Beberapa hari menjelang Ramadan, layar ponsel kita biasanya mulai riuh dengan berbagai notifikasi yang masuk. Isinya untaian kata-kata puitis, kutipan ayat suci, hingga stiker WhatsApp berwarna-warni yang intinya sama, yaitu memohon maaf lahir dan batin.
Fenomena ini seolah sudah menjadi protokol tetap yang wajib dijalani sebelum kita benar-benar memasuki garis awal bulan puasa. Namun, Sobat Yoursay, apakah ritual saling memaafkan ini hanyalah sebuah tradisi tahunan yang kita lakukan secara otomatis agar tidak dianggap tidak sopan, ataukah ini sebenarnya adalah sebuah kebutuhan bagi jiwa kita untuk bisa menjalani ibadah dengan maksimal?
Jika kita menilik dari sudut pandang tradisi, masyarakat Indonesia memang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa dalam menyambut bulan suci. Ada "mungguhan" di Jawa Barat, "meugang" di Aceh, hingga tradisi berziarah ke makam keluarga yang dilakukan hampir di seluruh pelosok negeri.
Meminta maaf sebelum puasa terselip di antara ritual-ritual tersebut sebagai jembatan sosial. Kita sadar bahwa dalam setahun terakhir, interaksi kita dengan teman, rekan kerja, hingga keluarga pasti diwarnai dengan gesekan kepentingan atau lisan yang tidak terjaga. Tradisi ini memberikan kita tempat untuk menurunkan ego tanpa merasa canggung.
Sobat Yoursay mungkin merasa lebih mudah meminta maaf saat momentumnya tepat seperti sekarang daripada tiba-tiba menelepon teman lama di bulan biasa hanya untuk mengakui kesalahan yang terjadi enam bulan lalu.
Memaafkan sebelum berpuasa sebenarnya adalah proses "unloading" atau membongkar beban-beban emosional, seperti kebencian, dendam, dan rasa sakit hati. Ketika kita memaafkan, kita sebenarnya sedang memberikan hadiah kepada diri sendiri berupa ketenangan pikiran. Dengan hati yang lapang, fokus kita selama Ramadan akan sepenuhnya tertuju pada peningkatan kualitas ibadah.
Sobat Yoursay, tak bisa dipungkiri terkadang kita terjebak pada formalitas belaka. Kita mengirimkan pesan permohonan maaf secara massal kepada ratusan kontak di ponsel kita, namun ironisnya, kita justru masih enggan menyapa tetangga sebelah rumah atau saudara kandung yang sedang terlibat konflik dengan kita.
Kita perlu jeli memilah mana yang sekadar formalitas menjaga silaturahmi, dan mana yang merupakan upaya tulus untuk berdamai. Jangan sampai kita merasa sudah menuntaskan kewajiban hanya dengan menyebar kata-kata manis di ponsel, sementara hubungan dengan tetangga atau saudara kandung sendiri masih membeku.
Memaafkan orang lain—dan yang paling penting, memaafkan diri sendiri—adalah langkah awal yang penting. Seringkali kita begitu keras pada diri sendiri atas kegagalan atau kesalahan di masa lalu, sehingga kita memasuki Ramadan dengan perasaan tidak layak atau penuh rasa bersalah. Padahal, Ramadan adalah bulan harapan dan ampunan. Dengan memenuhi kebutuhan untuk memaafkan, kita sebenarnya sedang menyelaraskan frekuensi hati kita dengan semangat Ramadan yang penuh dengan kasih sayang Tuhan.
Menariknya, di era digital ini, tradisi memaafkan ini juga mengalami pergeseran makna yang cukup unik. Sobat Yoursay pasti sering melihat orang-orang saling meminta maaf di kolom komentar media sosial atau melalui unggahan di Instagram Story. Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa keinginan untuk berdamai itu masih sangat tinggi di tengah masyarakat kita. Di sisi lain, kita perlu waspada agar permohonan maaf ini tidak sekadar menjadi konten yang kehilangan ruhnya.
Lantas, bagaimana kita menyeimbangkan antara tradisi dan kebutuhan ini? Caranya adalah dengan menjadikan tradisi tersebut sebagai pengingat akan kebutuhan kita. Gunakanlah momentum budaya ini untuk melakukan audit hati.
Coba luangkan waktu sejenak, jauh dari hiruk-pikuk gawai, untuk memikirkan nama-nama yang mungkin masih membuat dada kita terasa sesak saat mendengarnya. Jika memungkinkan, hubungi mereka secara pribadi. Tidak perlu kalimat yang berbunga-bunga, karena kejujuran seringkali lebih bermakna daripada sajak panjang dari hasil copy-paste internet.
Memaafkan bukan berarti melupakan apa yang terjadi atau membenarkan tindakan yang salah. Memaafkan adalah keputusan sadar untuk tidak lagi membiarkan rasa sakit itu mengendalikan hari-hari kita selama Ramadan.
Dengan mengosongkan ruang hati dari kebencian, kita menyediakan lebih banyak tempat untuk cinta, empati, dan keberkahan yang akan datang melimpah sepanjang bulan suci ini.
Jadi, Sobat Yoursay, sudah siapkah kita melangkah masuk ke gerbang Ramadan dengan hati yang benar-benar ringan dan lapang? Mari kita jadikan momen ini sebagai sebuah perjalanan pulang menuju diri yang lebih bersih dan penuh kedamaian. Selamat menyambut Ramadan, mari kita saling memaafkan dengan tulus, lahir dan batin.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Algojo Algoritma: Saat 11 Juta Peserta BPJS PBI Dicoret Demi Rapikan Data
-
Guru di Bawah Bayang Laporan: Saat Nasihat Dianggap Serangan Personal
-
Macan Tutul di Bandung dan Tragedi Gajah Riau: Siapa yang Sebenarnya Menyerobot Wilayah?
-
Lelah di Balik Seragam: Menyingkap Beban Emosional Guru yang Tersembunyi
-
Radar Sosial yang Lumpuh: Mengapa Negara Gagal Membaca Isyarat Sunyi YBR?
Artikel Terkait
Kolom
-
Menulis demi Cinta atau Cuan: Saat Kata-kata Kehilangan Magisnya
-
Dilema Seorang Penulis: Antara Idealisme Bahasa dan Target Pasar
-
Autentisitas dan Anti-Mainstream sebagai Mata Uang di Ekonomi Platform
-
Makanan Organik: Tren Sehat dan Masalah Ketimpangan Akses
-
AI sebagai Rekan atau Ancaman? Adaptasi Skill Anak Muda di Era Otomatisasi
Terkini
-
Novel Langit Goryeo: Konflik Cinta dan Keimanan Mualaf Korea di Tanah Asing
-
Dari Seoul ke Bangkok, Tur Konser SMTOWN Live 2025-26 Resmi Berakhir
-
Makin Seru! 3 Fitur Canggih di Smartphone untuk Abadikan Momen Imlek 2026
-
Hidup Tanpa Identitas, Kisah Paling Menyayat di Drama The Art of Sarah
-
Wuthering Heights Debut Box Office di Masa Valentine, Raup Rp585,5 Miliar