Acara Ramadan Talk bersama Ustaz Ihya Ulumudin telah disiarkan langsung melalui Instagram Direktorat Pendidikan Agama Islam pada hari Selasa, 17 Februari 2026 pukul 16.00 WIB. Dalam kajian singkat ini, narasumber menyampaikan pesan kepada seluruh umat Muslim untuk menyiapkan diri sebelum menghadapi bulan Ramadan, baik lahiriah maupun batiniah.
Narasumber dikenal sebagai dai yang aktif berdakwah di dalam dan luar negeri serta pernah menjadi utusan Kementerian Agama RI pada bulan Ramadan. Ia juga merupakan pengampu mata pelajaran PAI di SMA Negeri 1 Purwakarta. Bahkan, dai ini telah menjelajahi berbagai negara di Eropa untuk berdakwah dan menyiarkan ajaran Islam.
Pengalaman dakwahnya di berbagai negara membuatnya berpesan agar kita bersyukur dan menyempurnakan puasa selama tinggal di Indonesia, karena menurutnya tantangan dan godaan berpuasa di tanah air relatif lebih minim dibandingkan di luar negeri.
Melalui kegiatan Ramadan Talk tersebut, ia mengatakan bahwa persiapan menghadapi bulan suci ini berkaitan dengan makna kata "imsak" yang berarti menahan. Persiapan ini sejalan dengan tujuan puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Selain menahan makan dan minum, kita sebagai umat Muslim juga diharuskan menahan lisan, hati, dan tingkah laku. Sebelum memasuki bulan Ramadan, beliau mengimbau agar umat Muslim melakukan latihan "menahan" tersebut selama beberapa hari sebelumnya.
Hal itu dilakukan agar terhindar dari tindakan gibah, ujub, hingga perbuatan yang menyakiti hati orang lain. Dalam hal menahan lisan, beliau menekankan prinsip generasi muda, yaitu "silence is golden" (diam itu emas) untuk menghindari ucapan kasar. Selain itu, menjaga hati juga berarti menjaga diri dari penyakit hati seperti kesombongan dan ananiyah (sikap merasa diri paling benar).
Perilaku tercela tersebut akan mengurangi pahala puasa sehingga seseorang bisa saja hanya memperoleh lapar dan dahaga. Menurutnya, langkah ini merupakan salah satu bagian dari persiapan mental dan spiritual yang efektif sebelum menyambut bulan Ramadan.
Setiap orang perlu menghindari berbagai perbuatan buruk, terlebih lagi ketika memasuki bulan puasa. Oleh karena itu, berperilakulah terpuji dengan cara menjaga lisan dari gibah dan dusta, menahan amarah, serta memperbanyak amal ibadah seperti membaca Al-Qur’an dan salat malam. Kemudian, jadilah orang yang berani meminta maaf lebih dahulu agar hati tenang dan tenteram.
Selain persiapan batin, beliau juga mengajak umat Muslim melakukan aksi ekologi dengan membersihkan lingkungan sekitar, mulai dari masjid hingga pekarangan rumah sebagai bentuk kesiapan lahiriah menyambut bulan suci.
Narasumber juga mengajak untuk menyiapkan niat dan target ibadah sejak sebelum bulan Ramadan dimulai. Menurutnya, perencanaan yang jelas akan membantu seseorang lebih konsisten dalam menjalankan amalan selama satu bulan penuh, bukan hanya semangat di awal saja.
Ia menyarankan agar setiap orang membuat komitmen pribadi, seperti target tilawah, jadwal ibadah malam, dan pengaturan waktu harian agar aktivitas duniawi tidak mengurangi kualitas ibadah. Dengan perencanaan tersebut, pelaksanaan puasa dapat berjalan lebih terarah dan tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan.
Selain itu, ia menekankan bahwa keberhasilan Ramadan tidak diukur dari banyaknya kegiatan seremonial, tetapi dari perubahan kebiasaan setelah Ramadan berakhir. Oleh karenanya, persiapan sebelum memasuki bulan suci menjadi fondasi agar dampak ibadah dapat bertahan lebih lama.
Ustaz Ihya Ulumudin menegaskan bahwa latihan menahan diri sebelum bulan Ramadan bukan sekadar formalitas, melainkan upaya agar umat Muslim tidak merugi dalam menjalankan puasa. Tanpa kesadaran untuk menjaga lisan, hati, dan perbuatan, puasa seseorang dikhawatirkan hanya akan membuahkan rasa lapar dan dahaga tanpa nilai pahala.
Beliau juga mengingatkan hakikat "imsak" ialah membentuk karakter yang lebih mulia dan terjaga dari penyakit hati. Dengan persiapan lahiriah melalui aksi bersih lingkungan serta persiapan batiniah yang kuat, diharapkan setiap umat Muslim dapat meraih kemenangan yang hakiki dan terhindar dari siksa neraka bagi mereka yang melampaui batas.
Artikel ini merupakan hasil dari liputan pribadi – 16.00 WIB – Live Instagram @direktorat_pai – Ustaz Ihya Ulumudin (Guru PAI SMA Negeri 1 Purwakarta)
Baca Juga
-
Lupa Jalan Kampung
-
Korban Keracunan Jadi Tumbal Statistik: Benarkah MBG Berhasil Terlaksana?
-
Kesehatan Mental Generasi Muda: Antara Tantangan dan Layanan Pemerintah
-
Analisis Linguistik: Evaluasi Struktur Bahasa Ikrar Pelajar Indonesia
-
Guncang Panggung! Teater Nala di SMA Negeri 1 Purwakarta Tuai Apresiasi
Artikel Terkait
-
30 Ide Menu Buka Puasa untuk Diet Sehat Selama Bulan Ramadan 2026
-
19 Ide Menu Buka Puasa Enak dan Bergizi untuk Anak Kos, Gak Sampai 20 Menit Bikinnya!
-
Kedewasaan Berpuasa: Menahan Diri Bukan Mengontrol Orang Lain
-
Aturan Makan di LRT, KRL, dan MRT Selama Ramadan 2026
-
55 Kode Redeem FF Hari Ini 19 Februari 2026, Klaim Skin Angelic dan Evo
News
-
Sejarah dan Asal-usul Nama Salat Tarawih dalam Islam
-
The Power of Gardening: Cara Ampuh Menghilangkan Stres dengan Berkebun
-
YouTube Lumpuh Tiba-Tiba: Sejenak Merasa Dunia Tanpa Algoritma
-
Ulasan Film Three Kingdoms: Starlit Heroes, Animasi Sejarah yang Memukau!
-
Guru Bumi Perkuat Literasi Alam Lewat Program Jelajah Satwa Nusantara
Terkini
-
Pedro Acosta Dekat dengan Ducati, Yakin Mau Bersanding dengan Marc Marquez?
-
Tayang Paruh Kedua, Park Eun Bin dan Yang Se Jong Bintangi Drama Spellbound
-
Shayne Pattynama Ungkap Persaingan di Persija Jakarta, Optimis Masuk Skuad Utama?
-
Ulasan Novel King of Sloth, Ketika Si Pemalas Jatuh Hati pada Sang Publisis
-
Sakura Create Garap Adaptasi Anime dari Manga Isshiki-san wa Koi o Shiritai