Di era serba cepat dan penuh distraksi seperti sekarang, kata “tulus” terasa makin langka. Banyak orang, terutama Gen Z, sering merasa ragu saat menerima kebaikan, perhatian, atau sikap manis dari orang lain.
Alih-alih merasa nyaman, justru muncul pertanyaan dalam hati, “Dia beneran tulus nggak, ya?” atau “Ada maunya nggak sih?”. Fenomena ini bukan tanpa alasan sebab keraguan terhadap ketulusan orang lain terbentuk dari pengalaman, lingkungan sosial, hingga cara kita bertahan secara emosional.
Dianggap dekat dengan realita Gen Z, lalu apa sih alasan yang melatarbelakangi seringnya meragukan ketulusan orang lain?
1. Terlalu Sering Ketemu yang “Baik Ada Maunya”
Salah satu penyebab utama orang jadi skeptis adalah pengalaman buruk di masa lalu. Banyak Gen Z tumbuh dengan pengalaman dikhianati, dimanfaatkan, atau didekati hanya saat orang lain butuh sesuatu.
Contohnya, ada teman yang tiba-tiba ramah karena mau pinjam uang, sikap gebetan yang manis tapi hilang setelah keinginannya tercapai, hingga relasi kerja yang baiknya hanya saat ada keuntungan.
Pengalaman seperti ini bikin otak otomatis pasang mode waspada. Akhirnya, saat ada orang baik tanpa alasan jelas, muncul alarm batin “Kok baik banget? Jangan-jangan ada maksud tersembunyi”.
2. Budaya Sosial Media Membuat Segalanya Terlihat Tidak Tulus
Gen Z hidup di tengah dunia yang penuh pencitraan. Media sosial sering menampilkan kebaikan sebagai konten di mana senua hal serba direkam dan dibagikan, membantu diviralkan, serta empati dikemas untuk engagement.
Tanpa sadar, kondisi ini membentuk pola pikir kalau kebaikan itu performatif. Akibatnya, banyak orang jadi sulit percaya masih ada ketulusan yang tidak dipamerkan.
Saat seseorang bersikap baik tanpa kamera, tanpa story, dan tanpa validasi publik, justru terasa “aneh” karena tidak sesuai dengan kebiasaan yang sering dilihat online.
3. Trauma Emosional Membuat Hati Lebih Protektif
Banyak Gen Z yang sudah cukup lelah secara emosional, entah karena pertemanan toksik, hubungan yang manipulatif, atau keluarga yang minim validasi. Dari situ muncul mekanisme bertahan berupa konsep meragukan sebelum berharap.
Meragukan ketulusan sering kali bukan karena sinis, tapi karena takut terluka lagi. Pikiran seperti “Kalau aku percaya, nanti sakit lagi” atau “Lebih baik curiga daripada kecewa” akhirnya bentuk perlindungan diri.
Sayangnya, mekanisme pertahanan diri ini juga bisa membuat seseorang sulit menerima hubungan yang sehat.
4. Overthinking Jadi Gaya Hidup
Gen Z dikenal reflektif dan sadar emosi, tapi juga rawan overthinking. Sikap orang lain yang memberi bantuan dianalisis terlalu dalam, mulai dari dugaan kasihan, alasan kesopanan semata, hingga rasa curiga kebutuhan simbiosis saja.
Padahal, tidak semua tindakan punya motif yang rumit. Namun, karena terbiasa berpikir mendalam, ketulusan pun jadi ikut dipertanyakan.
5. Standar Ketulusan Terlalu Tinggi
Tanpa disadari, banyak orang memiliki definisi ketulusan yang terlalu ideal. Bentuk ketulusan dianggap harus konsisten sempurna, tidak pernah berubah, tidak pernah kecewa, dan tidak pernah salah.
Padahal manusia tetap punya batas, emosi, dan kepentingan pribadi. Seseorang bisa tulus, tapi tetap capek. Bisa peduli, tapi juga menjaga diri. Ketika realita tidak sesuai ekspektasi ideal, muncullah kesimpulan kalau sebenarnya tidak benar-benar tulus.
6. Lingkungan yang Kompetitif Membentuk Rasa Curiga
Di dunia yang serba kompetitig, baik dalam hal akademik, karier, bahkan pertemanan, kebaikan sering dianggap sebagai strategi. Lingkungan seperti ini membentuk mindset kalau semua orang sedang “bermain peran” demi tujuan tertentu.
Gen Z yang hidup di tengah tekanan pencapaian akhirnya sulit membedakan mana empati murni dan mana kepentingan terselubung.
7. Takut Terlihat Naif atau Mudah Dibodohi
Banyak orang takut dicap “terlalu polos” atau “gampang percaya”. Akhirnya, mereka memilih bersikap skeptis karena dianggap lebih aman dan dewasa.
Meragukan ketulusan pun jadi cara untuk menjaga harga diri dan citra sebagai orang yang “nggak gampang dibohongi”. Padahal, percaya dengan batas sehat bukan berarti bodoh tapi tanda keberanian emosional.
Belajar Menyikapi Ketulusan dengan Lebih Seimbang
Meragukan ketulusan orang lain itu manusiawi, apalagi di dunia yang penuh manipulasi. Hanya saja, terlalu curiga juga bisa membuat kita kehilangan koneksi yang tulus dan hangat.
Mungkin yang perlu diubah bukan rasa waspada, tapi cara memaknainya. Ketulusan tidak selalu dramatis, tidak selalu sempurna, dan tidak selalu konsisten setiap waktu. Kadang ia muncul dalam bentuk sederhana berupa kehadiran saat dibutuhkan, tidak memaksa, dan tidak mengharapkan balasan.
Buat Gen Z, belajar percaya pelan-pelan sambil tetap menjaga batas adalah bentuk kedewasaan emosional. Karena pada akhirnya, hidup bukan cuma soal bertahan dari luka lama, tapi juga memberi ruang untuk pengalaman baik yang baru.
Baca Juga
-
Capek Hadapi Teman Pasif Agresif? Ini Cara Menghadapinya Tanpa Ikut Meledak
-
Post-Holiday Fatigue: Liburan Tak Selalu Menyembuhkan, Tetap Merasa Lelah
-
Tren Silent Rebellion di Dunia Kerja: Cara Gen Z Melawan Tanpa Ribut
-
Kaleidoskop Prestasi Bulutangkis Indonesia: 21 Gelar di BWF World Tour 2025
-
Lebih dari Sekadar Ambisi, Ini 5 Kunci Energi Batin untuk Sukses di 2026
Artikel Terkait
-
Pembayaran Digital Meningkat, Gen Z Mulai Pilih untuk Berbisnis
-
Tren Silent Rebellion di Dunia Kerja: Cara Gen Z Melawan Tanpa Ribut
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Tren Stay at Home Holiday: Kenapa Liburan di Rumah Jadi Pilihan Gen Z?
-
Generasi Z: Tanggung Jawab Etika Digital di Era Media Sosial dan Konten Viral
Kolom
-
Antara Sayang dan Sakit: Mengapa Orang Tetap Bertahan dalam Hubungan Toxic?
-
Capek Hadapi Teman Pasif Agresif? Ini Cara Menghadapinya Tanpa Ikut Meledak
-
Darurat Kebebasan! Ancaman Nyata Bagi Aktivis yang Berani Bersuara
-
Resmi Berlaku! Babak Baru Penegakan Hukum yang Menghantui Suara Kritis
-
Bos Lulusan SD, Pegawainya Sarjana: Benarkah Kuliah Percuma?