. Rasa takut, bersalah, hingga hilangnya rasa percaya diri.
Di tengah kegelapan itu, persahabatan Ava dan P menghadirkan secercah harapan. Ziggy seolah ingin menunjukkan bahwa empati dan kasih sayang, bahkan dari sesama anak, dapat menjadi kekuatan kecil yang membantu seseorang bertahan dalam situasi paling sulit sekalipun.
Identitas Buku
- Judul: Di Tanah Lada
- Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: 2023
- Tebal: 245 halaman
- ISBN: 978-623-134-1248-5
- Genre: Fiksi, Novel, Keluarga
Baca Juga
-
Menggenggam Bara Semangat di Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi
-
Perburuan Kriminal Paling Berbahaya: Membaca Novel Bintang Karya Tere Liye
-
Memeluk Rasa Sepi di Novel Jakarta Sebelum Pagi
-
99 Pesan Buat Kamu yang Merasa Hidup Lagi Gak Lucu-Lucunya
-
Menerima Masa Lalu dengan Seperangkat Lukanya: Membaca Funiculi Funicula 2
Artikel Terkait
-
Memeluk Rasa Sepi di Novel Jakarta Sebelum Pagi
-
Menghargai Perbedaan dari Kisah Sophie dan Andjana dalam Novel Titik Temu
-
Potret Kehidupan Sederhana dalam Novel "Kios Pasar Sore"
-
Menerima Masa Lalu dengan Seperangkat Lukanya: Membaca Funiculi Funicula 2
-
Book's Kitchen: Refleksi Hidup di Tengah Dunia Kerja yang Menyandera Hidup
Ulasan
-
Menggenggam Bara Semangat di Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi
-
Refleksi dari Buku Yuk, Husnuzhan!: Mengubah Hidup dengan Pikiran Positif
-
Sebuah Kritik Tajam Pakem Horor Indonesia: Ulasan Film Setan Alas!
-
Mengintip Isi Buku 'Sorry, My Younger Self' Karya Alvi Syahrin yang Bikin Nyesek tapi Menenangkan
-
Puncak Watu Bengkah Gunung Klotok Kediri: 536 Mdpl yang Bikin Ngos-ngosan
Terkini
-
Kembali Masuk Daftar Panggil, Akankah Elkan Baggott Comeback ke Timnas Indonesia?
-
Budget 2 Jutaan? Ini 7 HP Vivo yang Layak Dibeli Jelang Lebaran
-
Gara-Gara Potongan Video, Kebijakan Bupati Sumba Jadi "Gorengan" Panas Medsos
-
Mad Max Mengamuk di Lintasan, Max Verstappen Bangkit dari P20 ke P6
-
Pelecehan Kok Dibilang Fetish? Mengenal Rage Bait, Konten Sampah yang Hobi Makan Korban