Sekar Anindyah Lamase | Yola widya
Warga terdampak banjir kini sudah dapat menggunakan akses jalan serta jembatan (Suara.com)
Yola widya

Seluruh Indonesia berduka ketika bencana melanda wilayah Sumatera. November 2025 adalah bulan penuh tangis serta duka bagi Aceh Tamiang, Agam, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Diperkirakan curah hujan tinggi dari November - Desember menjadi pemicu terjadinya banjir bandang di wilayah ini.

Secara garis besar ada beberapa faktor yang memicu terjadinya bencana di Sumatera pada November 2025, yaitu:

  1. Curah hujan tinggi dan intens
  2. Pengaruh dari siklon tropis
  3. Penebangan liar di hulu
  4. Struktur tanah yang mudah longsor ketika terkena air bervolume besar

Banjir dan longsor kali ini adalah yang terparah di Sumatera. Seorang warga terdampak di Tapanuli menyatakan selama 52 tahun dia tinggal di daerah ini belum pernah mengalami banjir dahsyat seperti kali ini. 

Bapak itu dengan suara pilu menunjuk lahan sawah yang kini berubah menjadi genangan lumpur. “Seharusnya di sana itu sawah-sawah. Sekarang hilang semua oleh banjir.” 

Duka Aceh Tamiang

Banjir November 2025 membuat Aceh lumpuh hingga ke dataran tinggi. Anto, seorang warga Desa Babo yang terletak di wilayah aliran sungai Tamiang bersaksi, bencana banjir kali ini dampaknya sangat dahsyat. 

Banjir bandang pernah terjadi tahun 2006 di Aceh Tamiang, tapi tidak mengakibatkan rumah-rumah rusak. Warga Desa Babo ini bercerita sambil memperlihatkan rumahnya yang hancur diterjang banjir dan kayu gelondongan. Lumpur tebal tampak menutupi jalanan dan sungai di sekelilingnya, membuat sulit dilalui.

Warga korban banjir terpaksa mengungsi ke dataran tinggi dengan berjalan kaki. Jalanan berlumpur dipijak hati-hati. Mereka terpeleset, terperosok, tapi mau tak mau harus tetap berjalan demi hunian yang aman.

Di perjalanan pengungsian banyak pelukan serta tangisan dari mereka yang terpisah akibat bencana banjir. Seorang warga bercerita menyelamatkan diri menggunakan ember secara bergantian dengan yang lain untuk menyeberang ke tempat yang lebih aman. Mereka bertahan hidup tanpa makan di bawah atap seadanya yang dibuat di atas tumpukan kayu gelondongan.

Warga terpaksa memasang serta tinggal di tenda sementara di pengungsian. Mereka tidak tahu sampai kapan bertahan karena belum ada bayangan akan membangun rumah dengan bahan darimana.

Pada awal pengungsian, bantuan logistik masih tersendat karena masalah akses jalan. Cahaya lampu juga sulit didapat karena banjir menghantam pula ratusan tiang listrik. Kondisi cuaca dengan curah hujan tinggi serta intens membuat banyak pengungsi jatuh sakit.

Seorang ibu di pengungsian menangis meminta bantuan untuk warga terdampak. Bahkan para pengungsi memanfaatkan air hujan untuk mendapatkan air bersih. Warga yang tinggal di hunian sementara terlihat sering menangis serta trauma.

Warga Butuh Akses Jalan

Pada akhirnya warga terpaksa turun kembali ke desa. Rumah-rumah yang selamat mulai dibersihkan. Warga mengambil air dari sumur. Airnya sama sekali tidak layak untuk diminum. Mereka berharap tempat tinggalnya dialihkan ke daerah yang tinggi untuk menghindari banjir. Warga juga mengharapkan hunian tetap sebagai pengganti rumahnya yang hancur dan hanyut.

Warga paham pemerintah akan bertahap melakukan pemulihan berbagai fasilitas yang hancur akibat banjir. Akses jalan menjadi faktor yang paling penting untuk kelancaran bantuan logistik bagi warga terdampak banjir.

