M. Reza Sulaiman | Galih Syahbatul Arkom
ilustrasi kecanduan smartphone di era mabuk digital (pixabay/@sik92)
Galih Syahbatul Arkom

Di tengah kebisingan era mabuk digital, batasan antara ruang publik dan privasi semakin kabur. Jika dahulu standar moralitas masyarakat dibentuk melalui institusi tradisional seperti tokoh agama, guru, dan keluarga, kini kiblat moralitas masyarakat bergeser ke layar ponsel.

Influencer sebagai standar moral baru bukan hanya sebatas tren, melainkan telah menjadi penentu "benar" atau "salah" suatu peristiwa berdasarkan jumlah pengikut dan preferensi terhadap sosok tertentu.

Kenapa Kita Bergantung pada Influencer?

Otoritas moral di era mabuk digital seperti sekarang cenderung diberikan kepada tokoh digital berdasarkan relasi parasosial. Kita merasa "mengenal" influencer karena mereka membagikan kesehariannya di media sosial yang terlihat autentik dan terasa relatable dengan kehidupan nyata kita.

Saat seorang influencer bersuara tentang isu sosial yang sedang hangat diperbincangkan, penggemarnya cenderung mengadopsi pendapatnya sebagai kebenaran mutlak yang memengaruhi pengambilan sikap warganet. Kedekatan semu ini membentuk pola pikir, "Kalau sosok baik hati, memiliki rasa kepedulian tinggi, dan aku idolakan bilang itu salah, berarti beneran salah."

Disadari atau tidak, justru di situlah letak jebakannya. Dalam algoritma media sosial, instrumen kebaikan sering digunakan sebagai strategi branding. Tanpa disadari, kita telah "mabuk" oleh algoritma yang telah terkurasi dengan rapi sehingga kita merasa sulit membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya bagian dari strategi branding semata.

Fenomena Cancel Culture Ekstrem

Fenomena pergeseran standar moral ini juga melahirkan budaya baru. Penghakiman massa saat ini tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga bisa dilakukan secara digital; kita sering menyebutnya dengan cancel culture. Moralitas di dunia digital cenderung hanya hitam dan putih, seolah-olah manusia tidak memiliki ruang untuk belajar dari kesalahan.

Standar moral masyarakat menjadi sangat cair, bahkan cenderung bersifat reaktif. Saat seorang influencer telah menjadi kiblat moral, begitu dia dirasa melakukan pelanggaran moral versi netizen, massa akan langsung bergerak untuk "menghilangkan" influencer tersebut dari peredaran media sosial.

Saat tolok ukur moral ditujukan kepada influencer, moralitas masyarakat cenderung menjadi rapuh. Kesalahan kecil mampu memicu kemarahan secara kolektif yang sering kali menghancurkan karier seseorang, sedangkan gerakan-gerakan yang sedikit saja bersifat populis dapat menutupi kecacatan moral yang mendasar. Fenomena ini membuat kita menghukumi suatu peristiwa bukan lagi dengan hati nurani dan nalar yang kritis, melainkan dengan jempol yang dikendalikan oleh emosi sesaat.

Menjaga Nalar Tetap Waras di Tengah Algoritma

Kita harus sama-sama menyadari bahwa influencer juga manusia yang sangat mungkin melakukan kesalahan dan beroperasi di bawah tekanan kontrak endorse. Menjadikan mereka sebagai kiblat moralitas memiliki risiko yang sangat tinggi. Hal itu bukan berarti sebuah kesalahan yang mutlak, namun perlu diimbangi dengan nalar kritis dan pikiran yang objektif. Prinsip dan etika hidup seharusnya berjangkar pada nilai-nilai yang bersifat logis serta manusiawi, bukan pada topik trending yang bisa saja berubah-ubah setiap minggu.

Mempertahankan kemandirian berpikir menjadi suatu hal yang mahal di era mabuk digital ini. Terinspirasi dari influencer tentu saja boleh, namun jangan menjadikan mereka sebagai satu-satunya kiblat moralitas, mengingat mereka bahkan tidak mengenal kita secara pribadi.