Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Ilustrasi mahasiswa. (Unsplash/leonjaywu)
Oktavia Ningrum

Di tengah gegap gempita wacana “kemajuan pendidikan tinggi”, maraknya kasus kecurangan skripsi justru menjadi ironi yang sulit disangkal. Setiap kali satu kasus terbongkar, entah plagiarisme massal, penggunaan joki, hingga penulisan skripsi berbasis AI. Reaksi publik kerap berhenti pada kecaman moral individual.

Mahasiswa disalahkan, dicap malas, dan tidak berintegritas. Namun jarang sekali kita berani bertanya lebih jauh. Mengapa praktik ini begitu subur, lintas kampus, lintas generasi, dan terus beregenerasi mengikuti zaman?

Jika kecurangan skripsi terus muncul dengan pola yang makin canggih, maka jelas ini bukan sekadar soal etika personal, melainkan gejala sistemik. Ada yang keliru dalam cara kita memaknai pendidikan, menilai kelulusan, dan memperlakukan skripsi bukan sebagai proses berpikir, melainkan sekadar rintangan administratif yang harus dilompati, apa pun caranya.

Bukan Sekadar Mahasiswa Nakal: Akar Kecurangan Skripsi di Pendidikan Tinggi

Skripsi idealnya menjadi puncak proses akademik: ruang pembuktian bahwa mahasiswa mampu berpikir kritis, meneliti secara jujur, dan menulis secara bertanggung jawab. Namun dalam praktiknya, skripsi juga kerap menjadi arena kecurangan yang berevolusi mengikuti zaman.

Polanya berubah, alatnya berganti, tetapi motifnya relatif sama: ingin cepat lulus dengan usaha seminimal mungkin. Jika ditarik ke belakang, kecurangan skripsi bisa dibaca sebagai cermin perkembangan teknologi sekaligus lemahnya budaya akademik.

Era Tradisional: Sebelum Internet (Sekitar 1980–1999)

Di masa ini, kecurangan bersifat manual dan membutuhkan tenaga ekstra. Salah satu praktik paling umum adalah menyalin skripsi senior. Caranya beragam: memfotokopi, mengetik ulang, bahkan menyobek halaman penting skripsi di perpustakaan agar tidak dibaca orang lain. Praktik ini bukan mitos, banyak mahasiswa era tersebut mendapati koleksi skripsi di perpustakaan dalam kondisi tidak utuh.

Selain itu, muncul jasa pengetikan skripsi “jadi”, yang pada praktiknya sering kali lebih dari sekadar mengetik, melainkan ikut menyusun isi. Kecurangan lain yang lazim adalah fabrikasi data: angket diisi sendiri, wawancara ditulis seolah-olah dilakukan, dan observasi lapangan hanya ada di atas kertas. Semua dilakukan manual, tanpa jejak digital, sehingga relatif sulit dideteksi.

Era Internet Awal (2000–2010)

Masuknya internet mengubah peta kecurangan secara drastis. Copy-paste dari blog, website, skripsi online, atau file PDF menjadi praktik masif. Muncul pula plagiarisme “patchwork”: menyatukan potongan dari berbagai sumber tanpa mencantumkan rujukan. Bahasa sering “dipoles” seadanya menggunakan Google Translate, menghasilkan tulisan kaku dan tidak alami.

Di era ini, joki skripsi mulai bertransformasi menjadi jasa profesional, meski masih bergerak tertutup. Manipulasi data pun beralih ke ranah digital, misalnya mengisi Google Form sendiri atau mengatur hasil survei. Menariknya, kecurangan era tradisional tidak hilang. Itu tetap hidup berdampingan dengan modus baru.

Era Turnitin dan Kewaspadaan Plagiarisme (2011–2020)

Ketika kampus mulai menggunakan perangkat pendeteksi plagiarisme seperti Turnitin, kecurangan tidak berhenti, tetapi beradaptasi. Parafrase asal-asalan menjadi strategi utama: kalimat diubah sekadarnya agar “aman persentase”, tanpa benar-benar memahami isi.

Manipulasi kutipan dan daftar pustaka juga marak. Referensi dicantumkan, tetapi tidak benar-benar dibaca. Di sisi lain, data statistik mulai direkayasa lebih rapi agar tampak ilmiah. Joki skripsi semakin profesional, menawarkan layanan “anti-Turnitin”, bahkan sampai jasa teknis seperti merapikan margin, tabel, dan format. Lagi-lagi, modus lama tetap bertahan.

Era Akal Imitasi / AI (2021–sekarang)

Kemunculan kecerdasan buatan membawa babak baru yang jauh lebih kompleks. Mahasiswa kini dapat menghasilkan Bab 1 sampai Bab 5 dalam hitungan menit, lalu menyalinnya mentah-mentah ke skripsi. AI juga digunakan untuk membuat data survei palsu, wawancara fiktif, hingga mengubah kalimat agar tidak terdeteksi Turnitin.

Yang paling mengkhawatirkan, jasa joki kini beroperasi terang-terangan di media sosial, lengkap dengan testimoni dan kolom komentar calon pembeli. Normalisasi kecurangan terjadi secara terbuka, seolah ini bukan lagi pelanggaran etika, melainkan “jalan pintas wajar”.

Masalah Sistemik, Bukan Sekadar Moral Individu 

Evolusi kecurangan skripsi menunjukkan bahwa masalahnya bukan semata pada teknologi, melainkan pada sistem pendidikan yang terlalu menekankan kelulusan, bukan proses.

Selama skripsi dipandang sebagai beban administratif, bukan latihan intelektual, kecurangan akan selalu menemukan bentuk baru. Teknologi bisa berubah, tetapi integritas akademik hanya bisa bertahan jika dijaga bersama. Oleh mahasiswa, dosen, dan institusi.