Pada saat ini, warga desa yang terisolir karena terputusnya akses jalan dan jembatan harus mampu bertahan hidup dengan berbagai cara. Seperti yang terjadi di Ketol, Aceh Tengah, Khairunnisa terpaksa menyeberang sungai menggunakan tali sling sambil menggendong bayinya demi membeli berbagai kebutuhan.

Jembatan Berawang Gadjah putus akibat banjir bandang. Setiap hari warga menyeberang menggunakan tali sling untuk belanja kebutuhan hidup, berobat, dan menjual hasil tani. Tali sling yang digunakan merupakan swadaya warga bersama TNI dan Polri.

Di pesisir Sungai Tamiang, kayu gelondongan menumpuk dimana-mana. Seorang warga yang tetap bertahan di rumahnya meminta kayu-kayu yang berserakan di bantaran sungai dibersihkan agar ada jalan untuk dilewati.

Anak-anak tampak bermain di antara kayu tersebut tanpa memakai sandal. Mereka lapar, tapi tak punya cukup makanan. Kayu-kayu itu membahayakan warga yang beraktivitas. Mereka butuh akses jalan dan jembatan untuk berkegiatan secara normal dan aman.

Gerak Cepat Pemerintah Pulihkan Berbagai Fasilitas 

Pemerintah mengambil berbagai langkah cepat untuk memulihkan berbagai fasilitas, terutama akses jalan dan jembatan

  1. Pemerintah kebut pulihkan listrik di daerah bencana. Pemerintah melalui PLN menambah jaringan ke lokasi terdampak bencana, baik untuk hunian sementara maupun hunian tetap. Pemerintah juga telah berhasil memulihkan aliran listrik di Kabupaten Agam.
  2. Pemerintah pastikan semua akses jalan terdampak banjir pulih pada akhir Desember 2025. Saat ini 80 ruas jalan nasional di tiga provinsi telah berfungsi kembali. Dari 33 jembatan yang rusak, sekarang ini sebagian besar telah dapat digunakan. Pemerintah juga menyiapkan 32 jembatan Bailey di tiga provinsi untuk mempercepat pemulihan konektivitas. Kerjasama pemerintah dengan berbagai pihak ditujukan untuk percepatan pemulihan seluruh akses jalan dan jembatan, pemulihan aktivitas masyarakat, distribusi logistik, dan perekonomian daerah.
  3. Pemerintah menyediakan hunian tetap untuk warga terdampak. Rencana pembangunan 2600 unit hunian tetap bagi penyintas banjir dan longsor akan segera terealisasi. Huntap akan dibangun masing-masing 1000 di Aceh, 1000 di Sumatera Utara, dan 600 di Sumatera Barat.
  4. Gerak cepat pemerintah pulihkan berbagai fasilitas yang rusak telah berhasil membuka akses jalan dan pasokan listrik di 52 kabupaten/kota sejak akhir November 2025. Dampaknya, pasokan logistik tersalurkan dengan lancar dan cepat. Pasokan listrik, air bersih, hingga BBM mulai membaik, jaringan komunikasi juga mulai pulih di banyak titik.

Saat ini, berkat inovasi jembatan Bailey, Jembatan Teupin Mane Bireuen telah berfungsi kembali. Jembatan ini membuka akses jalan di ruas tengah antara Bireuen, Bener Meriah dan Takengon. 

Akses lintas timur Banda Aceh - Medan yang sempat lumpuh akibat banjir saat ini sudah teratasi. Jembatan Meureudu Pidi Jaya sudah dibuka dan dapat diakses kembali oleh masyarakat. 

Pulihnya akses jalan dan jembatan melancarkan penyaluran logistik, memudahkan aktivitas masyarakat, dan mempercepat pemulihan ekonomi daerah.

Gerak cepat pemerintah untuk Sumatera pulih telah membuka banyak harapan baru bagi warga terdampak banjir. 

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS