Novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah karya Tere Liye diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan tebal 517 halaman. Secara naratif, Tere Liye menulis dengan bahasa sederhana, mengalir, penuh dialog ringan, guyonan kecil, dan refleksi hidup yang membumi.
Novel ini tidak berat secara bahasa. Tentang takdir, rezeki, pertemuan, kehilangan, dan jodoh. Di tengah tren novel cinta yang penuh drama, posesif, cemburu, dan romantisasi konflik.
Novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah hadir sebagai antitesis: cinta yang tenang, cinta yang sabar, cinta yang tidak memaksa. Novel ini seolah ingin mengatakan bahwa cinta bukan soal kata-kata indah, melainkan perbuatan kecil yang konsisten.
Sinopsis Novel
Cerita berpusat pada Borno, seorang pemuda sederhana yang hidup di tepian Sungai Kapuas. Sejak kecil, hidupnya telah ditempa kehilangan: ayahnya meninggal saat Borno berusia 12 tahun karena tersengat ubur-ubur dan sempat mendonorkan jantungnya untuk orang lain.
Trauma, kemiskinan, dan tanggung jawab hidup membentuk karakter Borno sebagai sosok jujur, pekerja keras, dan rendah hati. Ia menjalani berbagai pekerjaan. Buruh pabrik karet, penjaga karcis, hingga akhirnya menjadi pengemudi sepit (perahu kayu penyeberangan sungai). Tanpa gengsi, tanpa keluhan, tanpa kelicikan.
Kejujuran Borno tergambar kuat saat ia memilih berhenti menjadi petugas karcis karena menolak praktik kecurangan rekan kerjanya, dan saat ia bersikeras mengembalikan angpau merah yang ia temukan di sepitnya.
Kesederhanaannya tampak dari kebiasaan kecil: mengantar makanan tetangga, membantu tanpa pamrih, dan hidup tanpa ambisi status sosial. Ia bukan pahlawan besar, ia manusia biasa yang lurus.
Dari sepucuk angpau merah itulah kisah cinta dimulai. Amplop merah itu milik Mei, seorang gadis keturunan Tionghoa yang magang sebagai guru SD di Pontianak. Mei digambarkan sebagai sosok “sendu menawan”, tenang, lembut, sederhana, dan hangat.
Hubungan mereka tidak penuh rayuan, juga tidak ada pertemuan spektakuler, melainkan dari kejujuran kecil dan kebetulan sederhana.
Borno jatuh cinta tanpa tahu nama. Ia hanya tahu kebiasaan Mei: datang ke dermaga pukul 7.15 pagi. Ia bahkan menghitung antrian sepit agar bisa mengangkut Mei sebagai penumpang. Cinta di novel ini tidak ekspresif, tetapi penuh gestur kecil: menunggu, berharap, gugup, salah tingkah, dan diam-diam memperhatikan.
Kelebihan dan Kekurangan
Keindahan novel ini justru terletak pada ketidakheroikan tokohnya. Borno tidak pandai merayu. Ia tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas. Ia sering salah paham. Ia pemalu. Dan justru karena itulah ceritanya terasa nyata. Ini bukan romansa idealistik, tapi romansa manusia biasa.
Kekuatan lain novel ini ada pada tokoh-tokoh pendukungnya: Pak Tua yang bijak sebagai figur penuntun moral, Bang Togar yang keras tapi tulus, Koh Acong, Cik Tulani, serta warga tepian Kapuas yang penuh warna.
Kisah-kisah kecil seperti cinta Bang Togar dan Kak Unai dari pedalaman Dayak, atau pasangan tuna netra Fulan–Fulani, memperkaya novel ini tanpa merusak alur utama. Cerita-cerita minor itu justru memperluas makna cinta: bahwa cinta bukan hanya milik tokoh utama, tapi hadir dalam berbagai bentuk kehidupan.
Bahwa cinta bukan tentang memiliki, tapi tentang menjaga. Bukan tentang menguasai, tapi tentang menghormati. Bukan tentang drama, tapi tentang kesetiaan dalam hal-hal sederhana.
Inilah romansa yang tidak membuat jantung berdegup karena konflik, tetapi menghangatkan hati karena ketulusan. Sebuah kisah cinta yang tidak mewah, tidak spektakuler, namun justru terasa paling dekat dengan kehidupan nyata.
Novel ini cocok untuk kamu yang suka alur slowburn. Dengan tebal lebih dari 500 halaman, novel ini tentu bukan bacaan bagi yang suka hal yang praktis.
Identitas Buku
- Judul: Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
- Penulis: Tere Liye
- Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: Januari 2012
- Tebal: 517 halaman
- ISBN : 978-979-22-7913-9
- Genre: Romance, Fiksi
Baca Juga
-
The Bitcoin Standard: Ketika Uang, Sejarah, dan Masa Depan Ekonomi
-
Ironi Sosial: Ketika Permasalahan Publik Terus Dinormalisasi dan Diabaikan
-
Ketika Takhta Goyah, Sistem Ikut Runtuh: Membaca Bedebah di Ujung Tanduk
-
Menggali Sejarah Reformasi Indonesia di Buku Detik-Detik yang Menentukan
-
Buku The Women: Perang, Trauma, dan Perempuan yang Dihapus dari Sejarah
Artikel Terkait
-
Anime The Villager of Level 999: Kala yang 'Lemah' Justru jadi yang Terkuat
-
Batas Tipis Kewarasan dalam Novel Perempuan di Dalam Piano
-
Di Antara Mantan dan Harapan Baru: Ulasan Novel Hospital Cafe
-
Membaca Pendosa yang Saleh: Saat Kesalehan Beradu dengan Hasrat Tabu
-
Novel Tentang Kamu: Manifestasi Kesabaran dan Keteguhan Hati
Ulasan
-
Sampaikanlah Walau Satu Konten, Kiat Menjadi Kreator Konten Profesional
-
Kawan Lama Ayahmu: Wajah Suram Australia di Era Kolonial
-
Review Anime Sakamoto De Suga: Konflik Berbeda di Setiap Episodenya
-
Drama China Everyone Loves Me: Saat Nyata dan Maya, Hatinya Berbalik Arah
-
The Bitcoin Standard: Ketika Uang, Sejarah, dan Masa Depan Ekonomi