'Nak, Belajar Soal Uang adalah Bekal Kehidupan' adalah buku yang ditulis oleh Jeong Seon Yong. Buku ini membahas tentang beberapa pelajaran dari seorang ayah Korea tentang konsep uang, ekonomi, dan kekayaan.
Sekuel dari buku sebelumnya yang berjudul 'Nak, Belajarlah Soal Uang' fokus pada pembahasan tentang bagaimana edukasi tentang keuangan dan kekayaan yang secara tidak langsung memuat pembelajaran tentang kehidupan itu sendiri.
Saat membaca buku ini, ada beberapa konsep yang bagi saya cukup berkesan. Di antaranya tentang 4 tahapan dalam siklus kehidupan untuk meraih kekayaan yang berkorelasi langsung dengan tahap ekonomi yang seharusnya dilalui oleh setiap orang.
Tahap Pertama: periode ini dimulai dari usia 0 hingga 25 tahun adalah masa anak-anak secara ekonomi, di mana pada usia tersebut kita harus belajar cara menggunakan uang.
Tahap Kedua: Periode ini berlangsung saat usia 25 hingga 45 tahun yang merupakan masa muda secara ekonomi. Di masa ini kita seharusnya belajar cara menghasilkan uang melalui pendapatan kerja. Di periode ini, prinsip yang perlu diingat adalah tempat kerja merupakan sekolah di mana kita dibayar untuk belajar.
Jadi, tak mengapa jika harus mulai dengan profesi sebagai karyawan. Yang jelas, kita perlu memiliki mindset bahwa di tempat tersebut sesungguhnya kita sedang belajar dan 'digaji' untuk setiap pelajaran yang diperoleh.
Tahap Ketiga: Periode ketiga adalah usia 45 hingga 65 tahun yang merupakan masa dewasa secara ekonomi. Pembelajaran tentang penggunaan dan makna uang seharusnya sudah selesai sampai di sini, dan waktu ini adalah waktu yang tepat untuk memulai bisnis dan memproduksi barang atau jasa.
Tahap Keempat: Adapun periode terakhir adalah usia 65 tahun ke atas yang merupakan masa tua secara ekonomi. Waktu untuk melepaskan diri dari belenggu uang dan akhirnya merasakan makna sejati dari kehidupan.
Selain penjelasan tentang periode-periode kritis tentang keuangan, hal lain yang berkesan dari buku ini adalah pembahasan tentang beberapa jenis crevasse dalam kehidupan.
Crevasse sebenarnya adalah istilah pada retakan yang sering muncul pada permukaan gletser. Dalam kehidupan ekonomi, crevasse ibarat jurang dalam yang bisa membuat kita terperangkap jika tidak berhati hati. Misalnya kemiskinan, pensiun, penyakit, dan lainnya.
Menurut penulis, kunci untuk melalui crevasse dalam kehidupan adalah memiliki kekuatan, daya tahan, keterampilan dan tekad yang terintegrasi.
Hal lain yang saya garisbawahi adalah bagaimana penulis menjelaskan dua perbedaan tantangan yang dilalui generasinya dan generasi anak-anaknya. Di generasinya, tantangan besar yang menjadi salah satu faktor terjadinya crevasse dalam hidup adalah memenuhi konsep lapar yang ada masa tersebut.
Tapi pada dasarnya, lapar itu bisa diobati dengan memenuhi kebutuhan dasar. Dan hal ini bisa diatasi dengan baik seiring bertambahnya pendapatan.
Sedangkan di generasi masa kini, tantangan besar yang harus dilalui adalah mengatasi persoalan iri hati. Hal ini hanya bisa diselesaikan dengan mengendalikan konsumsi agar bisa melampaui nafsu tersebut.
"Untuk melampaui rasa iri hati, kamu harus mengembangkan kemampuan untuk mengontrol konsumsi. Dengan mengendalikan nafsu dan keinginan untuk konsumtif, kamu akan dapat menemukan kebahagiaan untuk diri sendiri di dunia kapitalisme ini." (Halaman 239)
Secara umum, buku ini cukup inspiratif. Ada banyak wawasan terkait hal-hal seputar penerapan dasar-dasar wawasan ekonomi yang penting untuk diketahui oleh semua orang.
Hanya saja, penulis memang kebanyakan mengangkat contoh tentang keadaan perekonomian orang Korea, dan hal itu barangkali tidak selalu relevan dengan kehidupan semua orang.
Terakhir, berikut ada sebuah nasihat menarik yang disampaikan oleh penulis yang semoga bisa menjadi pengingat bagi seluruh pembaca.
"Nak, ayah berharap kamu memiliki keberanian untuk keluar dari kerangka hidup yang diberikan masyarakat dan menjalani hidup dengan caramu sendiri. Pilih salah satu dari dua jalan ini. Berbekal logika hidup yang jelas dan milikmu sendiri, atau hidup dengan menerima kondisi yang ada sambil acuh terhadap dunia." (Halaman 236)
Nah, bagi Sobat Yoursay yang tertarik untuk membaca buku dengan tema keuangan, buku ini bisa menjadi bacaan yang cukup inspiratif. Selamat membaca!
Baca Juga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
-
Pahlawan Ekonomi Kreatif: Tetap Cuan Meski Tanpa Kerja Kantoran
-
Pecandu Buku, Gerak Laku Penuntut Ilmu: Literasi untuk Membangun Peradaban
Artikel Terkait
-
Purbaya Respons Konflik China-Taiwan, Ini Efeknya ke Ekonomi RI
-
Ulasan Buku The Soft Power of Madrasah: Potret Inspiratif yang Tak Berisik
-
Kontribusi Pasar Modal Indonesia Tertinggal dari Negara Tetangga, Apa Penyebabnya?
-
Beli Motor Scoopy DP Rp3 Jutaan, Angsurannya Berapa? Ini Simulasinya
-
Belajar Authenticity dari Prilly Latuconsina Lewat Buku Retak, Luruh, dan Kembali Utuh
Ulasan
-
Membaca Kilah: Saat Pelarian dari Realita Justru Menghancurkan Segalanya
-
Jalan Bandungan: Kritik Sosial Sastra Feminis Nh. Dini atas Orde Baru
-
Review Jujur Novel Resi Durna: Sang Guru yang Membiarkan Dirinya Dibenci
-
Ulasan Together: Film Horor yang Berani Menantang Batas Keintiman Manusia!
-
Kritik Ekologi dalam Fabel Camar dan Kucing Karya Luis Seplveda
Terkini
-
4 Parfum Sandalwood Lokal Pas Buat Ngantor, Wanginya Sopan di Ruang Ber-AC
-
Pocong yang Menggantung di Teras Rumah Mas Dandi Malam Itu....
-
Konten Edukasi Semakin Banyak, tetapi Mengapa Polarisasi Tetap Tinggi?
-
5 Fakta Menarik 'Spooky in Love', Ternyata Remake Film 'Spellbound'
-
Efek Doomscrolling: Kenapa Fokus Kita Kini Lebih Pendek dari Ikan Mas?