Empat gajah berdiri tenang di antara puing rumah warga. Mereka hanya bekerja membantu membersihkan sisa bangunan seperti memahami bahwa manusia di sekitar mereka sedang rapuh.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Pidie Jaya, Iptu Fauzi Admaja, membenarkan bahwa empat ekor gajah telah diterjunkan sepenuhnya ke lokasi operasi.
“Bukan hanya untuk mengangkat material berat, tetapi juga untuk kegiatan trauma healing bagi anak-anak korban banjir,” katanya, dikutip dari Suara.com pada Selasa (9/12/2025).
Pemandangan itu sederhana, tapi cukup membuat siapa pun sadar bahwa mereka juga datang dengan luka sendiri. Warga menyambut kehadiran gajah dengan rasa lega yang sulit dijelaskan.
Sebelum menjadi penolong hari itu, mereka lebih dulu menjadi pihak yang kehilangan tempat tinggal. Hutan yang selama ini menjadi rumah mereka tidak lagi utuh seperti dulu.
Kehadiran mereka di tengah puing membuat banyak orang tersenyum. Gajah membantu mengangkat sisa kayu yang berserakan, sementara hutan yang seharusnya melindungi mereka masih menunggu perhatian yang layak.
Manusia bisa membangun rumah lagi, bisa mengajukan permohonan bantuan, bisa berharap pada program pemulihan. Bagi para gajah atau pun hewan lainnya mungkin mereka berharap agar jalur mereka tidak semakin sempit.
Kerusakan habitat sudah terjadi lama bahkan sebelum bencana datang. Jalur jelajah mereka terpotong, ruang gerak berkurang, dan hutan perlahan menjadi kecil.
Di tengah proses evakuasi dan pembersihan, gajah bergerak pelan tanpa merusak apa pun yang masih bisa diselamatkan. Mereka seolah paham bahwa yang mereka sentuh adalah sisa dari kehidupan seseorang.
Pemandangan itu mengingatkan bahwa manusia dan gajah sama-sama korban, sama-sama sedang mencari tempat aman, dan sama-sama menunggu janji perbaikan yang entah kapan terlaksana.
Hari itu, di Pidie Jaya, kerja keras empat gajah bukan cerita heroik. Mereka hanya menunjukkan bahwa kehilangan rumah bukan pengalaman milik manusia saja.
Mereka berdiri di antara puing sebagai pengingat bahwa hutan yang seharusnya menjadi rumah mereka masih membutuhkan perhatian, bukan sekadar janji perawatan setelah bencana.
Rumah yang hilang tidak bisa digantikan dengan cepat, baik bagi manusia maupun bagi gajah.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Dari Lumpur Pantai Baros: Mengubah Aksi Tanam Mangrove Jadi Seni dan Refleksi Diri
-
Lebih dari Sekadar Angkat Senjata, Ini Cara Bela Negara di Kehidupan Sehari-hari
-
Restitusi untuk Korban Tindak Pidana Masih Sulit Direalisasikan
-
Dirut ANTAM dari Eks Tim Mawar, Negara Tutup Mata soal Rekam Jejak HAM
-
Rp17 Miliar Terkumpul, Musisi Indonesia Peduli bagi Korban Bencana
Artikel Terkait
-
Bupati Aceh Selatan Minta Maaf Terbuka, Ngaku Ganggu Stabilitas Nasional Pasca Umrah Saat Bencana
-
Respons Singkat Ferry Irwandi Disindir Anggota DPR Endipat Wijaya Soal Donasi Cuma Rp 10 Miliar
-
Harta Kekayaan Mirwan MS Jadi Sorotan, Imbas Bupati Aceh Umrah di Tengah Bencana
-
Bencana Sumatra Lumpuhkan 52 Daerah, Pemerintah Didesak Segera Aktifkan Transportasi Perintis
-
Omara Esteghlal Kritisi Video Klarifikasi Zulkifli Hasan: Kita Hormat ke Orang yang Layak
Kolom
-
Seni Mindful Living: Cara Menata Hidup Agar Berkualitas di Era Digital
-
Dilema Peran Guru: Antara Profesionalitas dan Kedekatan Emosional
-
Diplomasi Sandi Wi-Fi: Kisah Sedekah Sinyal dan Solidaritas di Gang Sempit
-
Kebahagiaan Era Media Sosial: Antara Ekspresi Diri dan Kerentanan Emosional
-
Bahaya Kecemburuan Kebijakan: Saat Honorer Lama Merasa Dianaktirikan